HIGHLIGHT

Menikmati Kota Bandung dengan 500 ribu Rupiah

01 November 2010 07:32:10 Dibaca :

Siapa bilang uang sedikit tidak bisa mengunjungi tempat-tempat wisata? Tidak bisa jalan-jalan? Saya sudah membuktikannya. Percaya atau tidak, inilah pengalaman saya. Dengan uang sebesar 500 ribu rupiah, saya menikmati keindahan kota Bandung. Tentunya ada tips dan trik yang mesti dilakukan untuk mencapai tujuan ini. Pembagian pos keuangan harus benar-benar ter-manage dengan rapi.

Kali ini saya ingin berbagi pengalaman wisata super murah. Dengan biaya lima ratus ribu rupiah per orang, saya dan lima orang teman menjelajahi kota Bandung, mulai dari Bandung Selatan, Bandung Utara dan Bandung kota. Jumlah itu tidak termasuk wisata belanja atau pembelian souvenir-souvenir.

Ini adalah wisata yang baru pertama kali saya alami. Wisata yang super duper murah, super hemat. Maksud saya, perjalanan wisata ini bukan wisata kuliner. Tapi wisata ke tempat-tempat yang terkenal yang ada di kota Bandung. Memang tidak semua tempat bisa dicapai, karena memerlukan waktu yang tidak sedikit. Tapi paling tidak kami bisa menikmati tempat-tempat wisata yang menurut kami terkenal dan penting.

Berikut ini tips dan trik yang kami lakukan untuk bisa menikmati perjalanan wisata ini. Dengan senang hati saya akan berbagi di sini.

Waktu wisata : Sabtu – Senin, 9 – 11 Oktober 2010

Jumlah wisatawan : 6 orang

Biaya per orang : 500 ribu rupiah

Biaya-biaya yang dikeluarkan :

1. Sewa mobil 3 hari 2 malam

2. Bensin

3. Tarif Tol

4. Makan siang & makan malam

5. Belanja makanan & minuman

6. Tabung Gas kecil

7. Tiket masuk wisata

8. Parkir mobil

Tips sebelum berangkat :

A. Perlengkapan gotong-royong

1. Makanan dan Sayuran

Kami berbagi tugas untuk membawa makanan lauk-pauk yang bisa tahan dua sampai tiga kali makan, kecuali nasi putih untuk makan siang hari pertama.

Lauk-pauk dibuat kering agar cukup tahan lama, seperti ayam bakar (untuk satu kali makan), balado tempe, balado kentang, dan balado kari ikan asin. Sedangkan sambal harus sambal goreng. Semuanya sesuai selera.

Sayuran mentah atau lalapan secukupnya sebagai pelengkap. Menu satu ini boleh tidak dibawa. Tapi dengan lalapan ini makan siang jadi komplit nikmatnya.

Ditambah lagi pop mie gelas, saos sambal, kecap, roti tawar plus margarine dan coklat tabur. Mie bisa dimakan waktu malam dan roti untuk sarapan pagi.

2. Minuman

Minuman berupa air mineral gelas 2 kardus, kopi, teh, wedang jahe, gula putih dan susu.

3. Makanan Ringan atau Snack

Makanan yang satu ini jangan dilewatkan. Karena makanan ringan atau snack ini akan berguna sebagai cemilan yang menemani kita dalam perjalanan dan di tempat wisata.

Biasanya yang kami beli di tempat wisata adalah rujak buah. Rasanya yang segar dan pedas membuat suasana tambah semangat. Tapi kalau tidak ada, ya kami hanya menikmati buah-buahan yang kami bawa dari rumah plus cemilan.

4. Buah-buahan

Jangan terlewatkan juga untuk menyegarkan tubuh dengan vitamin alami, yakni buah-buahan. Bukan saja sebagai pencuci mulut setelah makan, tapi akan menyegarkan saat di tempat wisata bercuaca panas. Apalagi kalau di tempat wisata itu tidak ada yang jual rujak buah.

5. Obat-obatan

Tubuh yang sehat dan fisik yang kuat akan memudahkan perjalanan. Berwisata ke tempat yang dekat sekalipun bila kondisi tidak sehat, tidak fit, maka wisata menjadi tidak nikmat. Malahan bisa menyusahkan orang lain.

