Interaksi yang Begitu Singkat dengan Pasien yang Begitu Hebat

11 Mei 2012 20:01:38 Dibaca :

"Allahuakbar...allahuakbar..." lirih takbir dan sesekali diselingi kalimat syahadat tidak putus-putusnya mengalir dari bibir bapak tua yang ketika itu kami antar menuju ruang intervensi jantung RSUP Dr. Sardjito. Seorang bapak berusia 65 tahun dengan diagnosa medis CHF dan terpasang temporary pace maker; sebuah alat yang singkat kata, tanpa alat ini jantung akan 'malas-malasan' atau bahkan 'mogok', tidak mau berdenyut. Selama saya berdinas di ruang ICCU selama 1 minggu, bapak ini termasuk salah satu dari sekian pasien yang sudah membaik kondisi umumnya. Sebenarnya, beliau bukan pasien yang saya ambil sebagai kasus kelolaan. Akan tetapi, pembimbing klinik memilih beliau sebagai kasus saya untuk ujian hari Jumat tanggal 16 Desember lalu. Dua hari terakhir yang memberi pencerahan bagi saya.

Hari Jumat, ketika saya ujian, kondisi beliau bagus sekali. Walhasil tindakan yang saya lakukan hanya merekam EKG, dressing injection plug, membantu memberikan obat oral, membantu memberikan diet, dan menghitung balance cairan.

Hari Sabtu, ketika saya mengikuti operan pagi, kondisi beliau memburuk. Rupanya TPM beliau beberapa kali 'loss' sejak pukul 5 tadi. Bahkan di tengah-tengah saya suapi sarapan, beliau terengah-engah dan mengeluh mau pingsan. Sarapan dihentikan, si bapak hanya minum susu, dan setelah itu langsung dibawa ke ruang tindakan untuk direposisi. Satu jam kemudian, si bapak kembali ke ICCU. Tapi tak lama, beliau mengeluh kedinginan. Oke, AC segera saya matikan. Namun hal tersebut tidak membantu. Beberapa menit kemudian beliau menggigil hebat. Monitor menunjukkan TPM yang baru saja direposisi kembali 'loss'. Setelah distabilkan untuk sementara, beliau segera dilarikan ke ruang intervensi jantung. Oleh dua orang perawat, seorang dokter dan saya yang masih ingusan.

"Maaf ya mbak, jadi nambah-nambahi tugas panjenengan," beliau masih sempat-sempatnya berkata demikian.

"Tidak pak, ini sudah menjadi tugas saya," jawab saya menahan rasa tercekat di tenggorokan. Betapa baik orang yang sedang kritis ini, dan betapa sedikit yang bisa saya lakukan untuk membantunya.

Alhamdulillah, reposisi yang kedua kalinya ini berjalan lancar. Tidak sampai tiga puluh menit, si bapak sudah kembali kami bawa ke ICCU untuk monitoring lebih lanjut.

"Saya kira saya tadi sudah mau berakhir mbak," katanya dengan pandangan mata menerawang.

"Alhamdulillah pak, bapak masih diberi kesempatan oleh Allah SWT," timpal saya.

"Iya mbak, namanya juga ikhtiar. Tapi seandainya saya harus menjemput takdir, entah sekarang, besok atau lusa, saya sudah siap. Saya sudah diberi begitu banyak kesempatan. Jantung saya ini sudah bekerja lama."

"Tapi harus tetap optimis ya Pak?"

Si bapak mengangguk dan tersenyum penuh keyakinan.

Siang harinya, pukul 14.30....

"Pak, saya mau mohon pamit. Ini hari terakhir saya dan teman-teman dinas di ICCU. Mulai besok Senin kami akan melanjutkan dinas di ruangan lain. Mohon maaf kalau selama saya merawat bapak, banyak sekali kekurangan dan hal-hal yang kurang berkenan."

Beliau terlihat kaget, "Ooh...sudah mau pindah? Saya juga mengucapkan banyak terimakasih dan minta maaf mbak kalau banyak merepotkan. Pesan saya, semoga sukses. Apa saja yang panjenengan impikan, semoga berhasil. Dengan catatan panjenengan harus benar-benar mengupayakannya. Cita-cita yang kita harapkan tidak akan terwujud, kecuali kita melakukan dua hal: pertama, selalu berdoa mohon petunjuk dariNya. Kedua, cintailah pekerjaanmu. Kamu seorang perawat, pekerjaan yang akan sangat banyak berhubungan dengan manusia. Cintailah manusia-manusia yang sedang sakit ini dengan sepenuh hati. Oh ya, panjenengan masih single? Yap, semoga semua kemudahan datang bersamaan untuk panjenengan. Jaga diri baik-baik ya, selalu disiplin! Tetap semangat ya..."

Kita harus selalu mengingat, bahwa bukan pasien yang benar-benar membutuhkan kita. KITA-lah yang benar-benar membutuhkan mereka. Karena pasien, memberi kita kesempatan untuk menerapkan apa yang selama ini kita pelajari dari buku, dan memberikan lebih banyak lagi pelajaran yang tidak tercantum dalam buku manapun.

Sampai berjumpa bapak, semoga Allah memberi kesempatan untuk kita berjumpa kembali, kapanpun itu...

Ayyu Sandhi

/ayyusandhi

People may forget who you are, but they will not forget what you've done.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?