HIGHLIGHT

Efek 'Melek' Teknologi Terlalu Dini

10 Agustus 2012 01:49:19 Dibaca :
Efek 'Melek' Teknologi Terlalu Dini





"Mbak, keponakanku yang masih kelas 5 SD sudah punya pacar loh!" Ujar rekan saya (sebutlah namanya Angel) kemarin. Saya sempat terbengong-bengong mendengarnya. "Koq bisa?" tanya saya dengan wajah cupu. "Ya begitulah anak jaman sekarang, biarpun masih kecil udah yayang-yayangan. Lihat nih status di BB nya: Wajah Aryo mengalihkan duniaku!" Lanjut Angel lagi dengan wajah sumringah.


Menurut Angel keponakannya itu selalu menuliskan status-status cinta di Facebook layaknya ABG yang sedang kasmaran. Melihat itu Angel dan keluarganya justru menilai hal itu sebagai bentuk ekspresi spontan dan bentuk kelucuan anak yang bau kencur ketika mengenal cinta monyet.


Antara kaget, bingung dan miris saya mendengar penuturan Angel. Ternyata putri Angel yang berusia 10 tahun pun sudah memiliki smartphone. Angel berpendapat hal itu sudah menjadi hal yang lumrah di jaman serba digital ini. Saat anak menuntut dibelikan gadget, Angel malah bangga bisa membelikannya. Dengan demikian anaknya bisa eksis di media sosial.


Ternyata jaman memang sudah begitu drastis berubah. Dahulu saat masih ABG, saya mulai berani menyukai lawan jenis ketika duduk di kelas 2 SMK. Itupun masih malu-malu. Namun kini, cinta monyet anak SD pun sudah dianggap menjadi pemandangan yang wajar. Bila kenyataan yang terjadi seperti ini, salah siapa? Inikah bukti perkembangan globalisasi yang tak terbendung menghantam kehidupan kita?


Apa yang dilakukan Angel dan orang tua lainnya yang membekali putra putri mereka dengan gadget, memang sepenuhnya adalah hak mereka. Apalagi mereka yang memiliki uang berlebih, tentulah bukan masalah besar saat anak merengek minta dibelikan gadget. Namun alangkah baiknya jika kita orang tua mempertimbangkan plus minusnya dan memikirkan dampak akibat penggunaan gadget terlalu dini bagi kehidupan anak.


Memang tiada salah bila seseorang mengenal cinta. Cinta tak mengenal usia dan kasta. Namun untuk ukuran anak usia 10 tahun, saya menganggap terlalu dini mengenal cinta. Namun jangan salahkan si anak jika mereka 'dewasa' sebelum waktunya. Tentu ada penyebab mereka bisa dengan mudah terhubung dan mengenal lawan jenis, salah satu medianya adalah GADGET!


Kehadiran gadget dalam kehidupan anak menjadikan mereka mudah sekali terhubung dengan siapapun. Anak dibiarkan eksis di media sosial dan aktif ber-BBM ria dengan teman-temannya. Mereka pun tak malu-malu mengungkapkan rasa cinta yang belum saatnya. Apabila orang tua terlalu cuek akan hal ini dan tidak memfilter pertemanan anak dengan orang lain, akibatnya bisa akan sangat fatal!


Sudah begitu banyak cybercrime (kejahatan dunia maya) di mana anak-anak lah paling rentan menjadi korban. Tentu kita sering mendengar penculikan anak di bawah umur oleh temannya yang dikenal lewat Facebook. Belum lagi soal bullying yang terjadi pada anak saat mereka eksis di media sosial.


Dengan banyaknya kejadian tersebut, apakah kita sebagai orang tua masih menutup mata dan lebih mengedepankan rasa bangga karena anak 'melek' teknologi sejak kecil? Orang tua jelas-jelas tahu bahwa anak yang belum mencapai usia 13 tahun belum boleh memiliki akun jejaring sosial. Namun banyak orang tua yang justru memfasilitasi anak dengan gadget canggih plus membuatkan akun untuk anak agar mereka bisa eksis di dunia maya.


Bila kita sayang dan peduli kepada buah hati kita, alangkah baiknya jika kita tidak serta merta selalu menuruti apa kemauan anak. Bila sesuatu hal yang diminta anak akan berdampak buruk dalam kehidupannya, tak perlu ragu mengatakan TIDAK! Tidak memberi bukan berarti tidak sayang. Hal itu justru demi kebaikan mereka.


Putra saya, Danish (8) beberapa hari lalu sempat merajuk minta diberikan ponsel jadul milik ayahnya, namun saya larang. Danish bertanya, mengapa ia belum boleh memiliki ponsel? Saya katakan pada Danish bahwa untuk anak seusianya belum tepat untuk memiliki ponsel. Selain itu sekolahnya juga dekat dari rumah. Bila ingin menghubungi saya, ia bisa meminta bantuan walikelasnya


Sekalipun alasan Danish ingin punya ponsel hanya untuk bermain game, saya katakan bahwa untuk game, ia sudah puas dengan PS dan internet yang kami sediakan di rumah. Ternyata Danish bisa memahami alasan saya. Ia tak lagi merengek minta ponsel.


Saya baru akan mengizinkan ia memiliki ponsel saat ia memasuki bangku SMP nanti. Itupun hanya ponsel biasa tanpa fitur canggih. Danish sempat protes juga, "koq cuma hape jadul sih, Mah? Aku mau hape yang ada kamera dan videonya dong!". Lagi-lagi saya tegaskan padanya bahwa fitur-fitur itu belum terlalu dibutuhkan Danish. Guna ponsel itu tidak lain adalah untuk berkomunikasi, menelpon dan SMS. Kalau mau foto-foto, gunakan saja kamera digital.


Mendengar jawaban saya itu, Danish tak lagi protes. Saya tahu, jawaban saya tidak cukup memuaskannya. Tapi cukuplah buat saya untuk berusaha memberi pemahaman padanya bahwa kehadiran ponsel untuk anak seusianya belum tepat waktunya.


Untuk apa merasa malu karena tidak membekali anak ponsel atau gadget di jaman yang serba digital ini. Bagi saya, membiarkan anak 'melek' teknologi terlalu dini justru akan berdampak tidak baik dalam kehidupan pergaulan mereka. Toh selama ini kita sudah mengizinkan mereka sebatas mengenal internet.


Kenyataan yang terjadi saat ini banyak orang tua yang ingin agar anak mereka tidak 'gaptek' dan tak mau dibilang kuper atau 'gak gaul kalau tidak pakai gadget. Namun apakah kita rela dan membiarkan anak yang masih di bawah umur 'berkeliaran' di dunia maya tanpa terkendali dan mengenal banyak orang 'asing' tanpa sepengetahuan orang tuanya. Hal itu besar kemungkinan terjadi karena orang tuanya lah yang justru memfasilitasi mereka berupa gadget dengan fitur canggih.


Waspada jauh lebih baik daripada menyesali jika sesuatu yang buruk terjadi pada anak. Kalau bukan kita yang melindungi pergaulan anak sejak dini, siapa lagi?!



****


1344564571528129978

Ella Zulaeha

/ella_zulaeha

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Pages FB : Bursa Tas Branded Batam
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?