HIGHLIGHT

Nilai Minus Pidato Presiden SBY

18 Mei 2012 06:23:27 Dibaca :
Nilai Minus Pidato Presiden SBY
SBY berpidato di perayaan Tri Suci Waisak 2556 di Ji-Expo, Kemayoran, Jakarta, 16/05/2012 (Sumber: Setkab.go.id)

Sejujurnya, bukan mau menghina, setiap kali membaca atau mendengar pidato Presiden SBY dalam acara-acara perayaan keagamaan, saya selalu merasa mual. Karena semua kalimat-kalimat muluk yang diucapkan itu sama sekali tidak punya makna apa-apa. Bukan lagi nol, tetapi minus. Demikian pula dengan ketika membaca pidatonya dalam perayaan hari raya agama Budha, Tri Suci Waisak 2556, tahun 2012, pada Rabu, 16 Mei 2012, di Jl-Expo, Kemayoran, Jakarta. Seperti yang sudah-sudah, kali ini Presiden SBY kembali mengulang-ulang lagi isi pidatonya yang berisi seruan-seruan dan kata-kata bijak dalam rangka kerukunan umat beragama, harus mengedepanlan cinta kasih, toleransi, menghormati pluralisme, tanpa kekerasan dan kebencian, demi persatuan dan kesatuan bangsa, dan seterusnya. "Kita isi kehidupan berbangsa tanpa kekerasan dan kebencian. Kehidupan berbangsa yang berlandaskan pada pengembangan sikap welas asih yang menyuburkan keharmonisan, keselarasan,dan toleransi,antar warga bangsa ..." "Mari kita senantiasa suburkan sikap toleransi guna menjamin terpeliharanya kondisi kehidupan berbangsa yang damai dan harmonis. Suatu kondisi kehidupan berbangsa yang akan menjadikan kita mampu memanfaatkan peluang dan kesempatan yang baik, untuk memajukan dan menyejahterakan rakyat kita," demikian kata-kata bijak dari seorang pimpinan yang tidak bijak. Isi pidato ini ibaratnya merupakan hasil rekaman yang tinggal diputar berulang kali di setiap kali pidatonya dalam acara-acara perayaan hari-hari raya keagamaan seperti ini. Dalam prakteknya, justru di masa pemerintahan Presiden SBY, sejak periode pertama sampai sekarang aksi-aksi anarkisme, yang didasari oleh perasaan benci, anti pluralisme, dan intoleransi, yang dilakukan oleh ormas-ormas tertentu yang mengatasnamakan agamanya, justru mendapat tempat yang semakin lama semakin luas. Menggusur dan menginjak-injak hak-hak warganegara beragama minoritas. Negara dan SBY sebagai pimpinan bangsa sama sekali tidak hadir dalam setiap peristiwa itu. Aparat Kepolisian bisa dikatakan telah bertekuk lutut di hadapan ormas-ormas itu, atau justru menjadi bekingannya, dan SBY sebagai seorang Presiden NKRI sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, selain berpidato. Bahkan untuk adu gertak dengan ormas-ormas itu saja, selalu kalah. Bagaimana pimpinannya, begitu juga bawahannya. Menteri Agama Suryadharma Ali, di sela-sela peluncuran Hari Anak Nasional 2012 di Jakarta, Rabu kemarin juga sempat menyatakan bahwa kesadaran terhadap pentingnya toleransi dan penghargaan atas perbedaan agama, etnik, kelompok, atau golongan perlu ditanamkan kepada anak-anak sejak usia dini. Langkah itu penting demi mempersiapkan mereka menjadi generasi baru yang bisa mengembangkan kehidupan yang penuh semnagat toleran dan saling menghargai haknya masing-masing. Sehingga demikian dapat hidup dalam kedamaian. (Kompas, Jumat, 18/05/2012). Padahal, tanpa ada teladan yang baik - yang justru paling penting -- dari orang-orang tuanya, termasuk dari Menterinya, semua pendidikan tentang pentingnya kesadaran penghormatan dan pelaksanaan terhadap sikap-sikap toleransi yang menghargai adanya perbedaan agama, dan sebagainya itu, sama sekali sia-sia. Faktanya, sekarang ini jangankan ada ada keseriusan dalam menanamkan perilaku-perilaku luhur seperti itu kepada anak-anak, teladan-teladan untuk itu pun tidak mereka dapatkan dalam kehidupan nyata dari orang-orang tuanya, termasuk dari menteri, sampai kepada presiden yang sekarang. Seperti dalam pidato-pidatonya di perayaan keagamaan lainnya, kali ini dalam pidatonya di depan umat Budha dalam perayaan Tri Suci Waisak 2556 ini pun SBY telah salah tempat dan sasarannya. Untuk apa SBY menyerukan kepada umat Budha untuk menjauhkan sikap dan perilaku yang penuh kebencian, kekerasan, intoleransi, dan sebagainya itu, kalau justru umat Budha (di Indonesia) sepertinya tidak pernah melakukan semuanya itu? Justru seruan SBY agar selalu berkehidupan dalam semangat cinta dan welas asi, toleransi, dan seterusnya, tanpa SBY bicara tentang itu, sudah merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari umat Budha itu. Dan, juga pada umumnya kehidupan beragama dan kehidupan sehari-hari umat lainnya, baik itu Islam, Kristen, maupun Khong Fu Cu. Seharusnya, semua pidato itu SBY sampaikan ke pihak-pihak yang lebih tepat. Agar tepat sasaran. Kumpulkan ormas-ormas yang selama ini selalu mengatasnamakan agamanya dalam setiap kali menjalankan aksi-aksi anarkisnya menindas, menghalang-halangi, melarang, membubarkan paksa, mengusir, dan menutup secara paksa tempat-tempat ibadah agama minoritas. Kumpulkan semua ormas-ormas itu, terutama yang paling sering dan paling terkenal dengan aksi-aksi brutalnya itu, setelah semua terkumpul, Presiden SBY, tampillah sebagai seorang pimpinan bangsa yang sejati, dan ulangilah pidato-pidato Anda itu. Itu baru namanya berpidato di tempat yang benar, di waktu yang tepat, dan tepat sasaran. Itu kalau Anda punya nyali yang cukup untuk itu. *** Tulisan saya yang lain, yang berkaitan: http://agama.kompasiana.com/2010/12/31/sby-bapak-antipluralisme-2010/ http://agama.kompasiana.com/2010/12/28/fakta-menelanjangi-kepalsuan-pidato-natal-sby/ Inilah tayangan di Youtube, contoh konkrit tentang perilaku intoleransi yang dialami jemaat HKBP Filadelfia, Desa Jejalen, Tambun, Bekasi, Jawa Barat, pada Minggu, 26 Februari 2012, yang masih berlangsung setiap Minggu:

http://www.youtube.com/watch?v=XHmtH4wEguw

Daniel H.T.

/danielht

TERVERIFIKASI (BIRU)

Bukan siapa-siapa, yang hanya menyalurkan aspirasinya. Berasal dari Fakfak, Papua Barat. Twitter @danielht2009
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?