Mohon tunggu...
Edy Supriatna Syafei
Edy Supriatna Syafei Mohon Tunggu... Jurnalis - Penulis

Tukang Tulis

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ucapan Ustaz Abdul Somad Menuai Masalah Bagai "Bola Salju"

20 Agustus 2019   06:30 Diperbarui: 20 Agustus 2019   06:41 2474
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ustaz Abdul Somad. Foto | Islami.co

Sangat mengganggu. Mau shalat lima waktu, bayangan wajah Ustaz Abdul Samad - biasa disebut UAS - muncul. Mau tidur, eh ingat juga wajah sang ustaz ini. Padahal saya tak pernah bertegur sapa, cuma melihat wajahnya lewat televisi ketika tengah memberi tausiyah.

Kok diri ini jadi terbayang melulu wajah sang ustaz kondang ini. Lantas, penulis membandingkan diri ini ketika jatuh cinta dengan mantan pacar yang kini jadi isteri setia. Rasanya, kok tidak seperti itu. Bayangan UAS demikian melekat di benak penulis.

Terlebih kala namanya disebut-sebut media sosial terkait ucapannya bernuansa SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan) dan disebut-sebut sang ustaz tak memahami perasaan sesama saudara. UAS telah menghina penganut agama samawi lainnya, Kristen.

Oh, Pak Ustaz yang saya hormati.

Kini makin kuat ingin berjumpa dengan UAS. Ada apa sih, sehingga kini warga di seantaro jagat membicarakan dirinya? Makin khawatir pula masalah yang membelitnya kini bagai "bola salju" menggelinding di rumput hijau makin membesar.

Andai saja bola yang tengah dipermainkan tim nasional menghadapi kesebelasan asing, kita sering dianjurkan memberi doa agar tim kesayangan bisa meraih kemenangan. Tapi, kasus yang membelit diri sang ustaz terus menggelinding dan tak bisa dibendung.

Ibarat pertandingan antarkesebelasan, bola liar sangat dinanti. Bisa jadi jika wasit berat sebelah, maka bola bersangkutan ditendang dan menghasilkan gol. Nah, jika gol itu terlahir dari sebuah pertandingan sepakbola, semua bisa memahami. Tapi jika gol tersebut dimaknai sebagai tujuan memecah belah bangsa, wuih ini yang perlu diantisipasi.

Penulis sangat berharap masalah yang dihadapi sang ustaz ini cepat reda. Sebab, kita khawatir satu kata menyakiti umat akan membuat goresan di hati yang sulit dihapus demikian saja.

Kita bolelah mengambil "kaca" dari kasus ulama berdarah India, Zakir Naik. Beberapa waktu lalu ia berucap etnis China harus hengkang dari Malaysia dengan berbagai alasan. Belakangan ia malah menuding media setempat telah memutarbalikkan ucapannya. Di sini, terkesan sang ulama tengah menjadikan media massa sebagai "kambing hitam".

Penulis pun berupaya mencari tahu mengapa Ustaz Abdul Samad mengeluarkan pernyataan yang menyebabkan saudara kita dari umat Kristen tersakiti. Hingga kini, dalam berbagai ceramahnya UAS hanya mengatakan bahwa pernyataan itu sudah tiga tahun silam di sebuah masjid.

Lalu, UAS bertanya, mengapa baru sekarang dimasalahkan?  Pernyataan itu adalah bagian ketika ia memberi jawaban terhadap seseorang mengenai simbol agama Kristen.

Apakah penulis puas dengan jawaban itu?  Tentu tidak. UAS harus memberi penjelasan agar suasana teduh di Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-74 ini benar-benar tercipta di negeri ini.

Jika UAS sudah tahu bahwa dirinya telah dilaporkan ke pihak berwajib, sungguh elok jika hal itu diselesaikan sebelum pihak kepolian memanggilnya. Ia bisa menjelaskan duduk soalnya secara proporsional. Hanya dengan cara itu, maka publik akan memahaminya meski tidak semua pihak dapat terpuaskan.

Ustaz Abdullah Gymnastiar pernah melontarkan kata-kata bijak. Katanya, kejujuran membuat pesona tersendiri yang dapat menyentuh nurani dan menuai kekaguman serta memanen kewibawaan.

Ketua Umum PB NU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj pernah mengingatkan kepada penulis bahwa perbedaan merupakan Sunnatullah yang memang harus ada dan terjadi, sebagaimana adanya siang dan malam atau bumi dan langit. Pengikaran atas kemajemukan berarti juga pembangkangan atas kehendaknya.

 "Jika seandainya Tuhan Pemelihara kami menghendaki, tentulah beriman semuanya yang di bumi seluruhnya. Maka apakah engkau (Nabi Muhammad saw) memaksa manusia semuanya supaya mereka menjadi orang-orang mukmin?". (QS Yunus: 99).

Berdasarkan ayat itu, manusia tidak diperbolehkan memaksakan suatu keyakinan tertentu, termasuk untuk beriman kepada Allah, terhadap manusia lainnya. Islam memberi ruang gerak bagi tumbuhnya masyarkat plural (majemuk), sehingga kebebasan beragama merupakan esensi ajaran Islam.

Kehadiran biara-biara, gereja (Kristen), sinagong (Yahudi), masjid (Islam), dan rumah ibadat lainnya adalah kehendak Tuhan untuk mewujudkan keseimbangan. Setiap agama memiliki keunikan (kekhasan) dan syariatnya sendiri-sendiri yang membedakan satu agama dengan agama lainnya.

Kemajemukan syariat agama-agama ini tidak mungkin bisa diseragamkan, namun disamping adanya perbedan, agama-agama itu memiliki kesamaan tujuan yaitu menyembah Allah dan berbuat kebaikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun