[Proses Kreatif Bukuku] Menemukan Karakter Odie dan Rahasia Ransel Biru

26 Agustus 2011 00:59:26 Diperbarui: 26 Juni 2015 02:28:12 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Jika selama ini, mengikuti sebuah audisi naskah berjumlah 3 hingga 10 halaman, telah sering kulakukan. Maka ketika, mencoba memberanikan diri mengikuti audisi naskah First Novel di group PBA bekerja sama dengan Tiga Serangkai, aku empot-empotan jantung juga, alias deg-degan banget. Waktu itu awal tahun 2011, aku melihat pengumuman mengenai audisi naskah untuk first novel [sebuah jenis buku peralihan dari cerita gambar menuju sebuah novel bagi anak usia 5 hingga 8 tahun]. Aku pikir ini kesempatan baik untuk mencoba belajar dan menjajal kemampuanku. Ketika salah satu syarat utamanya adalah menuliskan konsep naskah, aku kebingungan. Seperti apakah konsep naskah itu. Sempat kubuka beberapa file hasil workshopku di bulan Desember. Kutemukan satu buah file yang mirip konsep naskah, tapi aku ragu. Akhirnya kuajukan permohonan bantuan ke teman-teman di group yang mungkin punya contoh konsep naskah. Alhamdulillah, salah seorang pabers [sebutan untuk anggota group forum PBA] yakni Tethy (Idnya ummuthoriq kalau di MP) dengan baik hatinya mengirimkan contoh konsep naskah miliknya. Akupun dengan cepat mempelajari dan segera membuat dua konsep naskah. Namun tak satupun yang menggunakan tokoh Odie. Konsep naskahku waktu itu lebih mengarah pada cerita anak usia 9-12 tahun. Karena waktu itu dari panitia lomba, tak menyantumkan target usia pembaca. Sebulan kemudian, aku surprise sekali, karena dari puluhan naskah yang masuk, naskahku masuk dalam fase audisi berikutnya. Ada 28 penulis yang direkomendasikan untuk ikut serta dalam workshop di kota Bandung. Di salah satu hotel di Bandung bekerja sama dengan Penerbit Tiga Serangkai. Aku sempat sakit perut memikirkan workshop tersebut. Karena kehadiran penulis yang lolos audisi tahap ini ditentukan juga dari hadir atau tidak ke Bandung. Aku bingung. Bang Asis sedang di offshore. Ini adalah kali pertamaku meninggalkan Billa tanpa Ayahnya. Hingga hari terakhir konfirmasi, aku pun mencari solusi. Belum lagi aku tak pernah ke Bandung sendirian. Hingga suatu hari, Dina Y Sulaeman sempat berkomentar di forum PBA waktu kutuliskan status gundahku di wall, “lebih baik tahajud Dian, jika itu yang terbaik, meninggalkan dan menitipkan Billa ke adik-adik, mungkin merupakan pilihan terbaik. Aku juga pernah dalam posisi seperti itu,” kurang lebih demikian komentar Dina, yang membuatku mendapatkan kekuatan. Aku tahajud, memohon bantuan kekuatan mental untuk meninggalkan anakku pertama kalinya ke luar kota. Di Hari H, Billa kutitipkan dengan sepupuku, adik kandungku dan pembantuku serta tanteku. Di sinilah fase penitipan Billa bergilir dilakukan. Aku berangkat ke travel jam 5 subuh dianter sepupu ke pos travel di Pamulang. Bismilah. Aku berangkat. Billa akan dijaga oleh Nurul-sepupuku, dari subuh hingga jam makan siang, setelah itu Nurul akan berangkat kerja. Billa dijaga oleh Lilis, pembantuku sambil diawasi oleh Dinang, adik kandungku. Jam 4 setelah Billa mandi sore, Lilis pulang. Dinang yang in charge dan membawa Billa ke rumah tanteku di dekat rumah, hingga jam 9 malam, ketika aku dijemput pulang di kawasan BSD. Selama perjalanan menuju Bandung, pikiran aku upayakan setenang mungkin. Aku coba nyamankan hatiku. Aku tak mau kontak batin dengan Billa dengan suasana hati khawatir. Aku pasrahkan kondisinya pada Allah SWT. Tak ringan, namun tak terlalu berat juga untuk dijalanin. Sesampai di Bandung, aku tanya kiri kanan lokasi Hotel, dan naik angkot ke sana. Alhamdulillah, ini kali pertama aku ikutan workshop PBA dan kopi darat dengan banyak penulis buku anak yang selama ini aku lihat nama-nama mereka di cover buku-buku anak yang aku belikan untuk Billa. Wuih, sempat muncul rasa tak percaya diriku. Tapi, Alhamdulillah, sebagian besar mereka sangat ramah. Aku bertemu Gita Lovusa di sana, bertemu teh Ary, kang Ali Muakhir dan banyak teman anggota PBA lainnya. Selama workshop aku mencoba konsentrasi, hingga akhir acara. Setiap kali ngobrol dengan seseorang, aku coba mendapatkan sebanyak mungkin ilmu yang ada di diri penulis tersebut. Telinga kupasang baik-baik. ^_^ Singkat cerita, ternyata konsep naskah yang aku dan teman2 buat ternyata salah target pembaca. Kami semua lalu diberi waktu dua minggu untuk memperbaiki konsep tersebut. Aku rasanya mau pingsan membayangkan hanya diberi waktu dua