Perjuangan Mewujudkan Impian

07 Mei 2012 18:44:59 Dibaca :


Menulis, dulu yang aku tahu hanya menulis catatan sekolah dan sebagainya. Tapi kegemaranku membaca buku di perpustakaan sekolah dan majalah bobo, serta menonton televisi membuat imajinasiku berkembang bebas. Saat kelas lima, aku menghadiahi teman sebangkuku sebuah buku tulis yang kuisi dengan ceritaku sendiri. Tentang seorang putri dan pangeran yang mempunyai anak kembar dan hidup terpisah. Sampai disitu aku belum mengetahui bahwa aku memiliki bakat untuk menulis, aku hanya merasa bahwa banyak cerita yang berputar di kepalaku, yang akan kurangkai setiap malam untuk mengantarku tidur, karena ibu tak lagi mampu bercerita untukku, sebab adikku sudah mulai banyak.


Menjelang akhir kelas enam, guru bahasa Indonesia memberi tugas untuk UAS dengan menulis sebuah cerpen. Dengan semangat aku mengerjakan tugas itu, kutulis sebuah cerita tentang perjuangan gadis kecil piatu yang menghadapi hidup sulit bersama ayah kandungnya. Cerita itu kutulis di halaman belakang buku catatan bahasa indonesiaku. Tapi ternyata, hanya aku yang mengerjakan tugas itu. Teman-teman lain tak ada yang menyerahkan tugas, sehingga guru bahasa indonesiaku pun membatalkan tugas itu dan memberi tugas lain. Tentu saja aku kecewa, tapi aku tetap menyerahkan hasil tulisanku pada Bu Guru. Dia memujiku dan menyarankan untuk mengirim tulisanku ke majalah. Tapi aku merasa bahwa apa yang ia katakan merupakan sesuatu yang tidak mungkin, bagi gadis kecil di kampung terpencil sepertiku.


Namun, tak urung ucapan guruku itu membuatku terpacu dan menyadari bahwa aku memiliki bakat di bidang tulis menulis. Maka ketika aku menginjakkan kaki di jenjang MTs ( setingkat SMP), aku mulai menyisihkan uang jajanku setiap hari untuk membeli buku tulis seharga Rp.500 setebal 50 halaman, dan pulpen dengan harga yang sama untuk menyalurkan hobi menulisku. Jika beruntung aku bisa membeli buku yang lebih mahal kisaran Rp.1000-Rp.1500 dan lebih tebal. Masa-masa MTs adalah masa dimana aku sangat produktif menulis, bahkan aku menargetkan tiada hari tanpa menulis meski hanya satu paragraph setiap harinya.


Karena bosan menulis satu novel silat yang tak kunjung selesai (bahkan sampai sekarang) sebab ide cerita yang terus berkembang, aku mengalihkan perhatian pada genre tennlit dan drama. Awalnya aku berjanji pada diriku sendiri hanya menulis satu buku saja untuk cerita kontemporer itu, dan kembali fokus pada novel silatku. Tapi ternyata aku ketagihan menulis kisah drama dan teenlit, akhirnya aku pun membagi fokus pada novel silatku dan kumpulan cerpen. Bahkan kemudian berkembang menjadi novel drama karena menghabiskan lebih dari satu buku tulis yang tebalnya 100 halaman.


Apa respon keluargaku dengan kebiasaanku menulis berjam-jam sambil tengkurap(posisi favoritku)? Ibu hanya diam saja, kakak-kakakku banyak mencela. Kata mereka menulis itu tak ada gunanya, tak ada harapan di masa depan. Bapakku bahkan sering memarahiku, dia bilang lebih baik bantu ibu di dapur daripada menghabiskan waktu melakukan pekerjaan yang sia-sia (menulis). Tapi tentu saja, keluargaku tahu persis bahwa aku takkan bisa dicegah melakukan apa yang aku suka, apalagi aku selalu mengusahakan sendiri jika menginginkan sesuatu. Maka mereka tak ada pilihan lain selain membiarkanku terus menulis meski saat itu aku sendiri tak pernah terpikir sama sekali untuk mempublikasikan karya-karyaku.


Kemudian aku mulai menyebarkan hasil tulisanku pada temen-teman di sekolah, dan semuanya mengaku kagum dengan cerita-cerita yang kutulis dan selalu menunggu kapan aku menulis cerita baru. Sayangnya hal itu dimanfaatkan oleh salah seorang temanku untuk menipuku, dia mengaku punya paman yang bisa membantuku mengirimkan karya-karyaku ke penerbit. Aku yang saat itu masih polos langsung mempercayakan semua karyaku padanya untuk dia bawa pulang. Setiap hari aku bertanya bagaimana perkembangan karyaku yang katanya akan di terbitkan, dia selalu mengatakan yang manis-manis padaku. Tapi kemudian ia meminta sejumlah uang padaku yang katanya dibutuhkan untuk biaya pengiriman karyaku ke penerbit. Sungguh, jika mengingatnya aku merasa bodoh sekali. Aku begitu saja percaya padanya, dan menyerahkan uang yang ia minta. Bagaimana aku bisa percaya dia punya akses untuk menerbitkan karyaku jika kami tinggal di kampung yang sama dan kondisi keluarganya tidak jauh lebih baik dariku? Hingga ketika aku sadar bahwa aku telah ditipu, aku minta semua karyaku di kembalikan juga uang yang telah dia terima dariku. Jika tidak aku akan mendatangi ibunya dan menagih pada orangtuanya, dia ketakutan belangnya ketahuan maka ia pun mengembalikan semua hakku.


Kejadian itu membuatku lebih berhati-hati untuk memeprcayakan karyaku pada orang lain. Dan aku tetap menulis hingga lulus MTs meski tak pernah terpublikasikan. Pada masa itu aku selalu mengagumi puisi-puisi yang ditulis kakakku di buku tulisnya sampai penuh. Dan dari tulisan-tulisannya aku mulai belajar merangkai kata menjadi puisi. Meski aku akui aku lebih mampu menulis dalam bentuk prosa ketimbang puisi. Dan ketika aku masuk MAN (setingkat SMA), aku jatuh cinta pada salah satu kakak kelasku (ehm) yang membuatku seketika menjadi seorang pujangga. Kerjaannya bikin puisi buat si kakak kelas, gak di sekolah gak di rumah selalu nulis puisi tentang dia. Meski akhirnya cintaku ditolak,(duh sedih..T_T ) tapi perkenalanku dengannya membuatku menjadi pintar membuat puisi.


Menjelang akhir tahun pertamaku di kelas satu, aku bergabung jadi wartawan junior di harian lokal yaitu Radar Cirebon. Disanalah aku menyadari, bahwa passionku benar-benar dengan segala hal yang berbau menulis, termasuk menjadi jurnalis. Aku begitu menyukai kesibukanku menjadi wartawan junior, bahkan aku tak peduli tiap hari selasa dan sabtu harus keluar ongkos lebih untuk pergi ke kantor yang jaraknya jauh dari rumahku. Bahkan honor yang kuterima tiap bulan kurang dari mencukupi untuk mengganti ongkos yang kukeluarkan selama satu bulan. Namun aku menikmati semua itu, proses meliput berita sekolah, wawancara artis yang datang ke Cirebon, dan juga menghabiskan waktu berjam-jam di kantor menulis laporan. Namun kesenangan itu hanya berlangsung selama tiga bulan, karena ayahku menyuruh berhenti dari aktivitas menjadi wartawan. Ayah tidak suka melihatku sering pulang malam karena meliput berita, juga takut pekerjaan itu mengganggu prestasi belajarku. Bahkan ayah mengancam akan menghentikan dana pendidikanku jika tak mau berhenti jadi wartawan. Dengan amat berat aku memenuhi perintah ayahku, dengan harapan mendapat berkah karena menuruti omongan orangtua.


Semenjak itu aku merasa kehilangan separuh hidupku, rasanya jauh lebih hampa dibandingkan ketika cintaku di tolak kakak kelas. Selama beberapa bulan aku menjadi pemurung dan pendiam, melihat dengan iri teman-teman yang masih berkesempatan menjadi jurnalis junior itu. Beruntung aku memiliki sahabat-sahabat baik yang selalu menghiburku dan membantuku bangkit dari keterpurukan itu. Menginjak kelas 2 Aliyah, aku diangkat sebagai ketua Mading dan Buletin sekolah. Maka disanalah aku melampiaskan dendam atas sakit hatiku keluar dari Radar Cirebon. Apapun kulakukan untuk menghidupkan Ekskul yang mati suri tersebut, pulang telat setiap hari, mengunjungi semua kelas untuk mengumpulkan anggota saat rapat diadakan. Kugunakan pengalamanku selama tiga bulan di Radar Cirebon untuk memberikan nafas baru pada Buletin dan para anggotanya karena kebetulan teman-teman seangkatan belum ada yang punya pengalaman sepertiku, juga anggota baru dari kelas satu.


Alhamdulillah, Allah memberiku bonus atas kerja kerasku. Dalam kurun waktu 3 bulan, kami menjuarai lomba mading tingkat kabupaten serta membawa pulang piala juara tiga dan dua. Bahkan Pembina ekskul pun merasa bangga pada kami, sebab prestasi ini merupakan yang pertama kalinya terjadi sejak ekskul itu berdiri.


