Renungan untuk yang Hobby Haji dan Umroh

23 Mei 2012 04:36:59 Dibaca :

Bismillah.



Ditulis dan dibagi dengan nama Allah,

Sebuah renungan suci bagi yang dianugerahi keluasan rizki. Sehingga berpikir bahwa ibadah haji dan umrohnya harus terus diulang-ulang, sementara masih banyak gelandangan mengais-ngais makanan dari tempat sampah, kaum papa yang tidak mampu berobat, bayi-bayi yang kekurangan gizi dan lain-lain yang terkait dengan ketidaksejahteraan saudara-saudaranya.



Adalah Abu Abdurrahman Abdullah bin Mubarak al-Hanzhalial al Marwazi, yang lahir tahun118 H/736 M. Ia ahli hadist, seorang petapa yang termasyhur,ahli dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, antara lain dibidang gramaika dan kesusastraan. Ia adalah seorang saudagar kaya yang banyak memberi bantuan kepada orang-orang miskin. Ia meninggal dunia di kota Hit yang terletak ditepi sungai Eufrat pada tahun 181H/797 M.

Abdullah bin Mubarak berkata:



Aku adalah seorang yang sangat suka menunaikan ibadah haji. Bahkan setiap tahun aku selalu berhaji. Pernah pada suatu hari, seperti biasanya setiap aku akan menunaikan ibadah haji, aku mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan keberangkatanku.

Aku pergi ke pasar unta dengan membawa lima ratus dinar untuk membeli seekor unta untuk perjalanan hajiku. Ternyata uangku tidak cukup untuk membeli seekor unta. Maka aku pulang kembali ke rumah.



Namun di tengah perjalanan, aku melihat seorang wanita sedang berdiri di tempat sampah. Dia mengambil bangkai seekor ayam dan membersihkan bulu-bulunya, tanpa menyadari kehadiranku di dekatnya.

Aku menghampirinya dan berkata kepadanya, "Mengapa engkau melakukan ini, wahai hamba Allah?"


Wanita itu menjawab,



"Tinggalkan aku, dan urus saja urusanmu sendiri! Daging ini haram untukmu tetapi halal untukku"

Aku berkata, "Demi Allah, beritahukan kepadaku keadaanmu yang sebenarnya!"


Wanita itu berkata,



"Baiklah, akan kukatakan keadaanku yang sebenarnya karena engkau telah memaksaku dengan bersumpah atas nama Allah. Ketahuilah! Sesungguhnya aku adalah wanita Alawiyyah (keturunan nabi SAW). Aku mempunyai tiga orang anak kecil dan suamiku telah meninggal dunia. Sudah tiga hari ini, aku dan anak-anakku belum makan apa-apa. Aku sudah mencari sesuap nasi kemana-mana demi tiga orang anakku, namun aku tidak menemukannya selain bangkai ayam ini. Maka aku akan memasak bangkai ini karena ia halal untuk aku dan anak-anakku."

Ketika aku mendengar apa yang dikatakan wanita itu, sungguh bulu kudukku langsung berdiri tegak, hatiku terasa tersayat-sayat oleh derita mereka.


Aku berkata dalam hati,



"Wahai Ibnu Mubarak, HAJI MANA yang lebih mulia daripada menolong wanita ini?"

Kemudian aku berkata kepada wanita itu,


"Wahai wanita Alawiyyah, sesungguhnya bangkai ayam ini telah diharamkan untukmu. Bukalah bungkusanmu, aku ingin memberimu dengan sedikit pemberian."



Lalu wanita itu mengeluarkan sebuah bungkusan dan aku pun menumpahkan semua uang dinarku ke dalam bungkusan itu.

Wanita itu langsung berdiri tergesa-gesa karena bahagia dan dia mendoakan kebaikan untukku. Kemudian aku pulang ke rumah, sementara keinginanku untuk pergi haji sudah pupus. Lalu aku menyibukkan diri dengan banyak istighfar dan beribadah kepada Allah. Rombongan haji pun mulai berangkat ke Baitullah.


Dikisahkan bahwa rombongan haji itu telah melihat Ibnu Mubarak, di Mekkah.



Dalam mimpinya Ibnu Mubarak bertemu Rasulullah SAW datang dan bersabda padanya: “:

"Wahai Ibnu Mubarak, engkau telah memberikan uang dinarmu kepada salah seorang keturunanku. Engkau telah melapangkan kesusahannya dan engkau telah memperbaiki kondisinya dan anak-anaknya. Maka Allah telah mengutus malaikat dalam rupamu. Malaikat itu menunaikan haji untukmu setiap tahun. Dan pahala untukmu akan mengalir terus hingga hari kiamat." Aku pun terbangun dari tidurku. Aku bersyukur dan memuji kepada Allah atas segala karunia-Nya kepadaku”.



Alangkah bahagianya Abdullah bin Mubarak Allah tetap menghajikannya dengan menggantikan untuknya seorang malaikat yang akan menghajikannya setiap tahun.

Maha benar Allah yang tidak menyia-nyiakan amalan hambanya. Ia telah membahagiakan Rasulullah SAW karena menolong keturunannya. Tentulah kita juga akan sangat berterima kasih ketika seseorang menolong keturunan kita atau anak kita kepada orang yang telah menolong itu. Dan siapa yang membahagiakan Rasulullah SAW, maka ia telah membahagiakan Allah SWT.



Ternyata Allah memerintahkan Malaikat untuk menghajikan dia setiap tahun.

Itu hanyalah renungan sebuah kisah, tidak ada paksaan untuk diikuti. Dari sini diambil kisah tersebut http://rianalbins.blogspot.com/2011/07/malaikat-menunaikan-haji-setiap-tahun.html


Terimakasih sudah membaca,


Salam bahagia penuh karya!

Aridha Prassetya

/aridhaprassetya

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Pemerhati Masalah Ketidakbahagiaan
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?