HIGHLIGHT

Janda Kembang dari Palembang

17 Desember 2012 14:37:17 Dibaca :

Sebuah sore yang aku lupa hari apa. Sore yang berangin. Dusun Sembilang. Sebuah tempat yang jauh dari Palembang. Dusun yang berdiri sebelum terbentuknya Taman Nasional Sembilang. Pada salah satu sudutnya, aku melihat seseorang sedang memandang ke muara sungai. Sungai Sembilang yang bermuara ke laut Cina Selatan dan Selat Bangka.

Dari kejauhan bayangan seseorang itu terlihat bak sebuah siluet. Siluet yang entah kenapa manis juga ritmis di mataku. Siluet yang mau tak mau kupandangi lekat-lekat. Kukira, angin muara yang datang dari Laut Cina Selatan itu yang menggerakkan kepalaku untuk melihat pada pemandangan manis itu. Tak kunyana, seseorang itu berjalan ke arahku. Langkahnya  cepat. Sangat cepat hingga aku tersentak, dan ia telah begitu dekat. Bahu kami nyaris bertemu, kalau saja aku tak beringsut. Rupanya dia.

Namanya Rumi.  Baru sebulan dia tiba di dusun ini. Kulit putih bersih dengan lesung pipit. Wajah agak oval dengan mata bulat.  Perawakannya, tinggi tapi bukan kutilang. Sintal tapi tak terlalu sintal. Kami di dusun ini menyebut penampilan seperti itu "Semohay". Itu julukan yang diberikan para lelaki dusun ini pada perempuan yang bisa membuat kami berdecak dan sedikit ternganga.

Telah hampir sebulan Rumi menjadi bahan perbincangan warga Dusun ini. Bukan saja karena ia semohay itu. Tapi lebih karena ia janda. Janda Kembang dari Palembang. Para laki-laki memandangi dengan pandangan agak nakal. Sedangkan perempuan, pandangan mereka ganjil. Betapa curiganya mereka dengan Rumi.

Rumi tinggal di rumah Bu Imah, satu-satunya bidan di Dusun Sembilang. Tak jauh dari sekolahku. Suara angin telah menyebar bahwa Rumi baru bercerai dari suaminya. Entah karena alasan apa. Dengar-dengar sang suami telah berselingkuh dan Rumi tidak ikhlas hingga akhirnya menggugat cerai sang suami. Dengar-dengar lagi, Rumi tak lagi merasa betah tinggal di Palembang. Oleh sebab itu Rumi nekat ke Sembilang tinggal bersama bu Imah, bibinya itu.

Oh, rupanya Rumi masih berada di depanku. Tepat di depanku. Kelihatannya dia memang berniat menemuiku. Tengah aku bersiap menegurnya,

"Maaf, betulkah kakak ini Pak Rusli?",  dia bertanya sambil menyebut namaku

Aku mengangguk

"Maaf, betulkah besok pagi kakak akan ke Palembang?"

Aku mengangguk lagi

"Maaf, bisakah saya minta tolong sesuatu..?"

Sebelum dia minta maaf lagi, aku mulai memberanikan diri berkata padanya,

"Kalau bisa, tentu kubantu. Apakah itu..?"

Tangannya menunjuk benda yang terletak di sebelah kiri warung dimana kami berdiri,

"Saya menitip kotak itu. Seseorang akan menemui kakak di Benteng Kuto Besak dan mengambilnya"

"Apakah isinya?" tanyaku

"Barang dagangan saya. Aneka kerupuk udang dan ikan, juga tekwan kering"

Aku tertegun. Oh, dia menjadikan aku kurirnya...? Sebelum aku sempat berkata dalam hati lagi, dia cepat-cepat berkata,

"Saya akan bayar 5 persen dari nilai dagangan saya. Tentu saja kalau kakak tidak keberatan..."

