Bambang Setyawan
Bambang Setyawan buruh harian lepas

Bekerja sebagai buruh serabutan, yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Blusukan ke Rumah Ratu Juliana di Salatiga

17 April 2017   15:34 Diperbarui: 17 April 2017   17:43 5 42 38
Blusukan ke Rumah Ratu Juliana di Salatiga
Gedung megah yang konon untuk tempat tinggal sang Ratu (foto:dok pri)

Bangunan yang sekarang menjadi Balai Kota Salatiga, ternyata merupakan gedung uzur yang dibangun sekitar tahun 1850 ketika pemerintahan kolonial Belanda masih bercokol di Bumi Pertiwi. Hebatnya, gedung tersebut sebenarnya dipersiapkan untuk tempat tinggal ketika Ratu Juliana berkunjung ke negeri jajahannya. Seperti apa kondisinya sekarang? Berikut catatan ketika blusukan untuk Kompasiana.

Pada zaman serba tidak enak, gedung yang terletak di jalan Sukowati nomor 51 Kota Salatiga ini, disebut sebagai Gedung Papak. Nama itu muncul karena bentuk bangunannya rata (bahasa Jawa Papak), hal tersebut berbeda dibanding gedung- gedung lainnya di zaman pemerintahan kolonial Belanda yang mayoritas arsitekturnya berkiblat pada gaya Eropa.

Gerbang menuju balaikota, lapor dulu blusukan kemudian (foto: dok pri)
Gerbang menuju balaikota, lapor dulu blusukan kemudian (foto: dok pri)
Dibangun oleh seorang petinggi militer Belanda bernama Baron van Heeckeren, sebenarnya gedung ini lebih pas dijadikan tempat tinggal pejabat di zaman itu. Pasalnya, selain menempati lahan yang luas, bentuk bangunannya juga relatif besar. Di mana, bangunan utama dilengkapi ruang tamu dan ruang pertemuan yang lapang. Halamannya juga sangat longgar, mungkin berukuran 25 meter kali 100 meter.

Di sisi kanan kiri bangunan utama, terdapat bangunan sayap yang sekarang difungsikan sebagai kantor Humas (di sisi kiri) sedangkan sebelah kanan kantor Setda. Di bagian belakang terdapat sejumlah bangunan yang dipergunakan sebagai kantor juga. Agak sulit membayangkan betapa kayanya Baron van Heeckeren saat itu. Sebab, hampir seluruh atapnya menggunakan cor. Hanya bangunan sayap kiri yang menggunakan genting tanah liat.

Pintu dan jendela depan dibalut kaca (foto: dok pri)
Pintu dan jendela depan dibalut kaca (foto: dok pri)
Dari samping sebelah kanan, terdapat tangga naik menuju balkon atas. Ketika kita menapaki anak tangga, begitu tiba di balkon, maka terlihat betonan yang telah berusia ratusan tahun. Sangat lapang dan mempunyai jalan penghubung antara balkon satu dengan lainnya. Mungkin, zaman pemerintahan kolonial Belanda, tempat ini digunakan untuk bersantai di sore hari. Sementara para tuan serta nyonya menikmati matahari yang akan tenggelam, sebaliknya jongos mau pun bedinde menyajikan teh atau susu hangat sembari tertunduk- tunduk.
Tangga menuju balkon (foto: dok pri)
Tangga menuju balkon (foto: dok pri)
Minggu (16/4) sore, saya sengaja menyempatkan diri menyambangi bangunan yang sekarang disebut Balai Kota ini. Usai melapor ke penjagaan dan menyerahkan KTP (karena diminta anggota Sat Pol PP yang berjaga), akhirnya saya diijinkan blusukan sepuasnya. Ketika melakukan penyisiran, terdapat beberapa tembok yang ditumbuhi tanaman liar. Aneh, entah sengaja ditanam atau memang tumbuh sendiri, yang jelas warna hijaunya merusak dominasi warna putih.

Dari balkon, dulunya orang bisa langsung melihat indahnya gunung Merbabu. Sayang, sekarang di bagian belakangnya berdiri gedung bertingkat yang mengakibatkan mata terhalang menyaksikan pemandangan. Di lokasi ini, kendati relatif bersih namun sama sekali tidak difungsikan. Padahal, kapasitasnya mencapai 50 an orang sehingga bila dimanfaatkan untuk kegiatan lain maka keberadaan balkon bakal sangat optimal.

Begini lapangnya balkon yang ada (foto: dok pri)
Begini lapangnya balkon yang ada (foto: dok pri)

Dibeli Rp 300.000
Bangunan nan cantik, berusia hampir 167 tahun dan sehari- harinya dipergunakan sebagai kantor Wali Kota Salatiga, ternyata dengan kasat mata ditemukan tanaman liar di tembok mau pun dekat kusen. Bahkan, di dekat kabel listrik, terlihat jelas bibit beringin dan suplir setinggi sekitar 15 cmseakan berlomba tumbuh melawan tanaman liar di atasnya. Keren, seakan tak ada manusia satu pun yang bakal mengusiknya.

Bibit suplir dan beringin yang tumbuh di tembok (foto: dok pri)
Bibit suplir dan beringin yang tumbuh di tembok (foto: dok pri)
Dari pojok halaman, gedung yang saya ambil gambarnya, terlihat anggun dengan dominasi warna putih berpadu cokelat kehitaman di kusen dan daun pintu mau pun jendelanya. Lantainya terbuat dari marmer berukuran sekitar 1 meteran persegi, sedangkan pintu serta jendela depan dibalut kaca bening. Sehingga, kentara sekali pada jaman dulu pemiliknya mempunyai cita rasa level dewa.
Kalau yang ini sepertinya bibit suplir (foto: dok pri)
Kalau yang ini sepertinya bibit suplir (foto: dok pri)
Sejak tahun 80-an, yang saya ketahui, halamannya ditanami rumput yang terawat. Pasalnya, saban pagi dan jelang usai jam kerja dipergunakan untuk apel para pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan pemerintah kota (Pemkot) Salatiga. Hingga menyusuri bagian samping serta belakang, maka akan terlihat betapa kokohnya bangunan ini. Kesimpulannya, gedung mau pun bangunan kalau pengerjaannya tidak dikorupsi maka akan tahan beratus tahun.

Berdasarkan data, gedung yang mewah tersebut, sebenarnya dibangun untuk kepentingan Ratu Juliana ( Ratu kerajaan Belanda) yang lahir di Den Haag tanggal 30 April 1909. Konon, bila sang Ratu berkunjung ke ke negeri jajahannya akan menjadikan Rumah Papak sebagai tempat tinggalnya. Sayang, tak ada literatur yang detail apakah Juliana jadi berkunjung ke Salatiga atau tidak. Demikian pula kenapa harus dipersiapkan jauh–jauh hari sebelum Juliana lahir.

Begini pemandangan dari balkon (foto: dok pri)
Begini pemandangan dari balkon (foto: dok pri)
Ratu yang bernama lengkap Juliana Louse Marie Wilhelmina van Oranje Nassau sendiri mulai menduduki tahta kerajaan sejak tanggal 6 September 1948 hingga 30 April 1980. Artinya, dia memegang tampuk kekuasaan setelah Indonesia merdeka. Bila rumah di Salatiga disebut–sebut untuk tempat tinggalnya, maka telah terjadi kerancauan. Semoga ada pakar sejarah yang meluruskannya.

Yang pasti, sebelum jatuh ke tangan Pemkot Salatiga, telah bergonta ganti pemilik. Bahkan, bangunan ini pernah dimanfaatkan sebagai markas pasukan Belanda. Hingga militer Jepang merangsek masuk ke Indonesia, gedung yang sama sempat dijadikan markas Kempeitai (pasukan militer Jepang) dan paska kemerdekaan Republik Indonesia, disewa Pemkot Salatiga. Waktu itu, biasa disebut Kotapraja mungkin karena Kota Salatiga masih bernama Kotamadya. Sedangkan Kotapraja ditetapkan tahun 1917, lumayan uzur kan.

Dalam perjalanannya, tahun 1950 bangunan ini akhirnya dibeli pihak Pemkot senilai Rp 300.000! Jangan heran, uang sebesar itu di zaman orde lama sangat besar. Hingga sekarang, seluruh gedung yang ada tercatat sebagai bangunan cagar budaya dengan nomor intentaris 11-73/Sla/057. Selama lima tahun ke depan, nantinya Yulianto SE MM dan M. Haris bakal berkantor di sini. Mampukah duet petahana tersebut memimpin Salatiga secara bijak? Mari kita ikuti bersama. (*)