minggu untuk menyesuaikan konsep naskah itu dengan target pembaca. Lama aku termenung di workshop maupun ketika tiba di rumah. Dua hari pikiranku bergelut dengan upaya mencari ide. Hingga akhirnya kuputuskan untuk membuat karakter baru, membuat cerita baru dan itu artinya membuat konsep naskah baru dalam waktu dua minggu, plus bab pertamanya sesuai permintaan editor akuisisi Tiga Serangkai. Aku mengingat-ingat masa kecil adik laki-lakiku, si Dhika yang agak beda denganku. Jika aku cenderung kalem dan patuh, maka Dhika cenderung rame dan heboh kisah masa kecilnya. Rambut poni dan tebal khas Adi Bing Slamet era tahun 70an kujadikan ciri khas tokohku. Entah wangsit atau ide dari mana, aku menyukai nama Odie. Boleh dibilang, aku sangat berterima kasih dengan masa kecil adikku yang penuh warna, hingga dapat menjadi sumber inspirasiku. Mulailah kubuat kisah Odie dan sebuah ransel ajaib yang idenya terinspirasi dengan kantong ajaibnya Doraemon. Sempat kutanyakan ke adik bungsuku yang hobby nonton film. Ketika usia 6 tahun, apakah dia sudah faham bahwa kantong ajaib itu hanya sebuah fantasi? Bahwa dunia dengan sistem lorong waktu itu tidak nyata atau hanya fantasi? Komentar dan hasil diskusiku dengan Dhinang, adik bungsuku itu pun memberiku kekuatan untuk melanjutkan draft konsep naskah Odie yang setting real, namun genrenya fantasi. Terus terang, diskusi dengan Dhinang serta pembuatan gambar karakter oleh Dhinang sangat membantuku untuk menyelesaikan bab pertama itu. Kemudian selesai naskah itu kubuat, aku kirim ke Tiga Serangkai, dan menunggu pengumuman audisi yang final, mengenai siapa saja penulis yang lolos untuk dibukukan ceritanya. Alhamdulillah, meskipun tak menyangka sama sekali, namaku masuk ke dalam tujuh orang penulis yang lolos. Bersama ke 6 penulis “senior” lainnya, akupun mulai mendapatkan target deadline, bahwa First Novelku harus segera kelar pada tanggal 30 April. Aku sedang di Palembang ketika semua itu terjadi. Setiap jam dua pagi, aku bangun. Selesai sholat, aku lanjutkan mengetik sisa 7 bab lagi. Hampir setiap hari aku tidur hanya beberapa jam, demi si Odie. Tanggal 30 April naskah siap kirim. Namun, ilustrator yang aku usulkan, si Dhinang yang sudah susah payah menggambarkan Odie sesuai keinginanku tak lolos di editor dan tim development. Alasan utamanya karena kurang berkarakter anak. *setelah kulihat hasil dari pihak TS, ternyata gambar milik adikku memang lebih pas untuk karakter dengan target pembaca 9-12 tahun. Meskipun sedih, tapi aku cukup berbesar hati melihat hasil ilustrasi tim innerchild dari Bandung yang membuat ilustrasi Odie juga dengan bagus dan lucu. Aku sempat harus memperbaiki dua bab terakhir yang mengenai penyelesaian konflik. Di sini aku belajar proses mengenal editor sebuah buku. Pentingnya kerjasama dengan editor, menerima saran, berdiskusi hingga berbagi ilmu dengan si editor. Aku bersyukur sekali mendapatkan pengalaman berharga dalam proses “melahirkan” karya solo pertamaku ini. Alhamdulillah, di bulan Agustus ini, buku FN Odie ini lahir, hati ini rasanya senang minta ampun, sekaligus was-was, karena aku berharap ini tidak sekedar euforia sementara. Aku ingin eksis dan terus berkecimpung di dunia buku anak. Ikutan audisi antologi sekarang hanya untuk kepentingan amal dan silaturahim dengan teman-teman saja, sekaligus berbagi yang bisa kubagi mengenai pengalaman hidup. Sementara fokus menulis, ingin aku pusatkan pada dunia buku anak. Meskipun tertatih-tatih aku belajar dan mempelajari bahasa “anak” yang sederhana dan berat, terutama bagi diriku yang otaknya sudah terkontaminasi banyak hal, aku tetap berupaya belajar ekstra keras. Sekarang, aku tahu satu hal. Bahwa bakat menulis hanya memiliki peran sedikit sekali. Kerja keras dan kemauan untuk belajar menjadi pemeran utama dalam menentukan berhasil atau tidaknya seseorang pada bidang yang dipilihnya. Doain aku selalu ya… Saat ini sedang berjibaku dengan deadline Odie seri duanya. Hingga akhir September ini. Mudah-mudahan aku berhasil menyelesaikannya tepat waktu, meskipun kondisi fisik tak seprima kemarin-kemarin. ^_^. *** Pamulang, hari ke Dua puluh enam Bulan Ramadan 2011.

Dian Onasis

/dian.onasis

TERVERIFIKASI

Dian mulai belajar ngeblog tahun 2003. Sekarang menikmati passionnya di dunia menulis buku, terutama novel anak-anak. Sejak tahun 2008, telah menjadi kontributor untuk lebih dari 30 antologi, dan menghasilkan 7 novel anak.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana