PILIHAN

Orang Kasar Itu Bernama Ahok

16 Maret 2017 16:40:31 Diperbarui: 16 Maret 2017 23:52:12 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Entah sudah berapa kali Jakarta berganti gubernur tapi permasalahan yang dialami kota ini selalu sama bahkan cenderung bertambah parah; banjir dan macet terutama. Banyak orang berdoa agar suatu hari akan datang seorang gubernur yang mampu membereskan Jakarta dari permasalahannya. Dan Tuhan itu memang maha mendengar. Maka dikirimkanlah seseorang untuk membenahi Ibukota tercinta.

Tapi seperti sebagaimana orang bijak berkata, Tuhan itu selalu bekerja dengan cara yang misterius. Orang yang dikirimkan itu dikemasNya dengan atribut-atribut yang sangat berbeda dengan gubernur-gubernur sebelumnya. Dia keturunan cina, agamanya Kristen, omongannya nyelekit dan tutur katanya cenderung sangat kasar. Yak! Orang itu bernama Ahok.

Saya punya firasat bahwa Tuhan memang sedang menguji masyarakat Jakarta. Mampukah kita menemukan hadiah yang dikirimkan oleh Tuhan tersebut? Bisakah kita menilai seseorang itu jahat atau baik hanya dari  tutur katanya? Mungkin tidak mudah untuk menjawabnya. Tapi saya selalu percaya bahwa “You are not what you say but you are what you do.”

Okay, what does Ahok do? Saya sebagai rakyat merasa dan melihat bahwa Ahok itu memang betul-betul bekerja. Sepak terjangnya dengan mudah bisa kita ikuti. Kita bisa ngeliat apa yang dilakukannya dari video-video yang diunggah pemprov Jakarta di Youtube. Saya kagum dengan konsep semua transaksi dilakukan secara elektronik. Sebagai pembayar pajak saya jadi tak resah lagi ke mana uang saya pergi dan sebagai pembayar pajak saya merasa punya andil atas kemajuan-kemajuan yang terjadi di kota ini,

Emang apa aja sih kemajuan di Jakarta yang saya rasakan? Setiap kali saya pergi ke kantor, saya merasa Jakarta bertambah macet. Tapi saya bisa mengerti bahwa kemacetan itu terjadi karena pembangunan MRT dan LRT. Proyek MRT itu sebenernya sudah direncanakan sejak 26 tahun yang lalu tapi entah kenapa tidak pernah terealisasi. Sampai akhirnya Ahok (bersama Jokowi) berani mengambil keputusan. Apapun halangannya proyek MRT dia lakukan. Saya gembira sekali melihatnya. Biarlah saya terkena macet beberapa tahun, yang penting anak-cucu saya nanti bisa hidup di Jakarta lebih tenang dan tenteram.

Titik-titik banjir sudah jauh berkurang. Memang Jakarta belum bebas banjir tapi saya melihat kemajuannya. Saya sangat kagum melihat bagaimana pasukan orange yang digagas Ahok bekerja. Dengan waktu kerja 24 jam sehari mereka membersihkan kali-kali yang ada di kota ini. Mereka juga memasuki gorong-gorong mencari penyebab air tersumbat. Tanpa rasa jijik mereka bergulat dengan air dan sampah yang kotor hanya untuk membuat Jakarta menjadi kota yang cantik dipandang.

Trotoar-trotoar dilebarkan. Ruang Publik Terpadu Ramah Anak sudah dibangun dan saat ini sudah 186 RPTRA yang sudah selesai dikerjakan dan akan terus bertambah. Bukankah memang itu yang saya keluhkan selama ini? Kenapa anak-anak selalu main di dalam rumah? karena memang sulit sekali mencari ruang bermain di kota yang makin sempit ini. Dan saya takut kalo anak saya kesamber motor atau angkot kalo mereka main di jalanan. Sekarang ini saya tidak terlalu khawatir lagi pada masa depan anak-anak saya di kota Jakarta.

Tapi perjalanan menuju tempat yang indah memang selalu  tidak mudah. Seorang pendaki gunung harus berjibaku melalui jurang dan jalan yang terjal hanya untuk memanjakan mata, menikmati keindahan puncak gunung tempat tinggal para dewa. Dan itulah yang sekarang sedang dihadapi ahok.

Ahok dituduh sebagai penista agama. Waktu saya mendengar peristiwa itu, saya juga marah padanya. Saya juga merasa bahwa agama islam bukanlah domain dia untuk berkomentar. Tapi apakah dia penista agama? Cukup lama pikiran saya bergulat menelaah dan menilai masalah itu. Sampai sekian lama, belum juga saya menemukan jawabannya. Apalah daya....

Tiba-tiba saya teringat pada nasihat ibu saya. “Kadang kita harus memejamkan mata untuk melihat lebih jelas.”

TING! Wah pencerahan pun akhirnya datang juga. Ucapan ibu saya bermakna kalo kita ingin menilai seseorang, jangan hanya dari apa yang keliatan. Kadang kita harus memejamkan mata dan biarkan hati yang bekerja. Apalagi mata adalah indera yang sering sekali mendominasi dan cenderung semena-mena membuat penilaian seenaknya.

Saya mencoba menilai peristiwa yang dialami Ahok dengan hati. Dan saya menyimpulkan bahwa Ahok memang melakukan kesalahan. Mulutnya memang harus diplester! Tapi saya juga yakin bahwa Ahok tidak bermaksud menista agama. Ahok itu sedang berkampanye untuk pilkada. Dia sangat mengharapkan penduduk Jakarta untuk memilihnya agar janji-janji pada penduduk Jakarta bisa ditunaikan. Lalu, apakah mungkin di saat yang sama dia menista agama yang dipeluk oleh calon-calon pemilihnya? Ah…ternyata permasalahannya sederhana saja. Kemarahan yang teramat sangatlah yang telah membuat saya merasa Ahok telah menista agama.

Hati saya semakin terbuka. Ternyata kalau semua dilakukan dengan hati, semua hal jadi lebih mudah diselesaikan. Hati adalah tempat di mana sumber cinta bersemayam. Dan itu merupakan berkah yang sangat luar biasa dari Allah. Jadi jangan pernah melakukan keputusan apapun tanpa menyertakan hati dan cinta.

Pikiran saya terus bekerja. Sekarang saya makin memahami kenapa Jokowi selalu membela Ahok. Jokowi adalah orang baik dan sederhana. Dia juga selalu melihat permasalahan dengan hati. karena itu, dia juga tau benar bahwa Ahok adalah orang baik. Jadi, apakah benar Ahok adalah orang yang dikirimkan Tuhan untuk membenahi Jakarta? 

Wallahu Alam. Semoga saja. In shaa Allah. Aamiin.

Budiman Hakim

/budiman_hakim

TERVERIFIKASI

When haters attack you in social media, ignore them! ignorance is more hurt than response.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana