Wisata

Fahri Hamzah Is Hero

16 Juli 2017   05:43 Diperbarui: 16 Juli 2017   07:00 74 0 0

Fenomena yang terjadi belakangan memang sangat menarik. Dimulai dengan manuver politik fahri hamzah, anggota fraksi Partai Keadilan Sejahtera yang juga menjadi pimpinan DPR, namun konon tidak diakui oleh partai pengusungnya. Yang dilanjutkan dengan kembali maraknya pengungkapan kasus e ktp. Dalam kasus ini, semua masyarakat atau mungkin hanya sebagian saja sepakat, bahwa partai Demokrat "habis" oleh kasus ini

Namun Demokrat sekarang tetap memainkan perannya sebagai "penyeimbang", atau saya lebih suka menyebutnya sebagai "pengintip", yang apabila ada sedikit kesempatan, pasti akan dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Kembali lagi ke DPR, Fahri hamzah sebagai ketua DPR, menginisiasi bergulirnya hak "angket" DPR untuk mempertanyakan pengungkapan penyidikan dalam hal ini saksi MIryam S Haryani. Namun tentu saja, gerakan ini adalah upaya daripada perlawanan anggota DPR terhadap "superioritas" KPK. 

Ada banyak sekali, pihak yang memang sudah lama ingin lembaga pemberantasan korupsi ini lenyap. Terlepas daripada isu yang baru-baru ini berkembang. Lalu drama kembali berlanjut, dengan penyebutan Prof Amien Rais dalam sidang kasus e-ktp, yang juga melibatkan mantan ketum PAN Sutrisno Bachir. Tentu saja, PAN melawan. dan ini agaknya cukup menguatkan beberapa fraksi di DPR yang tadinya tidak sepakat dengan hak angket, berubah fikiran. 

Namun sebenarnya, apa final result yang diinginkan oleh DPR? tak jelas. Andaikata pansus yang ada di DPR ini mampu untuk mengungkap sesuatu, tentu wewenang nya tidak akan bisa menindak seperti lembaga penegak hukum yang ada, Memang penulis, melihat kejadian ini tidak lebih daripada manuver politik sejumlah politisi di senayan, yang berhasil membuat pusaran isu dan menarik perhatian sebagaian besar masyarakat indonesia .

Penulis juga melihat bahwa rangkaian kasus ini, sangat menguntungkan Fahri Hamzah yang dianggap bertanggung jawab sebagai inisiator yang getol ingin KPK berbenah(bubar). Fahri hamzah juga hadir sebagai garda terdepan yang terliput oleh media dan selalu menjadi pembicara apabila isu KPK vs DPR ini mencuat. Tentu kita juga tidak memungkiri, bahwa kepercayaan masyarakat kepada KPK menurun. Kesan yang terbangun dalam drama KPK vs DPR ini menurut penulis, KPK seakan menjadi lembaga dewa, yang tidak mau untuk dievaluasi. Isu isu yang dihembuskan oleh polisi anti KPK tentu dengan argumen yang rasional, akhirnya membawa pada tujuan mereka, pelemahan KPK.

Apakah KPK melemah ? penulis menyatakan "iya". Hal ini pertama kali didengar oleh penulis dalam statement Dahnil Anzar Simanjuntak, ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, yang menyatakan bahwa, memang drama yang terjadi ini, tidak hanya menyebabkan kegaduhan-kegaduhan ditingkat masyarat atau eksternal KPK saja, tetapi diinternal KPK terjadi "friksi" yang menyebabkan soliditas KPK itu sendiri berkurang.

Saya sebagai masyarakat biasa, tentu berharap, bahwa KPK tetap menjalankan fungsi dan perannya sebagai lembaga anti rasua dan konsisten pada tugasnya. Tentu nya juga KPK karena dalam menjalankan tugasnya berhadapan dengan orang-orang pemilik modal, pastinya hampir pasti akan selalu ada perlawanan. 

Tapi justru yang membuat penulis lebih tertarik menulis artikel ini, adalah peran dan popularitas Fahri Hamzah, dari gerakan 212 dan seterusnya yang terus fokal, dan mampu lolos dari semua jeratan politis. Tentu potensi-potensi terjadinya manuver politik yang jauh dari prediksi berbagai kalangan, itu tetap ada. Hingga saat ini pun, fahri tetap mampu duduk sebagai ketua DPR walau sudah berseteru dengan partai pengusungnya. Yang penulis duga, ada "gerbong baru" yang saat ini bersama dengannya. Karena tentu saja, dalam dunia politik, tidak bisa kita "bermain" sendirian. anda tau jawabannya ?