Doni Swadarma
Doni Swadarma

Menghabiskan masa kecil sampai SMA-nya di seputaran terminal Blok M, setelah menyelesaikan pendidikannya di Teknik Sipil UI, mendedikasikan diri di dunia pendidikan sambil mengamati banyak hal yang dituangkan dalam bentuk tulisan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Informasi, Ideologi dan Hirarki Kekuasaan

16 November 2015   22:44 Diperbarui: 16 November 2015   22:44 113 0 1

Ini jaman sengkarut akut. Fakta opini semua serba absurd. Seorang teman bercerita, ia baru pulang dari negeri orang. Lalu ia menulis kesaksian atas suatu peristiwa di akun twitter miliknya. Namun kesaksian tersebut dengan mudah dibantah. Oleh orang yang jarang keluar kamar, jarang punya teman, juga jarang mandi. Bantahan yang hanya bermodalkan gadget di tangan, browsing sebentar, muncul aneka tautan, dan boom……jadilah bantahan berupa link serta copasan.

Jangan heran kalau kita dituduh syiah hanya lantaran pernah numpang kencing di Masjid Al Mahdi-Bekasi. Dianggap wahabi karena tak sempat cukur jenggot dan jidatnya kejedot lemari. Bahkan distempel liberal karena mendukung Jokowi, dan dianggap radikal karena menjadi oposisi.

Fenomena di atas sepertinya sudah diprediksi sebelumnya oleh Alvin Toffler dalam The Third Wave (1980). Ia membagi peradaban manusia atas tiga gelombang yaitu peradaban pertanian, peradaban industri dan peradaban informasi. Dan di masa gelombang ketiga inilah lalu intas informasi mengalir deras lintas batas (borderless world). Dunia akan mengalami revolusi informasi, siapa yang menguasai informasi, maka dialah yang akan menguasai dunia. Itulah jargon yang akhirnya menjadi kenyataan saat ini.

Menarik, bila hal tersebut dihubungkan dengan teori hypnosis. Menurut U.S. Department of Education, Human Services Division, definisi hypnosis adalah “Hypnosis is the by-pass of the critical factor of the conscious mind followed by the establishment of acceptable selective thinking” atau hipnosis adalah tembusnya critical factor yaitu celah penghubung antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar yang berfungsi sebagai filter informasi sehingga diterimanya suatu sugesti.

Adi W Gunawan di bukunya yang berjudul The Secreet of Mindset (2007) mengatakan sebuah belief system yang mengakar kuat di pikiran bawah sadar manusia terbentuk karena informasi yang berulang-ulang sehingga akhirnya menembus critical area dan masuk ke pikiran bawah sadar. Artinya, disadari atau tidak sebenarnya kita telah mengalami proses hypnosis sejak lama yaitu saat mengkonsumsi iklan, kampanye, rumor, gossip dan berita lainnya yang bersumber dari media sosial maupun media massa …….

Apalagi di era informasi seperti saat ini, banyak informasi yang masih diragukan kebenarannya, namun sudah berseliweran secara massif dan afirmatif. Tanpa diundang ia datang, derasnya tak terbendung menyesaki isi kepala mempengaruhi ruang kesadaran, saling memilin satu sama lain, membentuk persepsi menjadi asumsi, Sehingga akhirnya meruyak pikiran bawah sadar orang banyak, lantaran semua informasi tadi diyakini sebagai suatu kenyataan.

Coba saja perhatikan, informasi yang beredar sejak kampanye pilpres hingga sekarang. Masyarakat seperti terbelah lantaran pilihan politik dibenturkan dengan ideologi serta keyakinan. Akibatnya, sesama anak bangsa jadi saling membenci juga saling curiga, dengan tudingan wahabi-syiah, liberal-radikal, muslim-non muslim, pribumi-Cina, teis-ateis, nasionalis-komunis, kecebong-kampret. Padahal faktanya yang terjadi adalah perebutan kekuasaan, bukan pertempuran ideologi.

Seandainya masyarakat kita punya kultur membaca yang kuat mungkin akan beda ceritanya. Sebab dengan membaca kita dapat mengakses cukup informasi sebagai seken opini, tidak tinggal santap apapun yang tersaji di televisi atau layar PC. Dan tak akan ada proses hypnosis yang disebabkan informasi negatif yang masif dan afirmatif. Namun sayangnya menurut data perpustakaan nasional jumlah rata-rata buku yang dibaca orang Indonesia hanya berada pada kisaran 0-1 buku/tahun. Bandingkan dengan penduduk negara ASEAN yang membaca 2-3 buku/tahun. Jepang yang warganya membaca 10-15 buku/tahun. Atau warga Amerika Serikat yang sudah mencapai kisaran 10-20 buku/ tahun.