Tetapi untuk mengantisipasi keadaan-keadaan yang tidak diinginkan, makan obat-obatan perlu disiapkan. Obat yang perlu dibawa seperti obat sakit kepala, obat flu, obat sakit perut, obat maag, minyak kayu putih, balsam, obat merah atau betadine, tensoplas, dan obat sakit-sakit tertentu yang dibawa sendiri.

6. Perlengkapan masak :

6.1 Kompor gas super kecil

6.2 Tabung gas super kecil

6.3 Panci kecil

Perlengkapan ini sangat berguna ketika wisata alam yakni untuk memasak mie, membuat minum teh, kopi, wedang jahe atau susu.

7. Tenda (jika perlu).

B. Perlengkapan pribadi :

1. Baju ganti beserta baju dalam untuk wisata

2. Baju tidur

3. Perlengkapan shalat

4. Perlengkapan mandi seperti handuk, sabun mandi cair, shampoo, pasta gigi dan sikat gigi.

5. Krim wajah untuk siang hari, pelembab bibir dan pelembab kulit. Semua ini untuk melindungi tubuh dari cuaca yang membuat kulit kering atau bibir pecah-pecah.

6. Sandal, sepatu, payung, topi dan kaca mata hitam.

7. Selimut, jaket, sleeping bag dan kaos kaki. Semua ini berguna untuk tidur di alam terbuka atau berkemah.

Bandung, Sabtu 9 Oktober 2010

Berangkat dari Jakarta pukul 8.30 wib. Tempat penjemputan di jalan baru Kp. Rambutan.

Bandung Selatan

1. Kawah Putih (Putih Crater)

Tempat tujuan pertama wisata ini sangat sangat mengejutkan! Pasalnya ketika kami sampai di lokasi, seorang petugas perempuan langsung menanyakan berapa jumlah pengunjung. Ketika kami jawab 6 orang, petugas itu menyebut angka 240 ribu rupiah.

What??? Kami terkaget-kaget mendengarnya. Betapa tidak! Kami tidak menyangka tiket masuknya melambung sangat tinggi. Padahal menurut data di internet sekitar 5 ribuan. Sekarang menjadi 15 ribu rupiah per orang. Yang paling mengagetkan kami adalah tarif mobil sebesar 150 ribu rupiah. Gila! Alasannya untuk biaya perlindungan hutan.

Karena shock, kami minta izin dulu untuk mufakat terlebih dulu. Mobil ditepikan di pinggir jalan. Saat kami sedang bermufakat, tiba-tiba seorang petugas menghampiri mobil kami. Dia menawarkan biaya 150 ribu termasuk mobil. Mulanya kami tawar 100 ribu rupiah, tapi petugas itu tidak mau. Kami naikkan jadi 120 ribu rupiah, dia tidak mau juga. Olalaa...

Akhirnya kami menyetujui juga setelah bersepakat dan mendapat jaminan keamanan. Jadilah 150 ribu rupiah melayang.

Ketika menerima tiket masuk, kami hanya mendapatkan 3 buah tiket masuk dengan harga 15 ribu rupiah per tiketnya. Kami kaget lagi.

“Orangnya ’kan 6, Pak?“ tanya kami berbarengan.

Dengan entengnya si petugas itu menjawab, “Tidak apa-apa. Saya yang menjamin kok.“

Kami bengong mendengar jawaban tersebut. “Kalau nanti ada pemeriksaan gimana, Pak?“

“Tidak ada pemeriksaan lagi. Percaya sama saya.“

Setelah diyakinkan dengan diberikannya nomer handphone petugas itu, kami memasuki area kawah putih. Sepanjang jalan menuju ke kawah putih kami melontarkan lagi kekagetan kami itu.

Seorang teman berkomentar, ”Ini namanya perampokan pribumi.”

Sungguh diluar dugaan!

Tips : Persiapkan uang tunai untuk belanja dialihkan ke wisata diluar prediksi seperti ini.

