Mencari solusi Calon Gubernur DKI untuk Transportasi (bag 2)

06 Juni 2012 22:04:35 Dibaca :

Setelah bagian pertama menjabarkan tentang solusi pasangan Fauzi-Nachrowi, Hendradji-Riza dan Jokowi-Ahok. Maka bagian kedua ini kita akan mencari solusi-solusi yang ditawarkan oleh Nurwahid-Didik, Faisal-Biem serta Alex Noerdin dan Nono. Seperti pada bagaian sebelumnya, pencarian tersebut berdasarkan kutipan-kutipan pembicaraan calon gubernur yang dapat dilihat di http://iquotee.com/topik/274/transportasi/.

Pasangan no 4 Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini

Hingga saat ini belum banyak yang dapat ditarik dari pasangan HNW dan Didik. Ada beberapa seperti saat HNW berkunjung ke depok untuk berdiskusi dengan walikota depok Nur Mahmudi Ismail yang juga merupakan kader PKS mengenai kemungkinan membuat jalur busway dari arah depok. Solusi ini nampaknya tidak disetujui oleh Nur Mahmudi dengan alasan jalan depok tidak cukup lebar. Selain itu HNW pernah juga mengungkapkan mengenai penambahan jumlah gerbong. Berikut kutipan HNW.
Jakarta membutuhkan 940 gerbong lagi. Tambahan gerbong ini diperlukan sehingga jumlah totalnya mencapai 1.440 unit, untuk mengakomodir 1,2 juta penumpang. Anggaran yang dibutuhkan adalah sekitar Rp 1 Triliun untuk mewujudkan hal tersebut. Itu bukan uikuran yang besar untuk APBD DKI, dengan kebutuhan yang sangat mendesak, penambahan gerbong ini dapat menjadi solusi dan efektif untuk mengurangi kemacetan di Jakarta.
Cukup menarik karena memang kalau kita melihat bagaimana masih ada orang yang bergelantungan untuk menaiki kereta, (penulis pernah melakukannya dan langsung kapok). Penambahan kereta dapat membantu mengurangi masalah tersebut. Tapi ada 2 hal yang harus diingat 1) Tidak semua daerah Jakarta yang macet dilalui oleh jalur kereta, sebagian besarnya malah. 2) Pembelian Gerbong harus dibarengi juga dengan biaya maintenance, jadi harus dilihat lagi Rp 1T itu sudah termasuk maintenace atau belum.

Melihat sedikitnya solusi dari HNW, lebih baik kita menunggu pada saat nanti kampanye (mulai 24 Juni 2012) bagaimana konsep HNW dan Didik mengenai transportasi Jakarta.

Pasangan no 5 Faisal Basri-Biem Benyamin

Yang saya sukai dari Faisal Basri adalah bagaimana dia selalu terang-terangan untuk melawan Korupsi. Saya ingat dulu waktu masih kuliah mendengarkan orasi Faisal Basri melawan Soeharto. Kami mahasiswa terkesima saat Faisal Basri berteriak ... Ini semua salah Soeharto (kira-kira begitu). Dan perlawanan Faisal Basri terhadap Korupsi tetap terlihat di kampanyenya, bahkan saat berbicara tentang transportasi Faisal Basri tetap mengumandangkan masalah korupsi.

Hingga saat ini belum ditemukan tawaran solusi untuk transportasi dari Faisal Basri. Tapi dari beberapa kutipan dapat di indikasikan bahwa Faisal Basri :


  1. Memajukan angkutan publik dengan cara menambah jumlah busway (hingga seribu)
  2. Anti dengan pembangunan jalan tol baru, dalam beberapa kesempatan Faisal Basri bertanya mengenai kegunaan jalan layang antasari.
  3. Bermimpi untuk menggunakan kali Ciliwung sebagai alat transportasi.


Berikut kutipan yang menguatkan point 1 dan 2 :
Dalam mengatasi macet, bayangin efeknya kalo di tambah 1.000 bus transjakarta, yang ongkosnya tidak sampai satu triliun. Bandingkan jalan layang Antasari itu, buat siapa coba. Dan kenapa di Antasari yang kemacetannya tidak terlalu dahsyat. Jadi aneh aja, kan gak adil, kepentingan segelintir orang dibandingkan bus Transjakarta yang dipakai ratusan ribu orang, sesederhana itu. Nah ini kan hampir pasti bisa dipastikan ada kepentingan tertentu yang menyusup ke proyek itu atau ini merupakan kebodohan perencananya.
Sama dengan HNW, belum ditemukan solusi yang menyeluruh, maka mari kita tunggu lagi di kampanye 'sebenarnya'

Pasangan no 6 Alex Noerding-Nono Sampono

Setia dengan slogannya "tiga tahun bisa", Alex Noerdin dan Nono Sampono walau tidak/belum memberitahu solusi tentang masalah transportasi menjanjikan untuk mengatasi kemacetan dalam waktu tiga tahun dan bila tidak maka mereka berani untuk mundur. Berikut kutipan dari Alex Noerdin.
Kami komitmen tiga tahun bisa atasi banjir dan macet. Kalau gagal, kami mundur. Tidak usah saling bersahut pantun, mari debat terbuka. Sebelum mendaftar, saya sudah yakin bisa lebih baik dari incumbent dan mampu selesaikan masalah Jakarta
Walau banyak yang skeptis dengan tiga tahun mengingat banjir dan macet sudah bercokol di Jakarta selama bertahun-tahun, tapi Alex Noerdin dan Nono Sampono patut diapresiasi. Mungkin pada saat kampanye nanti dapat dilihat lagi sebenarnya apa definisi 'mengatasi banjir dan macet' dan apa definisi mundur.

Selain itu dalam beberapa kesempatan Alex Noerdin berulang kali mengkritik kepemimpinan Fauzi Bowo yang dianggap tidak cukup cepat untuk mengatasi masalah macet. Berikut kutipannya.
Kemacetan di Jakarta ini sudah parah. Pertumbuhan jalan dengan kendaraan tak seimbang. Prediksinya, akhir 2013 atau awal 2014 akan stagnan, tidak bisa bergerak lagi. Ini harus segera dibenahi, karena itu kalau bisa Pilkada digelar besok pagi.
Penutup

Untuk menutup pembahasan mengenai solusi calon gubernur, saya ingin menggaris bawahi beberapa hal. Dari semua pasangan hingga saat ini Jokowi dan Ahok lah yang mulai terlihat konsepnya mengenai solusi transportasi. Sedangkan yang lain masih belum jelas. Namun seperti yang saya ungkapkan hal ini bisa jadi dikarenakan menunggu waktu kampanye. Satu tambahan juga, hampir semua calon sepakat kalau transportasi di Jakarta saat ini tidak baik atau paling tidak bermasalah. Mungkin hanya Fauzi Bowo yang terlihat belum sigap dan terlihat masih menunggu, dan hal ini harus diperjelas dalam kampanye mendatang.





KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?