Bagaimana aku bisa menolak permintaan wanita semohay seperti dia. He, tidak kukira meski dia nenek-nenekpun pasti akan kubantu. Aku pantang menolak permintaan tolong seorang perempuan, selama permintaannya tidak janggal. Beginilah resikoku sejak sekolah tempat aku megajar memiliki alat transportasi speedboat dari Kementerian Pendidikan. Sejak kuajukan dan kuurus ke Dinas Pendidikan Provinsi, telah 2 tahun sekolah kami memiliki speedboat.

Sejak sore itu, Rumi telah menjadi pelanggan setia pengiriman barang dagangannya ke Palembang. Hampir dua minggu sekali aku ke Palembang. Setiap hari Sabtu minggu pertama dan ketiga aku meninggalkan Dusun Sembilang dan kembali hari Senin pagi. Menengok ayah, ibu dan saudara-saudaraku di Palembang. Sudah 7 tahun aku bertugas di Dusun ini. Bila kawan-kawanku hampir semuanya telah mengurus mutasi ke Palembang atau ke tempat lain yang dekat kota, tidak denganku.

Waktu berputar  begitu cepat. Seperti sehentakkan angin dan gelombang yang bertiup di Dusun Sembilang. Tanpa kusadari orang-orang di  Dusun Sembilang ini telah menyebut aku dan Rumi sebagai sepasang kekasih. Desas-desus yang ditanggapi warga dengan berbagai cara. Para perempuan di dusun ini terlihat menarik nafas lega. Menurut mereka karena Rumi telah punya kekasih, yaitu aku, maka amanlah suami-suami mereka, hehe. Para laki-laki, ah kudengar ada beberapa dari mereka berencana membeli speedboat sendiri. Mungkin supaya Rumi beralih menitip barang dagangannya ke mereka, hahaha. Sudahlah. Terserah mereka saja.

Buatku, tak ada ruginya menjadi sahabat atau kekasih Rumi.  Oh, plak, aku tersentak.  Bukankah aku belum pernah menyatakan perasaanku pada Rumi. Padahal, bukankah aku mulai suka padanya? Tentu saja. Dia baik. Semohay. Dia perempuan ramah tapi tegas yang aku suka. Lalu kenapa belum kunyatakan perasaanku? Setiap kali ingin kukatakan, lidahku kelu. Sebab... Rumi pernah berkata bahwa dia tak ingin dulu memikirkan cinta. Kegagalan membuat Rumi Jera. Ahhhhhhh.

Desas-desus bahwa aku menjalin hubungan kekasih dengan Rumi ternyata sampai pada keluargaku.  Gegerlah mereka. Rupanya kabar burung bahwa aku telah berpacaran dengan Janda Kembang dari palembang itu cepat sekali tiba pada keluargaku. Kukira, pastilah angin Laut Cina Selatan itu yang membawanya. Melintas di sepanjang aliran Sungai Musi. Sampai di Benteng Kuto Besak. Lalu angin Benteng Kuto Besak mebawanya ke keluargaku. Habislah aku.

"Oi Rusli jauh-jauh kau kuliah ke Semarang, sekarang memacari janda kembang.." suara bapakku meninggi.

Mona, kakak perempuanku, senyum-senyum memandangiku. Senyumnya ganjil

Aku Diam. Ibu memandangiku dengan seksama. Mungkin dia tau apa yang bergolak di dadaku. Maka pada sore hari minggu keesokkan harinya aku dan ibu berbincang-bincang. Perbincangan hati ke hati ibu dan anak

"Kau suka padanya Rusli ?"

Aku mengangguk

"Menurutmu, apa dia cocok jadi istrimu..?

Aku diam. Tiba-tiba aku ingat bahwa sejak pertama aku melihat Rumi, aku melihat siluet manis dan ritmis itu. Setiap kali aku berada di dekatnya aku merasa ada aliran energi begitu kuat. Seperti ada angin yang meniup wajahku dan berkata bahwa aku dan Rumi akan saling membantu dan saling menguatkan. Mengingat itu, membuatku cepat-cepat menganggukkan kepala.