Sesampainya di kawasan wisata Kawah Putih, kami menikmati suasana alam yang menakjubkan. Dari atas kami melihat kawah putih dengan perbukitan batu yang menghijau oleh pepohonan.

Berikut ini foto-foto wisata Kawah Putih :

2. Perkebunan Teh Rancabali (Rancabali – Tea Plantation)

Tujuan kedua ini kami nikmati dengan cara gratis. Mau tau caranya?

Karena sepanjang menuju Rancabali, kami sudah disuguhi pemandangan deretan hijau pohon teh yang tertata rapi, maka kami nikmati suasana ini dari tepi jalan saja. Kenapa?

Jawabannya selain menghemat uang, juga karena suasana yang akan kita temui di dalamnya juga tidak akan jauh berbeda. Yang membedakan biasanya hanya adanya pedagang makanan dan cinderamata, yang relatif sama di berbagai tempat.

Hamparan perkebunan teh di Rancabali ini yang sangat menyegarkan mata. Permadani hijau ini teratur dengan rapi dan begitu indah dipandang. Banyak wisatawan juga melakukan hal yang sama. Alhasil suasana tepi jalan jadi ramai. Hahaa..

Trik : Nikmati wisata gratis dari tepi jalan.

Berikut ini foto wisata Perkebunan Teh Rancabali :

3. Situ Patengan (Patengan Lake)

Tujuan ketiga adalah Situ Patengan. Orang mengenalnya dengan sebutan Situ Patenggang. Beda sedikit.

Tiket masuk 6 ribu rupiah per orang dan mobil 12 ribu rupiah. Total tiket sebesar 48 ribu rupiah.

Pemandangan danau berair tenang dengan pohon-pohon tinggi yang menghijau di sekelilingnya dan udara sore yang sejuk membuat suasana Situ Patengan begitu damai.

Ditambah lagi perahu-perahu yang membawa pengunjung ke Batu Cinta, membuat Situ ini jadi istimewa. Meski kami tak sempat ke Batu Cinta, kami tak kecewa. Selain karena hari menjelang sore, kami ingin mengejar tujuan selanjutnya sebelum malam.

Sekadar informasi, untuk menyewa perahu, per orang kenakan biaya 20 ribu. Boleh mendayung sendiri atau minta bantuan petugas.

Berikut ini foto-foto wisata Situ Patengan :

4. Bumi Perkemahan & Penangkaran Rusa Ranca Upas (Ranca Upas – CampArea & Deer Breeding)

Tujuan terakhir menjelang malam adalah Ranca Upas. Waktu kami datang ke sini banyak orang yang sedang mengadakan acara berkemah. Mungkin karena week end.

Di kawasan ini juga terdapat penangkaran rusa. Kita bisa melihat rusa-rusa dari atas bangunan kayu yang memanjang. Rusa-rusa dengan wajah yang lucu.

Tapi perlu diperhatikan ketika berwisata ke tempat ini. Apalagi bila berniat berkemah. Udaranya dingin sekali dan sedikit sekali penginapan. Mungkin karena ini bumi perkemahan, jadi khusus yang datang adalah yang berniat berkemah.

Tips : Bawalah jaket tebal atau sleeping bag dan kaos kaki tebal.

Sebagai informasi, tiket masuk ke tempat wisata ini 7 ribu rupiah per orang dan mobil 10 ribu rupiah. Harga tenda biasa 80 ribu rupiah dan tenda kapasitas besar 300 ribu rupiah.

Waktu kami datang pertama kali, petugasnya bertanya, “Mau berkemah di sini atau mau survey dulu?“

Karena kami tidak pasti juga mau menginap di sini atau tidak, maka kami jawab “Survey dulu, Pak.”

Karena jawaban kami ’mau survey dulu’, maka kami diberi harga setengahnya. Kami cukup membayar 25 ribu rupiah untuk 6 orang plus mobil.

Jika berniat berkemah, kami akan didatangi petugas tersebut dan untuk itu kami diminta meninggalkan nomer handphone yang bisa dihubungi. Salah seorang teman kami memberikan nomer handphone-nya.

Setelah melihat-lihat keadaan, tanpa terasa hari sudah beranjak gelap. Kami bermufakat untuk tidur saja di Ranca Upas ini.

Kami memilih salah satu pendopo yang ada di sana. Kebetulan pendopo itu tidak terlalu jauh dari tempat ibadah, toilet dan berada di pinggir jalan.

Pendopo sudah dibersihkan, lilin sudah dibeli dan dinyalakan, mie, teh, dan kopi sudah dibuat, jadilah kami nikmati malam itu dengan berkemah ala kadarnya. Ditambah lagi, tidak ada petugas yang datang. Waah..., benar-benar hemat.

Trik : Jika datang ke tempat perkemahan seperti ini, bilang saja ‘mau survey dulu.’

Sebenarnya ini bukan akal-akalan juga. Karena kami tidak didatangi petugas, maka kami nikmati saja setengah harga yang dikasih ini. Hahaa...

Ketika malam semakin jauh, udara di Ranca Upas ini ternyata tidak main-main. Dinginnya begitu sangat. Jaket tebal dan sleeping bag rasanya masih tembus juga. Tapi mau bagaimana lagi! Kan sudah memilih, jadi brr.. brrrr… dinikmati saja.

Kami tidur terpencar-pencar. Dua orang di pendopo, dua orang di mobil dan dua orang lagi di musholla. Pokoknya nikmat banget dinginnya. Hehee…

Pagi hari kami mandi air hangat di tempat pemandian umum. Ada dua tempat pemandian air hangat (yang saya tahu) yang bisa digunakan.

Tadinya saya nggak mau mandi, tapi karena dibujuk air panas, saya jadi tertarik. Akhirnya, byur … byur… hmm…. hangatnya….

Di Ranca Upas, lengkap dinginnya, lengkap air hangatnya. Gratis lagi! Hehee…

Sebelum meninggalkan Ranca Upas, kami sarapan roti dengan olesan mentega dan taburan coklat. Minumnya kopi dan teh manis. Nikmatnya…

Setelah itu kami menikmati suasana pagi dengan berjalan-jalan di sekitar bumi perkemahan. Udara pagi yang sejuk dan sinar matahari yang hangat membuat suasana hati jadi tenteram.

Saya bersama seorang teman sempat mampir di salah satu kedai makan. Kami makan bakwan goreng 3 buah ditambah 1 saos sambal sachet kecil dan 2 gelas kecil teh manis. Sedapnyaa…

Tapi tidak sedap sewaktu harus membayar sedikit makan yang kami makan tersebut. Pelayannya menyebut angka 7 ribu rupiah untuk semua itu. Hahh!!!

Benar-benar, deh. Semuanya diluar dugaan kalau berada di tempat wisata. Hiks.

Tak berapa lama kami berkemas dan meninggalkan Ranca Upas untuk tujuan wisata selanjutnya.

Bandung, Minggu 10 Oktober 2010

1. Kebun Stoberi – Ciwidey (Strawberry Garden – Ciwidey)

Kami bermaksud melihat perkebunan stroberi dari dekat sekaligus memetik buah lezat berwarna merah itu.

Setelah menyusur jalan, berhentilah kami di salah satu kebun. Setelah berbincang-bincang kami memutuskan untuk merasakan sensasi memetik stroberi dari pohonnya langsung.

Sewaktu memetik stroberi itu, teman-teman ikut juga mencicipi buahnya yang manis-manis asam. Pokoknya dapat sensasinya, dapat kenyangnya. Hahaa..

Buah stroberi yang sudah dipetik kemudian ditimbang dengan harga per kilonya 35 ribu rupiah. Dua keranjang kami berisi 6.9 kg. Jadi harga yang harus saya bayar sebesar 24 ribu rupiah. Tidak mahal! Karena teman-teman ikut makan sewaktu di dalam kebun. Hehee...

Benar kata salah seorang teman saya, “Rasakan sensasinya!“

Trik : Mintalah kepada penjaga kebun lebih dari 1 keranjang agar terlihat banyak pembeli.

Bandung Utara

Kami menuju Lembang. Di perjalanan kami berhenti sebentar di sebuah mini market untuk membeli makanan dan minuman. Maklumlah, persediaan mie dan air mineral sudah menipis.

