Bambang Setyawan
Bambang Setyawan buruh harian lepas

Bekerja sebagai buruh serabutan, yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Begini Cara Salatiga Menghargai Pahlawannya

20 April 2017   16:23 Diperbarui: 23 April 2017   12:54 1532 25 17
Begini Cara Salatiga Menghargai Pahlawannya
Monumen pahlawan nasional di Salatiga (foto: dok pri)

Kota Salatiga yang pada zaman pemerintahan kolonial Belanda dianggap sebagai poros vital untuk mempertahankan kekuasaannya, ternyata memiliki tiga putra daerah yang berstatus sebagai pahlawan nasional. Sosok pahlawan tersebut terdiri atas Laksamana Muda Yosaphat Sudarso, Marsekal Madya Agustinus Adisucipto, dan Brigadir Jendral (Brigjen) Sudiarto.

Para pahlawan yang biasa disebut Yos Sudarso, Adisucipto, dan Sudiarto selain diabadikan sebagai nama jalan protokol, untuk menghormati jasanya juga dibuatkan monumen berikut patungnya di Lapangan Pancasila, Kota Salatiga. Sayang, monumen yang dibangun tahun 1974 tersebut kondisinya lumayan memprihatinkan. Selain bentuknya terlalu sederhana, bahkan layak disebut sangat ketinggalan jaman, juga tak ada keterangan nama-nama pahlawan.

Tiga patung pahlawan asal Kota Salatiga (foto: dok pri)
Tiga patung pahlawan asal Kota Salatiga (foto: dok pri)

Tiga patung yang terdiri atas Brigjen Sudiarto, Laksamana Muda Yos Sudarso, dan Marsekal Madya Adisucipto dibuat seukuran orang dewasa atau seperti aslinya dicat warna hijau, berlatar belakang tembok yang di atasnya terdapat lambang pemerintah Kota Salatiga dan paling atas lambang burung garuda. Sedangkan bagian bawah terdapat tulisan Karya Sarana Mrih Raharja. Dipagar besi setinggi 1 meter, namun pintunya terbuka lebar sehingga orang bebas keluar-masuk, termasuk saat kebelet buang air kecil.

Dulu, bagian bawah dekat fondasi merupakan tembok plesteran yang dipasang ubin abu-abu. Namun, karena di kanan-kiri monumen ditanam dua pohon peneduh, maka dalam perkembangannya akar pohon sukses mendongkel adonan semen. Sampai sekarang hal tersebut dibiarkan seakan pihak terkait ingin memperlihatkan sesuatu yang terkesan alami.

Begini bagian bawah monumen (foto: dok pri)
Begini bagian bawah monumen (foto: dok pri)

Di bagian belakang monumen terdapat peta Kota Salatiga dan relief yang menggambarkan perjuangan zaman dulu. Untuk peta, sepertinya dibuat menyesuaikan batas wilayah Salatiga di tahun 1970-an yang hanya terdiri atas 1 kecamatan alias 9 kelurahan. Sementara sekarang sudah memiliki 23 kelurahan serta 4 kecamatan. Kondisi peta maupun relief sama-sama kusam, di bagian bawah (fondasi) terlihat retak-retak. Bahkan beberapa tegelnya terlepas.

Begini bagian bawah belakang monumen (foto: dok pri)
Begini bagian bawah belakang monumen (foto: dok pri)

Kondisi monumen pahlawan nasional kebanggaan warga Salatiga ini, jauh berbeda dengan patung lima kuda di halaman kantor DPRD Kota Salatiga. Baik dari segi kualitas maupun estetika layak disebut lebih memanusiakan kuda dibanding jasa pahlawan-pahlawannya. Di mana, lima patung kuda yang belum lama dibuat, terlihat mentereng karena tingginya mencapai sekitar 4 meteran.

Didominasi warna putih, kuda-kuda itu seakan melambangkan kekuatan dan semangat yang tiada kenal kosakata berhenti. Siapa pun yang melihatnya pasti mampu mengenali bahwa patung-patung itu adalah seekor binatang, tapi bila ditanya apa relevansinya dengan Republik ini, orang bakal terbengong-bengong sulit menjawabnya. Mungkin, pada zaman pemerintahan kolonial Belanda, kuda dianggap sangat berjasa sebagai penarik dokar.

Bandingkan dengan lima pahlawan ini (foto; dok pri)
Bandingkan dengan lima pahlawan ini (foto; dok pri)

Penghargaan dari Luar Salatiga                

Bila merunut pembuatan monumen tiga pahlawan nasional di Lapangan Pancasila di tahun 1974, kemungkinan besar saat APBD Kota Salatiga baru berkisar Rp 100 jutaan. Sekarang ini, setelah 43 tahun besar APBD sudah membengkak berlipat-lipat. Tahun 2016 lalu saja mencapai hampir Rp 1 triliun, namun keberadaan patung produk Orde Baru sama sekali tak alami perubahan sedikit pun.

Padahal, seni patung telah mengalami kemajuan pesat. Bukan hanya dari bahan baku semen belaka, sekarang beragam bahan pembuatan patung seperti fiber, tembaga hingga bebatuan andesit banyak digunakan para seniman. Hasilnya, selain memiliki nilai artistik yang tinggi, juga terkesan lebih natural. Entah kenapa pemerintah Kota Salatiga belum memikirkan monumen pengganti.

Tak bijak bila menyoroti keberadaan monumen tentang tiga pahlawan nasional asal Salatiga tanpa mengupas bagaimana sepak terjang mereka dalam mempertahankan negara ini. Pasalnya, mereka bertiga sudah mengorbankan nyawanya demi terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Adisucipto (ejaan lama Adisoetjipto) dilahirkan di Salatiga tanggal 4 Juli 1916, setelah lulus dari Algemene Middelbare School (AMS) tahun 1936 dirinya secara diam-diam mendaftar ke Sekolah Penerbangan Militer (Militaire Luchtvaart Opleidings School) di Subang, Jawa Barat. Lulus dengan predikat sangat memuaskan, ia berhak menyandang pangkat Letnan Muda (sekarang Letnan Dua) udara.

Dalam buku Bakti TNI Angkatan Udara tercatat Adisucipto yang bertugas di skadron Pengintai berulangkali melakukan tugas operasi dengan gemilang. Tahun 1947, dirinya menerima perintah untuk mencari bantuan obat-obatan demi kepentingan Palang Merah Indonesia (PMI). Menggunakan pesawat angkut jenis Dakota VT-CLA (pesawat hibah), sebenarnya penerbangan ini telah mendapat persetujuan pihak Belanda maupun Inggris.

Sungguh celaka, tanggal 29 Juli 1947 saat kembali ke Indonesia dengan membawa berbagai obat-obatan, mendadak muncul dua pesawat pemburu Kitty Hawk milik Belanda. Menjelang pesawat Dakota melakukan pendaratan di Maguwo, secara membabi buta pesawat Belanda memberondongnya dengan senjata mesin. Akibatnya fatal, Dakota terbakar dan jatuh hingga membuat Adisucipto serta tujuh rekannya gugur.

Sedangkan juniornya, yakni Yos Sudarso dilahirkan di Salatiga tanggal 24 November 1925 sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Pelayaran Semarang dan mengikuti pendidikan opsir di Giyu Usau Butai. Karena menjadi salah satu lulusan terbaik, tahun 1956 Presiden Soekarno mengirimnya ke Akademi Angkatan Laut Belanda. Pasca dilantik menjadi perwira Angkatan Laut, dirinya bertugas di berbagai kapal perang, sebagai komandan tentunya.

Ketika pemerintah RI menggelar operasi Tri Komando Rakyat (Trikora) tanggal 19 Desember 1961, untuk membebaskan Irian Barat. Presiden Soekarno menunjuk Yos Sudarso sebagai komandan operasi. Tanggal 15 Januari 1962, Yos yang berada di KRI Macan Tutul tengah memimpin patroli laut bersama beberapa kapal perang lainnya. Rupanya hal ini membuat pihak Belanda meradang, mereka menyiapkan kekuatan tempur guna menggempur pasukan Indonesia di lautan.

Dengan mengerahkan kapal perusak yang didukung pesawat terbang, siap menghalau kapal-kapal perang milik Angkatan Laut Indonesia. Celakanya, Yos Sudarso selaku komandan tak sudi mundur. Aibatnya fatal, segera terjadi peperangan di tengah lautan. Karena kekuatan memang tidak seimbang, Yos sempat mengeluarkan perintah agar kapal perang lainnya mundur. Dan, keputusan itu dibayar mahal. Kapal perang Macan Tutul yang berada di bawah komandonya dihajar meriam pasukan Belanda hingga menyebabkan dirinya gugur.

Bila Adisucipto dan Yos Sudarso relatif mudah ditemukan perjalanan hidupnya, sebaliknya Brigjen Sudiarto masih belum ada pakar sejarah yang menelusurinya. Yang pasti, penyandang pangkat bintang satu Angkatan Darat ini juga dianugerahi gelar pahlawan nasional. Untuk menghormati jasa para pahlawan, banyak daerah yang memberi nama jalan dengan nama mereka. Bahkan nama Yos Sudarso disematkan di Pelabuhan Ambon serta kapal perang RI.

Demikian pula dengan Adisucipto, namanya diabadikan di Bandara internasional di Sleman, DIY sekaligus pangkalan militer Angkatan Udara. Lain lubuk lain ikannya, bila daerah lain memberikan penghormatan yang tinggi, sementara di kampung halamannya patung tiga pahlawan nasional tersebut terlihat lesu tanpa ekspresi. Entah sampai kapan akan tetap begitu, semoga Salatiga punya rencana besar yang sengaja disembunyikan. (*)