WawasanNews, 08 Juli 2013

27 Juli 2013 08:13:56 Dibaca :

Tragedi Suatu Musim PADA suatu malam yang hening, ketika rembulan menggantung di temaram langit, di antara reranting ranggas dan tua, beberapa ekor hering bertengger dengan sorot tajam. Sesekali ia mematuk dahan membersihkan sisa darah di paruhnya sehabis memangsa bagkai binatang yang lolos dari buruan. Binatang itu tewas setelah bersusah payah melawan luka di tubuhnya yang kian parah. Ia berusaha melawan maut. Ia terkapar setelah gagal mencabut anak panah yang tembus ke jantungnya. Alam sekitar yang melihatnya seperti tak mampu berbuat apa-apa selain hanya memandang dengan penuh rasa iba. Hanya rerumputan hijau yang menyediakan diri sebagai tempat peristirahatan terakhir baginya. Hanya saja, kesedihan itu semakin menjadi-jadi setelah hering itu datang dan menyantap habis seluruh dagingnya dan hanya menyisakan tulang belulang secara berserakan. Sayangnya, tragedi itu belum terhenti sampai di situ. Sekawanan anjing datang lalu membawa tulang belulang itu ke segala penjuru, di sudut-sudut bumi. Alam raya menundukkan wajahnya sebagai ungkapan belasungkawa, duka cita, atau berkabung. Binatang itu adalah domba yang hampir saja melahirkan anaknya. Tak sebatas itu, ia juga meninggalkan ketiga anaknya di hutan belantara untuk mencari makan sesaat sebelum menyerah pada takdirnya, yang entah kini bagaimana nasibnya setelah ia tewas secara tragis. Entah, apakah anak-anaknya dijarah para pemburu, atau justru bisa menyelematkan diri masing-masing. Ia hanya ingat seruan pada anak-anaknya untuk segera lari dan menyelamatkan diri ke dalam hutan. Yogyakarta, 29 Mei 2013 Dua Dimensi BAGAIMANA kamu akan memberi makna atau arti dalam menjalani hidup bila berjalan secara kosong bukankah gelas itu takkan pernah memulihkan dahaga bila tanpa ada air di dalamnya? Tentunya setetes air takkan pernah ada bila sumbernya telah mengering mata air sama sekali tak terpengaruh oleh cuaca, sebab ia bisa muncul kapan saja bahkan ada di mana saja, hanya kerakusan itulah yang menjadikannya terhenti mengalir bukan karena tak ada, melainkan dihentikan Jika saja kamu mencari, pasti akan menemukan, Hanya keberadaannya di tempat yang jauh dan mungkin harus mematahkan tulang belulangmu sebagai tebusan dan penyadaran Apa yang tereguk olehmu bisa jadi merupakan rentetan kehidupan dari inti terkecil, lalu sampai pada dirimu, dan akhirnya kembali pada muasal kehidupan sebenarnya Apakah kelak kamu akan sampai pada hakikat keberadaan, atau justru akan hidup dalam ketiadaan? sibaklah ke dalam lubuk terdalam jiwamu! setidaknya kamu akan menemukan antara yang keruh dan yang jernih kamu juga akan menemukan sosok dirimu atau justru orang lain yang hidup dalam dirimu. Yogyakarta, 29 Mei 2013 Semestinya Kita I HATI adalah cahaya yang akan menerangi bentuk-bentuk pemikiran abstrak ia takkan menyamarkan mawar dari kegelapan, sebab aroma itu takkan pernah berdusta bagi penciuman yang tajam ia juga takkan merubah madu menjadi air tawar, terkecuali racun yang telah larut di dalamnya, maka kebinasaan hanya menjadi milik mereka yang telah mereguknya ia juga takkan menyelupkan jemari tangannya yang telah berlumur tanah kedalam bejana berisi air jernih, sebab takkan ada seorang pun mengambil manfaat darinya Seorang penderma takkan mengambil kembali hartanya, terlebih menjarah kembali dari tangan fakir-miskin, sebab sama artinya ia menghujamkan pedang ke dadanya, terkecuali bagi mereka yang terus menyebut kebaikan itu pada orang lain bermaksud menyombongkan diri, merekatak lebih seperti hering pemakan bangkai Keyakinan itu tidak ada dalam kata-kata, tidak pula dalam pikiran-pikiran, tapi pada hati, jiwa, yang diwujudkan dalam tindakan sebenarnya bagaimana mungkin kuda disebut keledai sekali pun wujudnya serupa? kuda memiliki kecerdasan, ketangguhan, dan memiliki wibawa, sedangkan keledai adalah sebaliknya dani tulah perumpamaan antara mereka yang benar-benar mencintai dan mereka yang hanya sekedar ingin mencari pelampiasan atas kepuasan hasrat nafsu binal Yogyakarta, 29 Mei 2013 Semestinya Kita II SEMESTINYA jiwa kita melebihi luasnya samudera, dan hati kita melebihi dalamnya lautan semestinya pula pikiran kita melebihi luasnya jagad raya, dan kita menjadi bagian di dalamnya, maka kita akan menjadi manusia seutuhnya seperti apa yang diinginkan oleh Tuhan Kita adalah kehidupan yang telah Tuhan ciptakan untuk menjadi pemimpin bagi diri sendiri dan bagi semesta bagaimana mungkin alam semesta ini jatuh dan berada dalam genggaman mereka yang jiwanya dangkal terlebih pikirannya terbatas pada ruang dimana di dalamnya sarat nafsu keserakahan? pastilah laju kehidupan akan dipenuhi prahara Akan ada banyak darah tertumpah untuk memenuhi kepuasan semu itu akan ada banyak airmata menggenang hingga kaki penuh dengan simbah airmata darah bercampur keringat Jiwa-jiwa kejam akan senantiasa menebarkan benih kebencian di ladang, sawah, atau tanah lainnya agar tumbuh jelmaan iblis hingga kelak akan sulit membedakan antara manusia dan setan jahaman. Yogyakarta, 29 Mei 2013 Buluh Perindu BULUH perindu mengalir lewat lorong senyap serasa memugar kembali serpihan tawar di titik nadir suara-suara lirih itu berubah menjadi rusuh dan gaduh laju pikir yang keruh tak mampu tertepis sebab derapnya begitu deras menghujani lantai kesendirian yang terus diringkus sepi Burung-burung imajiner terbang berkeliaran di langit-langit pikiran lalu mematuk dinding-dinding kepala hingga menghasilkan harmoni yang sangat kacau balau Kiranya ini bukan mozaik yang mempercantik lubang-lubang pada dinding hati ketika sedang dilahap rindu berbalut asmara ini bukan pula kisah romantika antar sejoli yang dikecam karena jalinan cintanya dianggap sundal tapi ini adalah bunga sundal yang senantiasa semerbakkan aroma wangi ketika malam menjelang Buluh perindu itu telah memilin riang hati dalam keliman rasa yang terhampar bak renda para pujangga di antara kemabukan bait syairnya pada sang kekasih. Yogyakarta, 06 Juni 2013 Masa Tua BAGAIMANA jika tubuh ini mulai menyurut kekuatannya, meringkih, dan mulai terjangkit penyakit. Bisa jadi tak banyak hal yang akan diperbuat selain hanya duduk di atas kursi roda, atau bertumpu pada sebatang kayu untuk menuntun, memapah, jejak langkah bahkan mungkin satu demi satu semua akan memisah, berkurang atau bahkan menjauh, termasuk rasa dan perhatian Tidak! Tak ada yang salah dalam hal ini, termasuk kehendak Tuhan atas diri ini, sebab memang inilah kenyataan di hari tua, dimana semua akan kembali pada masa-masa kesendirian dan mengandalkan Kemampuan diri sendiri Sanaksaudara, anak, dan lainnya memiliki urusan masing-masing yang wajib ditunaikan. Alangkah tak pantas memberatkan mereka yang sebenarnya masih merasakan beban berat menuju masa depan