Setelah itu perjalanan dilanjutkan. Ketika kami berhenti lagi untuk membeli makan siang di sebuah rumah makan Padang, tidak tahunya itu daerah Geger Kalong, tempat Daarut Tauhid berada. Senangnya... Jadilah kami mampir di mini market Daarut Tauhid dan sedikit ikut mendengarkan ceramah agama yang saat itu sedang berlangsung.

Perjalanan kembali dilanjutkan. Sepanjang perjalanan ada tempat-tempat kuliner yang kami lalui seperti Rumah Sosis, House of Risoles, Season, dan Tahu Lembang.

Kami cuma bisa memandanginya dari dalam mobil. Huhuu... Lain kali, ya. Kami akan mengunjungimu...

Tak berapa lama kami berhenti lagi untuk membeli sebotol tabung gas kecil sebagai persediaan membuat makanan dan minuman. Di sini saya juga membeli sepasang sandal ganti. Maklumlah, saya hanya pakai sepatu.

2. Gunung Tangkubanparahu (Tangkubanparahu Vulcano)

Menjelang siang, sampailah kami di tempat tujuan kedua, yakni Gunung Tangkubanparahu. Orang lebih mengenalnya dengan sebutan Gunung Tangkuban Perahu. Beda ejaan saja.

Gunung Tangkubanparahu ini berupa pegunungan batu yang ditumbuhi pepohonan tinggi yang menghijau dengan kawah di tengahnya. Kawah itu bernama Kawah Ratu. Dahulunya tempat ini menjadi kawasan penambangan belerang.

Tips : Bawalah payung, topi lebar dan kaca mata hitam untuk menghindari silau matahari.

Sebelum memulai aktivitas di kawasan wisata ini, kami isi perut dulu. Maklumlah, sudah waktunya makan siang. Setelah istirahat sejenak, barulah kami melihat dan menikmati alam Gunung Tangkubanparahu dengan Kawah Ratunya. Hari itu panas cukup menyengat. Seorang teman saya sandalnya putus. Untungnya di kawasan ini ada yang menjual sandal.

Tips : Lebih baik memakai sepatu ke tempat wisata seperti ini. Karena medannya curam dan bebatuan.

Sebelum meninggalkan tempat wisata, kami shalat terlebih dulu. Saya menyempatkan membeli kaos dan topi rajut di sini. Setelah itu perjalanan dilanjutkan kembali.

3. Maribaya dengan Curug Ciomas (Maribaya with Ciomas Water Fall)

Tujuan kali adalah air terjun atau Curug Ciomas di Maribaya. Saya dan teman-teman menikmati suasana di Maribaya ini. Adapun sejarahnya bisa jadi yang tergambar dalam batu di bawah ini.

Di kawasan Maribaya ini banyak juga dijual aneka bunga, terutama kaktus. Cantik dan lucu-lucu.

Seorang teman saya membawa pulang 2 kardus berisi 14 jenis tanaman bunga. Macam-macam bunga dibelinya di sini. Entah apa saja. Yang pasti cantik-cantik. Lihat gambar di bawah berikut ya.

Air terjunnya terdapat di dua lokasi, kiri dan kanan. Hanya saja untuk posisi sebelah kanan posisinya lebih tinggi dan airnya lebih deras.

Meski begitu airnya tidak terlalu jernih. Orang-orang yang berkunjung pun tak ada yang mandi-mandi. Mereka turun ke air hanya untuk main-main air saja dan berfoto.

Suasana dekat air terjun sebelah kiri nyaman untuk duduk-duduk sambil ngemil makanan ringan.

Berikut ini foto-foto wisata Maribaya dengan Curung Ciomas-nya :

4. Hutan Pinus (Pine Forest)

Perjalanan kami hentikan lagi sebentar. Kami menikmati sejenak keindahan hutan pinus. Meski dari kejauhan, tapi suasana di sekitarnya indah sekali. Udaranya pun tetap segar.