Trend politik identitas seperti di atas mungkin tak terjadi bila sebelumnya kita mengakses informasi dari Herman Kahn misalnya. 35 tahun yang lalu tepatnya saat futuris berbadan gempal berkacamata tebal itu meramal di majalah Reader’s Diggest (1980) ia berkata “Ajaran Kong Hu Chu yang diwariskan pada bangsa China lebih unggul daripada Etika Protestan, dengan ciri-ciri bekerja keras, harmonisasi, hormat pada orang tua, mau bekerjasama, tidak menonjolkan pribadi dan tidak egois. Dengan modal itu maka akan terjadi kebangkitan industri China di tahun 2000-an. Saat itu negara yang memiliki budaya China akan bermasa depan cerah sedangkan negara dengan kultur India sulit untuk maju”.

Ramalan Kahn ternyata terbukti. China sudah menjadi negara industri, dan Indonesia yang berkultur India masih tak berdaya. Mungkin karena belum banyak memanfaatkan orang Cinanya, justru malah ada yang membencinya sebagaimana informasi yang tersaji di media setiap hari……

Jikalau informasi yang bersumber dari ramalan Kahn ini telah diketahui jauh-jauh hari, bisa jadi pandangan dan sikap masyarakat pribumi terhadap WNI keturunan China akan berbeda sama sekali dibandingkan dengan yang terjadi seperti saat ini.

Oleh karenanya, cerdaslah dalam mengolah informasi, seperti yang diajarkan oleh Karl E. Weick, pakar komunikasi sang pencetus teori enactment. Ia menjelaskan dalam Making Sense of the Organization (2009) : “Informasi dari lingkungan sekitar bersifat ambigu dan penuh kesamaran. Dan untuk memastikannya dapat dilakukan dengan tiga tingkatan, yaitu penetapan (enactment), pemilihan (selection), dan penyimpanan (retention). Enactment adalah penetapan situasi yang menyatakan adanya informasi yang samar dari luar. Selanjutnya selection, yaitu proses menyeleksi dan menerima beberapa informasi yang relevan sambil menolak informasi lain. Dan akhirnya retention, dimana informasi tersebut disimpan untuk penggunaan di masa mendatang bergabung dengan informasi yang sudah ada sebelumnya.

Jadi menurut Weick tidak semua informasi bisa disimpan dan digunakan, tapi harus ada proses seleksi. Sebab bila tidak, maka informasi akan membuat kita bingung sendiri. Seperti saat ini, tatkala kepentingan sekelompok orang yang saling berebut kekuasaan dianggap sebagai pertempuran ideologi......

Pada akhirnya harus disadari bahwa musuh sejati kita bukanlah ideologi. Karena dia hanyalah wacana yang ada di dalam pikiran. Pikiran yang masih bisa dihipnosis, dipengaruhi oleh informasi yang bersifat afirmasi, menyerang bertubi-tubi dan masuk ke dalam alam bawah sadar tanpa disadari. Musuh bersama kita adalah tindakan. Tindakan oleh pelaku kesewenangan penuh keserakahan yang berujung pada kesengsaraan. Pelaku yang ideologinya hanyalah hawa nafsu untuk terus naik hingga ke puncak hirarki kekuasaan, baik dalam skala lokal maupun global.
Itulah yang dikhawatirkan Laurence J. Peter seorang hierarchiologist asal Kanada dalam The Peter Principle: Why Things Always Go Wrong (1984). Meskipun Peter bicara tentang kinerja, namun relevan dalam kacamata hirarki kekuasaan. Menurutnya, “Saat seseorang mencapai eskalasi yang lebih tinggi, maka sesungguhnya ia berada di tempat yang makin tidak dikuasai”. Pernyataan tersebut dapat dimaknai bahwa “saat kekuasaan makin tinggi, maka makin sulit untuk dikuasai, namun makin sulit untuk berhenti, sehingga kerusakanlah yang akan terjadi”.

Mungkin karena itulah perang informasi akan terus dilakukan dalam menapaki hirarki kekuasaan, karena nafsu berkuasa adalah ideologi yang tak pernah lekang dan tak berkesudahan hingga akhir jaman. Sebab di tengah kehidupan yang standart keberhasilannya adalah perolehan hasil yang makin besar, maka sungguh sukar untuk berhenti di satu tingkatan dengan perasaan damai……