Inilah masa tua, dimana hari-hari akan terlewati dengan melawan sunyisepi hingga maut datang menjemput Biarlah jasat ini akan kembali ke asalnya dalam rupa sepantasnya. Yogyakarta, 06 Juni 2013 Ruang Murni MUNGKIN kamu perlu masuk ke dalam ruang terdalam dari diriku di sana ada ruang murni yang belum terjamah oleh apapun Pastilah kamu akan terbebas, bahkan lebih leluasa dari segala macam pikiran buruk dan kotor tentangku ketika berada di dalamnya, simaklah dan jangan gaduh di sanalah kamu akan menemukan apa saja tentangku dan akan kamu dapati kebenaran tentang siapa aku Aku bukanlah hantu, bukan pula jelmaan iblis, setan, berikut sekutunya. Aku juga bukan malaikat dengan segala ketaatan mau pun kebaikannya dan aku takkan pernah menyebut diriku sebagai apa Masuklah! Dengarkan apa saja yang terlahir di sana takkan ada tangis karena menahan beban derita, tak juga ada gelak tawa karena luap bahagia tapi akan kamu temukan sumur-sumur hikmah penuh keheningan yang akan melesatkan logika akan pula lejitkan keseluruhan akal dan jiwamu ke segala penjuru dimensi semesta Sekarang mari berdansa di lantai pemahaman ini, agar kita tetap membumi, tanpa hilang hakikat diri di antara kemegahan langit sebegitu luas untuk kita raih. Yogyakarta, 28 Mei 2013 Awal Musim Semi AWAL musim semi aku berlari menuju ladang, kebun, bahkan hamparan sawah sekedar ingin mencium aroma segar rerumputan atau ranum daun-daun muda. Angin senantiasa bersahabat hingga udara bukan lagi menjadi musuh bagi rongga dada. Tanah kering tak lagi tajam seperti belati dan tak menjelma duri yang kapan saja mengoyak kaki telanjang ini banyak kusaksikan orang berduyun-duyun keluar rumah, meninggalkan mimpi panjang di atas pembaringan, lalu memanggul peralatan untuk bercocok tanam Awal musim semi adalah simbol kebahagiaan hati, keberkahan, dan juga pertanda tergantinya penderitaan. Sebagian orang bersuka cita, namun tak menyesali kepergian musim gugur atau musim kemarau, sebab ketika pancaroba itu kembali datang, sebagian orang akan merasa bahwa hidup tak cukup hanya sekedar bermimpi, melainkan harus menumpahkan keringat bahkan jika perlu menumpahkan darah karenanya Awal musim semi memang bukan awal segalanya, dan musim lain juga bukan merupakan akhir dari segalanya, sebab itu adalah hukum alam yang tak bisa dilawan atau ditentang Di awal musim semi aku mendapati banyak cahaya, termasuk dari wajah-wajah orang-orang di sekitarku, meski ada ragam rahasia disembunyikan di balik lipatan senyuman Awal musim semi aku berlari menuju ladang, kebun, bahkan hamparan sawah sekedar ingin mencium aroma segar rerumputan atau ranum daun-daun muda, membasuh jiwaku yang masih diringkus sunyisepi. Yogyakarta, 29 Mei 2013 Sumber: http://www.wawasanews.com/2013/07/puisi-puisi-anam-khoirul-anam.html

Anam Khoirul Anam

/anamkhoirulanam_19

Anam Khoirul Anam: lahir di Ngawi, 26 Juni 1982. Pasca kuliah, ia begitu ingin serius dalam mengembangkan potensi menulisnya dan ingin lebih memperdalam jiwa sastrawinya lewat buah pikir dan lewat kreasi kreatif jemari-jemarinya yang ‘dingin’. Selain memperdalam dan mengembangkan kreatifitas menulisnya, ia juga mendirikan sebuah wadah kepenulisan agar lebih memberdayakan khazanah literasia: Anam Khoirul Anam Reader (AKAR).
email: anamer_19@yahoo.com
FB / PF: Anam Khoirul Anam
Twitter: @NAMe_19

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?