Sam Leinad
Sam Leinad karyawan swasta

jangan menyebutku mantan, tapi sebutlah alumni. siapa tahu kelak kita reuni. Twitter: @samLeinad\r\n

Selanjutnya

Tutup

Habis Hujan Terbitlah Macet. Salah Siapa?

9 Juli 2012   14:05 Diperbarui: 25 Juni 2015   03:08 395 4 0
Habis Hujan Terbitlah Macet. Salah Siapa?
1341835860901748968

(Galau: mau pulang kerja kok malah turun hujan - dok. pribadi)

"Waduh, mau pulang kok malah turun hujan. Bikin jengkel aja!"

Rasa jengkel seperti kalimat di atas tentunya sering kita alami saat hujan turun sore hari. Kita yang sudah berkemas-kemas dan buru-buru hendak meninggalkan tempat kerja terpaksa harus menunda dahulu niat tersebut. Sambil memandang titik-titik hujan yang turun dari langit dan berharap agar hujan seger reda, tak jarang rasa galau atau gelisah pun timbul.

Bagi yang mungkin sudah tidak sabar menunggu terlalu lama, bisa saja langsung menuju tempat parkir. Namun mengendarai kendaraan di saat masih turun hujan bukannya tanpa masalah. Bagi yang mengendarai mobil mungkin tak perlu ribet dan bersusah-payah mengenakan jas hujan seperti jika mengendarai motor.

13418360131806673407
13418360131806673407

(Pandangan menjadi kabur saat hujan turun - dok. pribadi)

Permasalahan pun tak hanya soal ribet atau nggak ribet memakai jas hujan. Saat melaju di jalanan, kita pun harus ekstra hati-hati . Pandangan yang kabur karena terhalang derasnya hujan dan juga kondisi jalan yang licin membuat kita perlu mengurangi kecepatan kendaraan.

Saat hujan berhenti bukan berarti perjuangan juga berakhir. Masalah lain yang tak kalah menjengkelkan pun sudah menunggu. Jalanan yang tergenang air sudah pasti akan membuat laju kendaraan perlu diperlambat. Apalagi kondisi jalanan yang kita lalui belum tentu semuanya mulus atau rata, bila tidak berhati-hati bisa saja kendaraan yang kita pkai terguncang dan bahkan terjatuh saat melintas masuk lubang di jalanan yang tidak terlihat karena genangan air hujan tersebut.

Dan puncak dari semua hal tadi adalah macet yang akan membuat kita semakin bete dan jengkel. Begitu hujan selesai, kendaraan-kendaraan yang sebelumnya masih diparkir di tepi jalan akan beramai-ramai turun ke jalan. Semuanya berebut untuk bisa segera sampai ke rumah atau tempat tujuan yang lain. Menumpuknya jumlah kendaraan yang tumplek blek di jalanan saat itu juga dan genangan-genangan air yang ada di sepanjang jalan sudah pasti akan membuat jalanan menjadi pamer paha (padat merayap dan patut hati-hati) atau bahkan macan tutul (macet total).

134183612635801259
134183612635801259

(Habis hujan terbitlah macet - dok. pribadi)

Ketika semua kendaraan sudah tidak bisa bergerak sama sekali, maka emosi pun memuncak. Suara-suara klakson yang memekakkan telinga terdengar berkali-kali. Umpatan dan makian kadang terucap tanpa bisa dikendalikan. Jika sudah begini, siapa yang perlu disalahkan?

Persoalan macet yang dialami oleh kota-kota besar memang terjadi hampir setiap hari, tidak hanya saat hujan atau pun tidak hujan. Meningkatnya jumlah kendaraan dari ke tahun tanpa diimbangi peningkatan sarana jalan menjadi sumber masalah ini. Perilaku pengguna jalan yang tidak mematuhi peraturan atau etika berlalu-lintas juga memperparah kondisi tersebut. Serta kualitas jalan yang tidak terlalu bagus ikut andil dalam menimbulkan kemacetan ini.

Kadang timbul pertanyaan, mengapa pemerintah atau instansi terkait tidak memiliki rencana yang matang dalam pembangunan atau perbaikan jalan. Jalan yang baru saja dibangun atau diperbaiki, tak lama kemudian rusak kembali karena mutu jalan yang tidak baik. Saluran-saluran air pun tidak dipersiapkan dengan baik di sepanjang sisi jalan. Seringkali kondisi saluran air tersebut tidak terawat dengan baik, sehingga tidak berfungsi secara optimal untuk menampung air ketika hujan turun.

Tak hanya itu saja. Penggalian-penggalian di sepanjang jalan juga sering terjadi berulang-ulang untuk proyek-proyek yang berbeda, misalnya galian untuk listrik, telepon, gas atau serat optik. Sungguh aneh, mengapa tidak terjadi koordinasi yang teratur agar penggalian jalan untuk proyek-proyek tersebut bisa dilakukan secara bersamaan. Banyak dijumpai, dalam hitungan beberapa bulan saja bisa terjadi penggalian jalan di lokasi yang sama lebih dari dua kali untuk tujuan atau proyek yang berbeda. Tak heran jika kemudian muncul sebuah kelakar yang memlesetkan arti 'pembangunan berkelanjutan' sebagai berikut:

“Pembangunan Berkelanjutan adalah apa yang kemarin digali dan ditutup oleh proyek listrik, akan digali lagi dan ditutup lagi oleh proyek gas hari ini. Dan apa yang digali lagi dan ditutup lagi oleh proyek gas hari ini, lagi-lagi akan digali lagi dan ditutup lagi oleh proyek telepon besok.”

O ya, 11 Juli 2012 besok adalah hari pencoblosan (pemilihan) gubernur DKI Jakarta. Siapa pun yang terpilih di pilkada kali ini, semoga memiliki program dan komitmen yang jelas untuk mengatasi kemacetan.

---

Foto-foto dalam tulisan ini sebagai partisipasi dalam Weekly Photo Challenge yang mengusung tema Street Photography (tulisan-tulisan lainnya bisa dilihat di sini) dan Bermain dengan Cuaca (tulisan-tulisan lainnya di sini)