HEADLINE HIGHLIGHT

Seren Taun, Cara Bersyukur Masyarakat Setelah Panen

16 Januari 2012 19:53:14 Dibaca :
Seren Taun, Cara Bersyukur Masyarakat Setelah Panen
Iring-iringan Padi untuk upacara Seren Taun (doc: Bugi Sumirat)

Disela-sela guyuran hujan yang kadang deras, kadang berhenti, saya merasa beruntung bisa menyaksikan acara tahunan masyarakat kampung budaya Sindang Barang kabupaten Bogor pada tanggal 15 Januari 2012, yang merupakan puncak dari rangkaian Festival Seren Taun Guru Bumi yang merupakan acara rutin setahun sekali masyarakat, khususnya keturunan keluarga besar Sindang Barang, kabupaten Bogor. Acara ini tepat berlangsung dalam minggu yang penuh guyuran hujan. Namun hujan tidak menyurutkan semangat pelaksana dan pengunjung acara seren taun ini. Namanya juga Bogor, sudah terkenal sebagai kota hujan. Mengadakan acara di Bogor, berarti sudah siap akan turunnya hujan. Seren Taun Guru Bumi memiliki arti dasar sebagai upacara masyarakat menyimpan hasil panen (padi) di lumbung padi (Keterangan dari Hendra M Astari - 'pupuhu'nya komunitas Sunda Bogor - yang kebetulan bertemu di lokasi acara, nuhun kang Hendra). Juga sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh oleh masyarakat serta harapan agar panen yang akan datang dapat lebih baik dari sebelumnya. Dalam perkembangannya, disamping diisi dengan ragam kegiatan kebudayaan, bukan hanya padi yang diikutkan tetapi hasil bumi lainnya termasuk buah-buahan serta sepatu dan sandalpun masuk. Ini dikarenakan banyak warga masyarakat yang menjadi pengrajin sepatu. Sebagai rasa syukur atas usaha mereka, barang-barang tersebutpun diikutkan dalam upacara Seren Taun. Rangkaian kegiatan Seren Taun sudah dimulai sejak tanggal 12 Januari 2012 seperti dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:

Hr ke- / Tgl

Acara

Tempat

Jam

1/12 jan

Upacara Neteupken (menetapkan awal acara)

Imah Gede (rumah besar)

19.00 WIB

2/13 jan

Ngala Cikukulu (mengambil ikan)

Imah Kasepuhan (rumah tetua-tetua adat)

14.00 WIB

2/13 jan

Upacara Ngangkat (mengangkat)

Imah Gede Kampung Budaya

19.30 WIB

3/14 jan

Sedekah Kue

Alun-alun Tanjung Salikur

8.00 WIB

3/14 jan

Nugel Munding (motong kerbau)

Lap.Bola Inpres

10.00 WIB

3/14 jan

Pertunjukan kesenian Gondang, Jaipong, Angklung Gubrag, Tutunggulan, Kendang Pencak, Reog

Saung Talu Kp. Budaya

14.00 - 22.00 WIB

4/15 Jan

Helaran dari Imah Kasepuhan (memulai kegiatan seren taun)

Imah kasepuhan

07.00 WIB

Majiekeun Pare Ayah dan Pare Ambu (menyatukan padi ayah dan padi ibu)

Leuit Ratna Inten

09.00 WIB

Berebut hasil Bumi, Pertunjukan kesenian Angklung gubrag,  Rampak Jaipong, Parebut Se'eng (tempat memasak nasi), Kendang pencak, pertunjukan liong (naga - sumbangan dari masy keturunan Cina),  Gondang (lagu, tari dan nyanyi Sunda)

