Bahasa Pemersatu Bangsa

18 September 2012 15:51:40 Dibaca :

Bahasa sebagai pemersatu bangsa, tentunya kalimat ini sudah tidak asing lagi bagi kita. Kita yang saya maksud di sini adalah kita sebagai warga negara Indonesia, atau setidaknya kita yang berdomisili di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ya, karena Bahasa Indonesia telah dinobatkan sebagai bahasa nasional sejak tanggal 18 Agustus 1945. Hal itu ditandai dengan disahkannya Undang-Undang Dasar 1945 sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia yang di dalam pasal 36 disebutkan bahwa “Bahasa Negara adalah Bahasa Indonesia.” Bahkan sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Bahasa Indonesia telah diikrarkan sebagai bahasa kesatuan saat terselenggaranya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang diungkapkan dalam unsur ketiga yaitu “Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.”


Indonesia merupakan negara kepulauan dimana terdapat beragam kebudayaan di dalamnya. Mulai dari adat istiadat tiap daerah, pakaian adat, rumah adat, makanan khas daerah, hingga bahasa yang berbeda tiap daerah. Dari beragam ciri khas tiap daerah, kita dapat langsung mengenali suku bangsa seseorang yang mungkin baru kita kenal melalui tutur bahasanya.


Bahasa merupakan sarana dalam terjalinnya komunikasi, baik itu komunikasi searah maupun dua arah. Apakah komunikasi dapat tercipta tanpa adanya bahasa? Saya yakin anda sendiri dapat menjawabnya, entah itu bahasa secara lisan maupun tertulis. Maka dari itu, demi terciptanya komunikasi yang harmaonis tentunya dibutuhkan pemahaman bahasa yang sama. Nah, di negara Indonesia tercinta ini, Bahasa Indonesia adalah satu-satunya alat komunikasi antar suku bangsa di Indonesia. Dengan kata lain, kita harus menguasai Bahasa Indonesia untuk dapat berinteraksi dengan orang lain yang berasal dari daerah yang berbeda dengan kita di Indonesia ini.


Tanpa kita sadari, Bahasa Indonesia telah merajai ibu petiwi dengan sendirinya. Mulai dari anak-anak sampai kakek-nenek, hampir semua mengerti Bahasa Indonesia. Bahkan seseorang yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal sekalipun. Tidak seperti bahasa asing yang tidak banyak orang dapat menguasainya, karena cenderung sulit dan memerlukan pembelajaran khusus untuk bisa dikatakan mahir dalam penggunaannya. Tapi hal itu wajar menurut saya karena Bahasa Indonesia memang sudah familiar di telinga kita sebagai orang Indonesia. Bahkan banyak diantara kita yang menggunakannya sebagai bahasa sehari-hari.


Salah satu faktor terbesar yang menjadikan Bahasa Indonesia tidak asing lagi bagi kita adalah dengan mewabahnya televisi di semua kalangan masyarakat, tidak hanya di kalangan masyarakat menengah keatas. Televisi bukan merupakan barang mewah lagi. Bahkan sudah menjadi kebutuhan primer bagi sebagian orang. Televisi menjadi media hiburan yang paling diminati saat ini. Beragamnya acara televisi dapat kita saksikan setiap detiknya. Penggunaan Bahasa Indonesia di setiap acara tentunya memiliki peranan yang penting dalam menyebarluaskan kesadaran akan pentingnya Bahasa Indonesia di tanah air tercinta ini. Kecuali beberapa acara yang memang menggunakan bahasa asing dalam penyampaiannya.


Melalui acara sinetron misalnya, mulai dari anak-anak, remaja, orang tua, bahkan kakek-kakek dan nenek-nenek semua hampir memiliki sinetron favoritnya sendiri. Dari hal ini saja, tentunya bisa dilihat bahwa mereka bisa memahami apa yang mereka lihat di televisi meskipun mereka berasal dari pelosok daerah di Indonesia ini yang notabene tidak menggunakan Bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari.


Dari sinetron pula, muncul istilah-istilah baru dalam Bahasa Indonesia yang banyak populer di kalangan remaja saat ini seperti lebay, alay, kamseupay, cengil use’, lemot atau lola. Juga kalimat-kalimat seperti, masalah buat gue?, masalah buat lo?, dan gue harus bilang wow gitu?, yang memiliki intonasi khas dalam pengucapannya. Dan masih banyak lagi yang sejenisnya. Menurut saya istilah-istilah dan kalimat-kalimat tersebut terkadang juga terlalu lebay (hehe, jadi ketularan). Ya, mungkin ini merupakan salah satu perluasan Bahasa Indonesia yang bisa dijadikan referensi dalam berbahasa Indonesia di zaman yang serba modern ini. Bahasa Indonesia tidak kalah gaulnya dengan bahasa asing. Sudah seharusnya generasi muda bangga menggunakan Bahasa Indonesia.


Kemampuan menguasai Bahasa Indonesia memang bukan melalui proses belajar formal melainkan lebih pada faktor kebiasaan. Seperti kata pepatah “Alah bisa karena biasa.” Banyak orang yang mungkin tidak bisa secara fasih mengucapkan kalimat dalam bahasa Indonesia, tapi ia bisa mengerti ketika ada orang yang berbicara Bahasa Indonesia. Atau dapat disebut bisa berbahasa Indonesia secara pasif bukan secara aktif.


Ya, Bahasa Indonesia memang telah bersemi di Indonesia. Tapi sayang, Bahasa Indonesia hanya sebatas dimengerti saja tanpa dipahami. Nah, tidak ada salahnya mendalami pembelajaran Bahasa Indonesia karena sebenarnya Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang luas. Banyak sisi yang dapat dipelajari secara lebih mendalam. Kalau hal ini tentunya lebih pada proses belajar secara formal dengan adanya pembimbing.


Bagaimanapun, Bahasa Indonesia memang telah terwujud menjadi alat pemersatu bangsa. Hampir di setiap hembusan napas, selalu terdengar gema Bahasa Indonesia di setiap penjuru negeri. Semoga Bahasa Indonesia dapat terus berkembang, tidak hanya di negeri kita sendiri tetapi juga mendunia sampai ke seluruh pelosok bumi.


*****

Desy Rohmawati

/desyrohmawati

Saya seorang mahasiswa di salah satu kampus swasta yang ada di Solo. Saya ingin menekuni dunia menulis.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?