Boedi Santosa, S.Pd.I
Boedi Santosa, S.Pd.I karyawan swasta

Seorang guru madrasah pembelajar yang bercita-cita mulia menjadikan Indonesia lebih baik, dengan membekali ilmu dan teknologi dibarengi penanaman akhlak mulia di setiap diri peserta didik.

Selanjutnya

Tutup

Juara Sejati Simposium Guru 2015

18 November 2015   21:55 Diperbarui: 18 November 2015   22:23 347 0 0

“HATI” DAN “PIKIRAN “ SEORANG GURU MADRASAH

[caption caption="#SIMPOSIUMGURU2015"][/caption]

Ketika membaca pengumuman ada Simposium Guru 2015, hati ini berbunga-bunga untuk membuat karya tulis, jujur saja sangat tergiur hadiah yang ditawarkan sebagai wujud penghargaan pemerintah kepada guru di indonesia.

Meneliti dan mengajar adalah pekerjaan profesi guru yang tidak dapat dipisahkan, karena disaat mengajarMENYAMPAIKAN MATERI , guru selalu dihadapkan persoalan tentang metode yang tepat, media yang sesuai serta pendekatan yang pas. Menjadi peneliti itu dengan sendirinya melekat di pundak seorang guru entah disadari atau tidak, namun kebanyakan guru belum pandai menuliskan pemecahan persoalan pembelajaran yang dialaminya.

Naskah karyatulis yang kubuat sudah siap, namun hati ini masih gamang untuk mengirimkannya mengingat even besar ini, diselenggarakan oleh kementrian yang berbeda. Setelah melakukan kontak dengan panitia akhirnya aku kirimkan naskah ini karena panitia mengijinkan guru dari kementrian kami untuk mengikutinya, dengan harapan bisa mewakili ke senayan tempat perhelatan akbar Simposiumguru ini berlangsung.

Penantian panjang menunggu hasil pengumuman dan bergabung di halaman FB, sebagai wadah tukar informasi dan silaturahmi antar peserta yang mengikuti Simposium , banyak interaksi perkenalan , menjalin silaturahmi dengan para guru se-Indonesia adalah sesuatu yang baru buatku. Setidaknya aku bisa menggali ilmu dari karya para guru tersebut, karena karya para peserta bisa dilihat dan diunduh langsung oleh seluruh guru se- Indonesia.Perasaan bangga bisa mengikuti perhelatan akbar ini.

Ditengah penantian pengumuman Juara panitia merubah aturan misal dari 10 halaman menjadi 20 halaman dan jumlah pemenang dari 200 menjadi 250 pemenang, hinggga 16 Nopember 2015 detik-detik pengumuman pun tiba, namun panitia belum siap dan pengumuman diundur tanggal 17 Nopember 2015, dari selasa pagi hingga malam hati ini risau , gak menentu menunggu pengumuman tersebut itu juga pasti dialami semua peserta, dalam hatiini kunasehati aku harus kuat , apapun keputusan yang aku terima. Meski sempat kulihat komentar dari para rekan guru yang menyalahkan panitia.

Moment itu pun tiba , aku klik link pengumuman. Hatiku berdetak keras, bibir bergetar. Aku baca baris nama-nama pemenang dari no 1 hingga ke 200, kok tidak ada namaku , aku ulangi lagi.. dan benar aku kalah. Aku tidak termasuk 200 guru yang terpilih.

Perasaan dan hati ini tak menentu, kecewa itu pasti, karena banyak karya yang menang menyalahi aturan , pemenang cuma 200 dan seabrek kecurigaan. Ketika itu hati dan pikiranku berdebat, “pikiran” ......berkata, panitianya tidak becus karya seperti itu kok jadi pemenang , karyaku lebih baik dan asli dari penelitianku sendiri ,tidak plagiat, tidak menyalahi aturan, panitia pasti ada main denagan peserta” namun dengan lemah lembut si “hati” .....menjawab, dalam lomba ada menang dan ada kalah, begitu kamu ikut lomba berarti kamu sudah tahu resikonya, menjadi pemenang atau kalah, kenapa itu kamu permasalahkan disaat kamu kalah ? Kenapa kamu menghakimi pemenang lain? Kenapa kamu mencari-cari cara agar kamu menang? Atau kamu ingin hadiahnya? Laptop? Kan kamu udah punya? Uang? Kan kamu sudah sertifikasi? Beasiswa s2? Masih banyak cara lain untuk meraihnya, truss apa yang kamu cari?? Apa kamuingin merendahkan harga dirimu sebagai guru? Menghujat, memaki, mencari-cari kesalahan orang lain dengan tujuan agar kamu menang? Itu tidak baik hai “pikiran” ..jangan kau kotori kehormatanmu sebagai guru, bukankah kamu sekarang sudah bahagia mengajar muridmu yang kamu yakini profesimu ini adalah amal jariyah.

...diam..............

Diam................................

...masih diam....menunduk....mata mulai sembab.....

....tak terasa meleleh air mata ini.... Kaki ini lemas dan luruh,...terduduk dan bersujud.........................................

Bersyukur atas kekuatan “hati” yang tidak mau dikendalikan “pikiran”. .....bermunajat, ....

Bersyukur ....atas segala anugerah yang diberikan, atas segala kebahagiaan yang aku rasasakan, atas tunjangan guru yang aku terima aku syukuri dengan ikhlas. ....ke senayan sudah tidak berarti lagi buatku, jadi juara simposium sudah bukan tujuanku, memegang tropi juara guru terbaik sudah bukan keinginanku ....karena hakikatku adalah guru, mendidik, menanamkan akhlak membekali generasiku dengan iman dan ilmu agar generasiku 20 tahun lebih baik .

  • Juara sebenarnya adalah jika siswaku ketika dewasa bukan seorang koruptor,
  • Tropi yang sebenarnya adalah jika siswaku ketika dewasa masih mencium tanganku dan selalu mengunjungiku diwaktu lebaran,
  • Pemenang sebenarnya adalah jika siswaku adalah orang yang berguna dan berakhlak mulia... Itulah juara sejati dari seorang guru....

Alhamdulilah ...istiqomah ... Alloh selalu meridhoi...amien ya alloh...