Selesai

Alun-alun kampung budaya

10.00 - 12.00 WIB

Acara ini sudah secara rutin dilaksanakan sejak tahun 2006, sementara Kampung Budaya Sindang Barang secara resmi berdiri tahun 2007. Banyak hal menarik yang saya temui di acara seren taun ini, diantaranya, antusiasme masyarakat  yang tinggi untuk mengikuti kegiatan ini, walaupun didera derasnya hujan, acara dapat terus berlangsung dengan semarak (termasuk turis domestik maupun mancanegara yang hadir). Ternyata Bogor, disamping keindahan alamnya, memiliki potensi budaya yang beragam dan menarik, potensial untuk dikembangkan termasuk busana-busana yang pada saat acara dikenakan sangat indah dan menarik, hingga pakaian untuk petugas pengamananpun menyesuaikan termasuk keseniannya. Rumah adat Sunda Bogor termasuk hal unik yang baru saya temui dan ini terdapat di lokasi ini. Kampung Budaya Sindang Barang hanya berjarak kurang lebih lima kilometer dari kota Bogor. Terletak di desa Pasir Eurih kecamatan Tamansari Kabupaten Bogor. Menurut hikayat, kampung ini merupakan kampung tertua untuk wilayah kota dan kabupaten Bogor. Kampung inipun mudah dijangkau karena kendaraan umum sampai ke dekat lokasi. Dari keseluruhan acara yang sangat menarik, ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian untuk perbaikan dimasa mendatang antara lain: promosi kegiatan ini yang masih kurang, terlihat dari kurang gencarnya informasi yang beredar luas di masyarakat. Dari beberapa rekan yang saya informasikan, rata-rata belum pernah mendengar informasi tentang hal ini. Hal lain adalah kurangnya perhatian Pemda Bogor terhadap kegiatan ini. Ini terungkap pada saat ketua panitia menyampaikan sambutannya, dikatakan dengan tegas bahwa acara Seren Taun Guru Bumi adalah acaranya masyarakat, acaranya rakyat, karena tidak mendapatkan bantuan/dukungan maupun sponsor dari pihak Pemda Kabupaten Bogor. Ucapan ini mendapatkan respon yang ramai dari warga masyarakat yang hadir. Sangat ironis! Gambaran kemeriahan acara Seren Taun dapat dilihat dalam beberapa foto di bawah ini (koleksi foto lainnya dapat dilihat di sini):

13267412081597239744
Kota Bogor dari kejauhan (kampung Sindang Barang) (doc: Bugi Sumirat)
13267428601553664930
Menabuh lesung sebagai tanda dimulainya acara Seren Taun (doc: Bugi Sumirat)
132674531112853803
Gadis belia pengiring rombongan (doc: Bugi Sumirat)
1326741952380575461
Memasukkan padi ke lumbung (doc: Bugi Sumirat)
13267422672065106839
Hasil bumi lainnya (doc: Bugi Sumirat)
1326742667302049042
Hasil bumi yang diperebutkan masyarakat (doc: Bugi Sumirat)
1326743126821359821
Kesenian jaipong (doc: Bugi Sumirat)
13267434231550064107
Penari jaipong (doc: Bugi Sumirat)
13267440751212705813
Pencak silat (doc: Bugi Sumirat)
1326744252707409441
Kesenian Liong (doc: Bugi Sumirat)
13267444951609575829
Kesenian gondang di atas panggung (doc: Bugi Sumirat)
13267446841403867228
Petugas keamanan dengan seragam khasnya (doc: Bugi Sumirat)
13267449281995403680
Nonton gondang dulu ah (doc: Bugi Sumirat)
13267451251823848069
Anak-anakpun tak kalah seriusnya (doc: Bugi Sumirat)
1326763926979847558
Bersama kang Hendra dan kawan2 dari IPB (doc: Bugi Sumirat)

Bugi Sumirat

/bugisumirat

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Ber-KTP DKI, rumah di Bogor, Bekerja di Makassar. Senang berbagi pengalaman dan belajar dari pengalaman orang lain, minimal untuk menambah modal sosial pribadi (human capital - social capital). Wahana saya untuk berbagi antara lain melalui Kompasiana dan bugisumirat.wordpress.com. Kontak: bugisumirat@gmail.com atau @kangbugi
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?