Waktu terus berlalu, dan aku telah menjalani tahun terakhirku di MAN. Temanku yang bernama Dj memiliki kakak mantan wartawan, Dj sering cerita pada kakaknya kalau aku suka menulis. Dia menawariku untuk membantu mengirimkan karyaku ke penerbit. Karena Dj merupakan sahabat dekatku, maka aku mempercayakan semua karyaku pada kakaknya. Apalagi aku melihat sendiri kakak Dj memindahkan semua tulisan tanganku ke komputer yang ada di rumahnya, kemudian mengeprintnya untuk dikirimkan ke penerbit. Namun, suatu hari. Aku terbelalak melihat sebuah cerpen yang kukenali sebagai cerpen yang kutulis 6 tahun sebelumnya termuat di sebuah tabloid dimana pemimpin redaksinya adalah teman kakak Dj. Yang lebih menohok hatiku, nama penulis yang tercantum disitu bukan namaku, tapi nama kakaknya Dj. Aku sangat terpukul saat itu. Dan tak tahu harus berbuat apa selain menangis.


Dj sendiri yang mengetahui hal itu marah pada kakaknya, kakak Dj memberi alasan kalau semua itu terjadi atas ketidaksengajaan. Karena temannya begitu saja masuk ke kamarnya dan melihat file cerpen di komputernya kemudian memilih cerpenku untuk dimuat tanpa dilihat dahulu oleh kakaknya Dj. Entah apa yang ia katakan benar atau tidak, tapi aku sudah tak mampu lagi percaya padanya. Aku ingin menuntutnya ke pengadilan, namun mengingat dia merupakan kakak dari sahabat baikku maka aku pun hanya meminta pertanggungjawabannya dengan membuat edisi ralat di tabloid yang bersangkutan bahwa cerpen itu bukan karyanya melainkan karyaku.


Setelah itu, kuminta kembali semua karyaku yang ada padanya. Dan semua file tulisanku di komputernya di hapus semua. Sampai sekarang jika aku bertemu dengannya peristiwa menyakitkan itu selalu terbayang. Dan aku mengatakan tegas pada Dj, jika suatu hari aku menemukan sebuah novel yang cerita, alur,tokoh dan semua unsurnya sama persis dengan yang pernah aku tulis, namun nama yang tercantum sebagai penulisnya bukan namaku. Maka aku takkan segan menuntutnya ke pihak yang berwenang.


Sejak itu, aku tak mau lagi percaya dengan orang yang berkata mau membantuku menerbitkan karyaku. Biarlah semuanya kuusahakan sendiri, daripada peristiwa saat MTs dan MAN itu terulang kembali. Bukan aku berprasangka buruk pada orang lain, tapi dua kejadian itu membuatku bertekad bahwa aku takkan pernah menggunakan perantara lagi untuk membuat tulisanku di baca banyak orang.


Dan disinilah aku sekarang, di ibukota Negara Indonesia. Aku tak pernah berhenti berjuang mewujudkan mimpiku, yakni agar tulisankud dibaca orang banyak. Berbagai lomba di dunia maya aku ikuti, Alhamdulillah belum pernah ada yang menang. :D. Tahun lalu aku dinyatakan sebagai nominasi sebuah lomba novelette, dan akan diterbitkan sebagai buku. Namun, ketika buku itu terbit tulisanku ternyata tak jadi dimuat. Huft, tak terkatakan betapa kecewanya aku. Tapi aku tak mau berlama-lama terpuruk, masih banyak kesempatan yang dapat aku pergunakan, masih banyak cara yang bisa aku lakukan untuk mewujudkan impianku.


Aku aktif di berbagai grup kepenulisan di facebook dimana aku bertemu orang-orang hebat yang membuatku terus bersemangat untuk mewujudkan impianku. Aku juga terus berusaha menyelesaikan novelku di sela-sela tugas kuliah yang menumpuk. Semoga kelak salah satu ‘anak’ yang lahir dari rahim imajinasiku akhirnya bisa di kenal dunia. Itu saja mimpiku.



Itulah kisahku, aku masih tetap percaya pepatah bahwa dalam sebuah kesuksesan 1% bakat dan 99% usaha. Maka aku takkan pernah berhenti berusaha. Terimakasih telah berkenan menyimak kisahku. Seperti baca novel ya? Hehe. Tapi aku yakin, masih banyak penulis lain yang memiliki kisah perjuangan jauh lebih berat dan melelahkan dibanding kisahku, dengan pengalaman-pengalaman luar biasa yang mereka alami dalam usahanya meraih mimpi. Mungkin aku hanya anak kemarin sore yang belum tahu apa-apa tentang dunia penerbitan, tapi aku takkan pernah lelah belajar dan terus belajar mengerti semua yang diperlukan untuk mewujudkan mimpiku. Karena aku hidup untuk mimpi, dan dengan mimpi itulah aku hidup.

El Fietry Jamilatul Insan

/el.fietrynotes

TERVERIFIKASI (HIJAU)

aku seorang perempuan, yang bangga menjadi perempuan, dan selalu menyediakan ruang cinta untuk perempuan, meski aku bukan lesbian :)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?