Mohon tunggu...
Blind Side
Blind Side Mohon Tunggu... profesional -

Bodoh itu menyedihkan

Selanjutnya

Tutup

Vox Pop

Skenario Mega dan Ahok, Mungkinkah Begini?

15 Maret 2016   13:35 Diperbarui: 16 Maret 2016   14:10 380
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kabar tentang retaknya hubungan Megawati dan Basuki Tjahaya Purnama adalah sesuatu yang ditunggu para penantang Ahok demi kursi DKI 1. Padahal, Ahok itu digambarkan sangat dekat dengan Megawati, orang nomor satu di tubuh partai penguasa di republic ini. Dalam suatu kesempatan, tak lama setelah Ahok dilantik sebagai gubernur menggantikan Jokowi yang naik tahta RI 1, kader Demokrat Ruhut Sitompul menyebut Megawati sangat sayang Ahok. Sebagai bukti yang memperkuat itu, PDIP berdiri paling depan mencabut Hak Angket atas Ahok tahun lalu.

Di DPRD DKI, PDIP ibarat bemper Ahok yang secara resmi tak punya bekingan parpol. Hal lain, Ahok sering diberitakan sering makan bersama dengan Mega. Saat Natal, Mega sempat bertamu ke rumah Ahok. Lalu sewaktu Rakernas PDIP, Ahok disambut hangat peserta raker, di mana hal sebaliknya diterima oleh pentolan Gerindra Fadli Zon.

Tentang Megawati, di tengah kontroversi atasnya, saya masih percaya, ia sosok yang sangat mencintai Indonesia Raya. Ia telah teruji, mengalami fase-fase tersulit di dunia politik, yang tak semua tokoh yang masih eksis di masa kini mengalaminya. Hampir tak ada yang sepadan dengannya. Hal prestisius terakhir yang ditunjukkannya adalah dengan mendaulat Joko Widodo, wong ndeso yang bukan dari trah Sukarno, untuk maju dalam pemilihan presiden. Lepas dari hal lain di balik itu,  ini adalah wujud bahwa ia masih mendengarkan suara rakyat, ia dengan legowo meninggalkan ego dan menjauh dari kemaruk kekuasaan. Orang bilang dia tetap di balik layar? Mungkin saja. Uraian di atas menjadi landasan untuk menjelaskan bagaimana kemungkinan berikut ini bisa terjadi.

Kembali ke arena pilgub. Tiada angin tiada hujan, tiba-tiba Ahok memutuskan untuk bertarung di jalur independen. Dari fakta-fakta itu, muncul pertanyaan, mungkinkah Ahok benar-benar meninggalkan Megawati? Bahkan sama sekali tak meminta restu (baca: membicarakannya) dari Megawati. Sebegitu berani itukah Ahok dengan Mega?.

Itu sangat mungkin, kalau melihat bagaimana Ahok hengkang dari Gerindra; tanpa basa-basi, tanpa duluan permisi di Prabowo. Lihat juga sebelumnya, bagaimana Ahok dengan gampangnya meninggalkan Golkar setelah dipinang Gerindra. Itu ditopang lagi dengan pernyataan Mega yang bernada marah seusai Ahok memutuskan maju independen. “PDIP akan melawan calon Independen,” katanya. Konon ia langsung memanggil Edi Marsudi dan Djarot, mungkin masih melanjutkan murkanya.

Walaupun sudah jelas demikian, saya sendiri melihat sebuah kemungkinan ada drama yang sedang dimainkan Mega dan Ahok. Ini seperti Sang Maestro Lionel Messi yang tiba-tiba mengoper tendangan pinalti yang sukses dieksekusi Suarez. Padahal, tanpa dioper pun, Messi bisa melakukannya.

Ada satu hal yang menjadi pengganjal hubungan keduanya. Teman Ahok (TA). Kelompok relawan-entah bentukan siapa-ini ibarat buah simalakama bagi Ahok.

Dia ikut PDIP dengan peluang besar menang, namun juga takut ditinggalkan fans setianya, dianggap tidak konsisten non parpol, mengkhianati dan tidak menghargai perjuangan TA.

Di sisi lain, jika harus ikut TA, maka peluang menang lebih kecil. Mesin parpol jelas lebih baik daripada relawan, tak hanya pengalaman tapi bekal massa fanatic di akar rumput.

Ada satu pernyataan Ahok sebelum mengumumkan pencalonannya, saya duga akibat tekanan dari TA. Lewat running text Metro TV, Ahok bilang; “Teman Ahok sudah berjasa, jadi boleh ngomong apa saja”.

Kelihatan Ahok cukup gerah dengan manuver TA. Mereka yang sebelumnya bertekad mengusung Ahok kembali sebagai gubernur jika tak dilirik parpol, mengubah misi. Sepertinya tak rela jika perjuangan mereka sia-sia; mau-tak mau Ahok harus independen.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Vox Pop Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun