Mohon tunggu...
said abdullah
said abdullah Mohon Tunggu... Konsultan - Politisi

Suka Menulis dan Membaca

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Daya Tahan APBN di Tengah Resesi Ekonomi Global

20 Oktober 2019   11:58 Diperbarui: 20 Oktober 2019   12:00 166
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Daya Tahan APBN
Salah satu kunci untuk menghadapi resesi ekonomi global adalah daya tahan APBN sebagai stimulus fiskal untuk menggerakkan roda pembangunan nasional. Oleh sebab itu, diperlukan APBN yang kredibel, sehat dan berkelanjutan. 

Tanpa itu, bukan tidak mungkin Indonesia juga berpotensi menyusul beberapa negara yang sudah menyatakan mengalami resesi ekonomi. Kondisi ekonomi Indonesia sampai dengan disahkannya UU APBN 2020, masih memperlihatkan daya tahan yang kuat, dengan beberapa indikator makro fiskal yang bisa dijadikan sebagai ukuran.

Pertama, tingkat rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional dalam lima tahun terakhir (2015-2019) mencapai angka 5,08 persen. Angka tersebut layak mendapat apresiasi ditengah lesunya perekonomian global. Bahkan beberapa negara yang mengalami resesi perekonomiannya tumbuh negartif. 

Pemerintah harus terus mencari solusi agar pertumbuhan ekonomi tersebut bisa ditingkatkan, mengingat pertumbuhan 5 persen belum cukup kuat untuk menjadikan masyarakat lebih sejahtera, bahkan jika tidak ditingkatkan, kita bisa terjebak dalam middle income trap.

Kedua, Penerimaan sektor perpajakan terus meningkat setiap tahunnya, tergambar dalam rasio pajak terhadap PDB (tax ratio). Dalam APBN2020 diperkirakan tax ratio akan mencapai angka 11,56 persen. 

Peningkatan tax ratio dalam beberapa tahun terakhir mengindikasikan bahwa APBN semakin sehat dan ruang fiskal semakin terbuka lebar. oleh sebab itu, Pemerintah dituntut untuk terus mendorong peningkatan tax ratio melalui berbagai inovasi kebijakan dengan tetap memberikan insentif fiskal untuk daya saing dan investasi. 


Hal ini menunjukkan bahwa APBN dikelola dengan efisien dan efektif sebagai instrumen kebijakan fiskal dalam rangka mendorong laju pembangunan.

Ketiga, defisit APBN semakin terkendali setiap tahunnya. Pengelolaan defisit anggaran dalam lima tahun terakhir memperlihatkan pergerakan yang masih berada dibawah ambang batas yang diperbolehkan oleh undang-undang sebesar 3 persen. 

Bahkan dalam APBN 2020 defisit anggaran diprediksi mencapai 1,76 persen dari PDB. Kedepan Pemerintah harus terus melakukan pengelolaan defisit secara hati-hati, tetap harus waspada dalam melihat tren perkembangan ekonomi global. Perlambatan ekonomi negara-negara di dunia, bisa memberikan dampak terhadap perekonomian nasional.

Keempat, tren perkembangan keseimbangan primer dalam lima tahun terakhir memperlihatkan terus menunjukkan penurunan yang signifikan. Upaya menjaga keberlanjutan fiskal juga terlihat dari defisit keseimbangan primer dalam RAPBN 2020, diperkirakan sebesar 0,0-0,23 terhadap PDB. 

Tren penurunan keseimbangan primer menuju positif ini memberikan bukti kuat, sekaligus sinyal positif bahwa pengelolaan APBN selama ini telah berada pada jalur yang benar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun