Philip Ayus
Philip Ayus

menjaga kewarasan lewat tulisan | twitter: @tweetspiring.

Selanjutnya

Tutup

Jakarta

Revolusi Mental (Belum Terjadi) di Parkiran Gramedia Pasar Baru

19 Oktober 2015   19:39 Diperbarui: 19 Oktober 2015   19:41 304 2 0

Sore tadi sekitar pukul empat (19/10), saya mengambil motor saya yang terparkir di depan Gramedia Pasar Baru, Jakarta Pusat. Seperti biasa, petugas parkir dengan seragam biru datang menghampiri, meskipun beberapa waktu sebelumnya, saya dibiarkan memarkir kendaraan sendiri. Saya pun menyodorkan uang Rp 5 ribu, dan setelah menerima uang tersebut, si juru parkir merogoh kantong bajunya yang tak beridentitas (tanpa nama), kemudian memberikan sekeping uang seribu rupiah kepada saya.

“Kok cuma seribu?” Tanya saya, “Bukankah tarif parkir motor dua ribu? Ada karcisnya?”

Si juru parkir kemudian mengeluarkan segepok karcis parkir dari kantong celananya.

“Banyak setoran, Bos,” Demikian kata si juru parkir sambil mengambil dua lembar karcis, “Ke Satpol, ke Polisi…” lanjutnya sambil menyodorkan dua lembar karcis tersebut kepada saya.

Entah dia berkata jujur atau tidak, saya tidak tahu. Yang saya tahu, dia memakai seragam resmi juru parkir, hanya tanpa nama.

Karcis parkir yang diberikannya kepada saya memang karcis parkir untuk sepeda motor. Hanya saja, terlihat jelas bahwa karcis tersebut telah dicoret dengan spidol. Angka “2” pada “2.000” ditebali dengan spidol hitam menjadi angka “4” dan kata “dua” pada “dua ribu” dicoret dengan spidol hitam hingga tak begitu terlihat.

[caption caption="Begini penampakan karcis parkir aspal (asli tapi palsu) di depan Gramedia Pasar Baru"][/caption]

Dan, ini bukan pengalaman pertama kali bagi saya. Beberapa waktu yang lalu, saya juga pernah hendak dimintai empat ribu rupiah untuk parkir sepeda motor di tempat yang sama. Pada waktu itu, juru parkir belum berseragam, dan yang lebih parah, karcis parkir yang diberikan berupa kertas fotokopian.

Dari kedua pengalaman saya menjadi pelanggan parkir di depan Gramedia Pasar Baru tersebut, memang ada perubahan secara fisik, yakni juru parkir mengenakan seragam (meski tanpa label nama) dan memegang karcis parkir asli (meski dicoret dengan spidol). Akan tetapi, sekadar perubahan fisik tentu takkan membuat masyarakat kita lebih baik. Kita perlu perubahan mental. Kita perlu revolusi mental. Dan dari kisah saya, sudah jelas bahwa revolusi mental itu belum terjadi.

Entah sudah berapa pengguna jasa parkir di depan Gramedia Pasar Baru yang harus membayar lebih dari yang seharusnya. Entah pula, sudah berapa rupiah yang masuk ke pundi-pundi si juru parkir dan (jika pengakuannya benar) oknum-oknum petugas di sana.

Quo vadis, Bapak Basuki Tjahaja Purnama? Quo vadis, DKI Jakarta?