Berikut foto hutan Pinus :

5. Bermalam di Hotel Karmila (Night at Karmila Hotel)

Hari menjelang sore. Kami memutuskan untuk istirahat. Kami mencari hotel dengan tarif yang pas di kantong kami. Karena tarif beberapa hotel tidak pas, maka kami berkeliling lagi untuk mencari hotel.

Tak terasa hari beranjak malam dan kami terjebak di jalan Cihampelas. Suasana malam yang padat kendaraan bercampur dengan lalu lalang orang. Semua tumpah jadi satu dan memusingkan. Beberapa ruas jalan pun dialihkan. Ternyata kemacetan tersebut dikarenakan sedang digelarnya sebuah acara pasar seni salah satu kampus ternama di kota Bandung. Huhuu...

Teman kami yang nyetir mobil nampak kelelahan. Wajahnya sulit digambarkan bagaimana suasana hatinya. Yang pasti dia jadi pendiam sekali. Dibujuk pakai sebotol Sprite tidak mempan. Ditanya mau minum apa, dia tidak menjawab spesifik. Menyedihkan! Akhirnya mau juga dengan sebotol minuman teh.

Kemacetan itu menyebabkan salah seorang teman kami harus jadi tukang parkir dadakan agar mobil kami bisa putar balik dan menghindari kemacetan tersebut. Eh, nggak taunya, kaos yang dipakai ’tukang parkir dadakan’ kami sama dengan (mungkin) seorang tukang parkir yang ada di ujung jalan. Hahaa...

Setelah berjam-jam berada dalam kemacetan, akhirnya kami bisa keluar juga dan menuju jalan Ir H. Juanda. Kami sepakat, hotel pertama yang kami temui, kami akan bermalam di sana. Bertemulah kami di Hotel Karmila.

Alamat Hotel Karmila : Jl. Ir. H.Juanda no. 32, Bandung.

Harga per kamar 340 ribu rupiah. Kami booking 2 kamar. Satu untuk laki-laki dan satu lagi untuk perempuan. Kamar hotelnya cukup bagus. View-nya ke arah jalan raya.

Ada hal yang cukup mengganggu kami, yakni kamar mandinya yang meskipun bersih tapi agak berbau. Entah bau itu datangnya dari mana.

Sedangkan tempat tidurnya ukuran standar. Jadi kami harus menggeser tempat tidur untuk bisa disatukan hingga cukup untuk empat orang.

Ini lain sekali dengan hotel di jalan Dago yang kami temui sebelumnya, yang memiliki kamar dengan tempat tidur berukuran besar. Tapi, sudahlah kami nikmati saja. Berhubung kami juga sudah lelah.

Pelayan di hotel ini ramah-ramah dan sarapan paginya juga lumayan enak.

Ternyata Hotel Karmila berada tak jauh dari Dago Plaza yang ada di seberang jalan. Malamnya saya dan dua orang teman melalui tempat itu untuk membeli makan malam.

Kami benar-benar tak menyangka kehidupan malam di area Dago Plaza tak jauh beda dengan sepanjang jalan Cihampelas.

Di pelataran Dogo Plaza nampak pemuda-pemudi menghabiskan malam mereka dengan hang out bersama teman-temannya dengan ditemani berbotol-botol bir di depan meja mereka.

Berikut ini foto suasana malam di Dago Plaza :

Sedangkan sepanjang jalan Cihampelas, pemuda-pemudinya banyak berpakaian seronok dan bebas bergandeng tangan.

Saya jadi ingat waktu liburan ke luar negeri, terutama Singapura dan Phuket.

Saya juga ceritakan hal itu kepada rekan sekantor, ternyata jawabannya tidak mengejutkan.

”Di Bandung memang seperti itu. Pergaulannya bebas banget!”

Ooo...

Biarlah Bandung punya cerita sendiri. Cerita dengan kehidupan yang orang bilang “Paris van Java.“

Setelah menikmati makan malam bersama di satu kamar, kami kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat. Tak berapa lama kami sudah lelap dibuai malam. zzz...zzz....zzz...

Pagi menjelang. Kami sarapan bersama di satu kamar lagi. Setelah itu mandi dan ngepak barang. Kami check out dari hotel untuk melanjutkan wisata.

