Plesetan Tentang Arti Agama (A Game)

13 Juni 2012 19:07:59 Dibaca :

Bosen bermain dengan Doraemon. Mau bermain dengan otak sendiri saja.




Sebelumnya, ini hanya pelsetan. Bercanda istilahnya. Sebab bicara soal definisi agama, terlebih agama Islam, dinul Islam, saya pernah mengotak-atik “etimologinya”, lalu saya tarik paksa etimologi dinul Islam memasuki wilayah yang sangat luas. Alam semesta, alam semesta beragama Islam (dinul Islam). Artikel itu pernah saya tulis di Kompasiana (Alam Semesta Beragam Islam). Intinya, saya punya pegangan soal definisi agama.

Bagaimana dengan plesetan definisi agama yang ini? ini hanya plesetan saja, becanda. Hanya dari segi bahasanya, tidak nyerempet ke soal terminologi ko.


Kebetulan dulu waktu kuliah, saya pernah bergabung dengan anak-anak yang mengaku Muslim Liberal. Dan saya juga dengan sengaja tanpa paksaan apapun, ikut menari-nari dengan pikiran mereka. Sampai akhirnya, kadang-kadang pikiran saya sangat lebar. Meski sejatinya saya orang bodoh. Bicara berfikir liberal, tidak ada ketakutan yang harus dipikrikan. Itu pikiran saya dulu. Sehingga dengan berani pun saya mendefinisikan, “agama artinya sebuah permainan”. Sebab kata agama itu berasal dari bahasa Inggris, asalnya, a dan game, a game. Artinya ya itu, sebuah permainan. (Jangan percaya etimologi ini. tapi tetap harus dibaca! Hihi..)


Agama adalah sebuah permainan. “Permainan Tuhan” atau “permainan manusia”. jadi beragama bukanlah sesuatu yang mudah, bukan pula sesuatu yang sulit. Layaknya main game, kadang awalnya memang dianggap mudah, tapi ketika naik ke tahap level yang lebih tinggi, tidak sedikit yang game over di dalam permainan tersebut.


Beragama. Memahami sebuah agama, awalnya terkesan mudah. Laksanakanlah semua intruksi yang ada di dalam Kitab suci dan teladanilah Nabi pembawa agama tersebut. Itu, sudah beragama, bahkan masuk kategori umat yang taat! Hal itu sangat mudah dilakukan. Sangat mudah. Sebab dalam tahapan itu belum memikirkan konteksnya, teksnya saja. Namun seiring perkembangan pemikiran manusia, kebudayaan yang semakin aneh. Pemahaman tentang agama pun mulai dilebarkan, bahkan tidak sedikit yang membuka semua pintu kritis tehadap agama, termasuk mendobrak prinsip dasarnya (walah, jangan sampai sini ah. Hihi..) . Beragama tidak boleh hanya terpaku pada teksnya, tapi harus melihat pula konteksnya.


Akhirnya, agama bak sebuah permainan, atau sesuatu yang bisa dipermainkan. Diseret ke sini, diseret ke sana. Yang satu membanting sehingga pecah berkeping-keping, yang satu lagu mungutin serpihan-serpihannya. Kelompok itu menarik agama dari langit agar tidak selalu menggantung, dan kelompok yang lain tetap menahannya agar tetap ada di langit. Permainan tarik menarik agama, layaknya tarik tambang, adalag permainan yang paling populer.


Itu jika saya membawa etimologi agama adalah sebuah permainan. Saya terbang ke langit dan membawa etimologi tersebut, dan melihat umat manusia yang beragama sedang berebut kebenaran dengan agama. Dari langit terlihatnya seperti sedang bermain mereka yang sedang beragama itu. Tidak percaya? Sini, terbanglah ke langit, lihatlah mereka dari luar agama.



Jadi ingat kata-kata Om Paulo Coelho dalam buku, Five Mountains, “Tuhan itu tidak berada di dalam agama, tapi berada di luar semua agama”. Om Paulo Coelho ini memang mau membebaskan manusia dari kungkungan paham yang sempit dalam memaknai Tuhan dan Agama. Saya ngerti itu, Om Paulo. Tapi dalam implikasinya, tetap saja banyak yang, lagi-lagi, diseret-seret semaunya. Akhirnya munculah kata-kata yang begitu menggirukan, “Bertuhan tanpa beragama, itu juga ok!.” Nah, lho. Kalau sudah begini bagaimana?


Oalah, udah di posting baru nyadar saya tidak menjelaskan arti "sebuah permainan" di dalam internal agama secara lebih aneh lagi.


Dasam Syamsudin

Dasam Syamsudin

/dasam

Berjuang untuk hidup, hidup untuk berjuang...
Twitter @Dasam03

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?