Kulihat ibuku menghembuskan nafas. Dari sudut matanya aku melihat bahwa ia merasa lega. Kukira, karena ia mengenalku sejak dalam rahimnya. Tentulah dia tau bagaimana aku berpikir. Bagaimana aku menilai  sesuatu. Termasuk, bagaimana aku memilih calon istri yang akan menjadi menantunya.  Bagiku tak lagi zamannya menilai rendah janda, kecuali kita hidup di zaman yang batu yang tak bergerak. Tak masalah dengan kejandaanya, asalkan dia perempuan baik-baik dan aku suka padanya.  Kelihatannya ibuku paham.

Begitu perbincangan kami usai, ada yang berdenting di dadaku. Rasanya aku mantap sekali akan menyunting Rumi. Dan betapa lamanya hari berganti. Rasanya aku ingin sore cepat menjadi malam dan malam berganti pagi hingga aku bisa segera pulang ke Sembilang dan menemui Rumiku. Menyatakan cinta dan melamarnya. Apapun jawabannya. Diterima atau ditolak. Pokoknya akan kukatakan dengan seluruh jiwaku.

Bagaimana bila Rumi masih trauma. Bagimana jika ia menolak ? Bagaimana jika benar-benar ditolak? Tak bisa kubayangkan. Mungkin aku akan hengkang dari Dusun Sembilang. Mengikuti jejak teman-temanku mutasi ke tempat lain. Tak sanggup rasanya aku hidup di disana jika cintaku ditolak janda kembangitu. Aku pulang ke Palembang meninggalkan angin dan  gelombang Sembilang.  Bisakah kau bayangkan?

Begitulah. Tiba-tiba terdengar suara,

"Kak..."

Pikiranku masih di awan

"Kak...", suara itu terdengar lagi

Tak lama sebuah lengan melingkar di bahuku, dan kudengar lagi suara itu,

"Kakak melamun sejak tadi. Itu kopinya sudah mulai dingin.."

Suara seseorang yang sangat kukenal. Tentu saja, dia Rumiku. Perempuan yang sejak dua tahun lalu menjadi istriku. Lima bulan sejak kunyatakan cintaku, kami menikah. Tentu dengan perjuangan panjang aku dan Rumi. Aku berjuang meyakinkan bapak dibantu ibuku. Sedang Rumi, ia berjuang meyakinkan dirinya, mengenyahkan traumanya pada kegagalan dulu.

Ya, aku, guru Rusli akhirnya menyunting Rumi Janda Kembang dari Palembang itu. Kini, putri kami telah berusia 9 bulan. Kaki mungilnya sesekali kupijakkan ke tanah Dusun Sembilang dimana kami akhirnya menetap. Aku terus mengajar. Sedang Rumi, terus berdagang. Bulan depan kami membuka toko aneka kerupuk dan tekwan kering  tepat di Pasar 16 Palembang yang akan diurus Mona Kakakku.  Karena kekurangan guru, Rumi juga menjadi  guru bantu di sekolahku. Pengalamannya pernah kuliah pada jurusan Ilmu Lingkungan membuatku memintanya untuk mengajar biologi. Bersama Rumi, aku mengajak anak-anak Dusun Sembilang untuk menjaga dan memelihara Mangrove mereka.

Betapa hidup adalah misteri. Semua peristiwa telah ada tautannya meski kita manusia tak paham. Lihatlah, tidak sia-sia Dusun Sembilang kedatangan Rumi hampir tiga tahun yang lalu. Kukira tidak saja untuk anak-anak Dusun Sembilang, lebih karena Tuhan ingin mempertemukan aku dengan jodohku.  Ya, Rumi, janda kembang dari Palembang itu.

Elly Suryani

/ellysuryani

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Perempuan yang senang menuliskan pengembaraan jiwanya.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?