Bandung, 11 Oktober 2010

Note : Mohon maaf untuk wisata Bandung, 11 Oktober 2010 tidak ditampilkan karena ada kendala teknis.

1. Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda (Djuanda National Park)

Tujuan wisata kali ini bernuansa alam juga, yakni Taman Ir H Juanda atau yang lebih dikenal dengan nama Dago Pakar.

Bea masuk ke tempat ini dikenakan 8 ribu rupiah per orang dan mobil 10 ribu rupiah.

Pepohonan tinggi yang menghijau dan tumbuh dengan subur. Pepohonan di area ini terawat dan nampak asri. Udaranya yang segar membuat kami nyaman untuk bernafas.

2. Goa Jepang (Japan Cave)

Di area Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda juga terdapat tempat wisata lain yang bisa dikunjungi, yakni Goa Jepang.

Goa Jepang ini mempunyai 4 pintu masuk, 3 lorong, dan 2 ventilasi udara yang (menurut guide lokal)dibangun selama 3 tahun, yakni antara 1942-1945.

(Menurut guide lokal) Goa ini juga menjadi tempat peristirahatan sekaligus persembunyian orang-orang Jepang masa itu.

Suasana di dalam goa sunyi senyap. Kami berjalan saling berdekatan. Dua orang guide lokal menemani perjalanan kami di dalam Goa Jepang ini yang diterangi lampu senter.

Biaya sewa guide 2 orang sebesar 25 ribu rupiah.

Tips : Bawalah senter untuk wisata seperti ini.

3. Goa Belanda (Nederlands Cave)

Di area Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda ini juga terdapat Goa Belanda. Lokasinya tak berapa jauh dari Goa Jepang. Kami berjalan santai ke tempat ini sekitar 15 menit.

Sama seperti di Goa Jepang. Di Goa Belanda pun kami sudah disambut guide lokal. Sayangnya di tempat ini kami tidak mendapat penjelasan yang memuaskan. Guide-nya banyak tidak taunya kalau ditanya. Akhirnya kami pasrah saja dan menikmati suasana seram di dalam goa.

Sungguh suasana di dalam Goa Belanda lebih mistis dan seram dibanding dengan Goa Jepang.

Biaya sewa guide 2 orang sebesar 25 ribu rupiah. Sama dengan di Goa Jepang.

Sejarah Goa Belanda :

Goa peninggalan Belanda ini dibangun pada awal tahun 1941. Dahulu dipergunakan untuk terowongan PLTA bengkok. Karena perbukitan Pakar merupakan kawasan yang sangat menarik bagi strategi militer Hindia Belanda, lokasinya yang terlindung dan begitu dekat dengan pusat kota Bandung, maka menjelang Perang Dunia II pada awal 1941 Militer Hindia Belanda membangun stasiun Radio Telekomunikasi. Bangunan ini berupa jaringan goa di dalam perbukitan batu pasir tufaan. Saat ini goa dapat dimasuki dengan aman.

Berikut ini informasi lorong yang terdapat di dalam Goa Belanda :

Lorong utama tembus air PLTA dengan

P = +- 144 m, L = 180 m, T = 3 m

Lorong ventilasi dengan

P = 126 m, L = 2 m, T = 3 m

Lorong distribusi logistik dengan

P = 100 m, L = 3.2 m, T = 3 m

Lorong sel tahanan dengan

P = 19 m, L = 2.5 m, T = 3 m

Lorong pemeriksaan.

Di Goa Belanda terdapat 15 lorong yang terbelah menjadi 2 bagian. Di mana masing-masing akhir lorongnya dibuat tempat tidur batu yang memanjang.

Di goa ini terdapat juga lorong pemeriksaan dan lorong sel tahanan yang dulunya di pagar baja. Sekarang ini ruang sel tahanan yang tersisa hanya lengkung bajanya saja, sedangkan pintunya sudah dihilangkan. Di tempat inilah para tahanan dipenjara sekaligus dieksekusi.

Ada juga lorong untuk membawa makanan. Di lorong ini terdapat sebuah rel pengangkut lori makan yang terletak paling ujung.

Di lorong ini hanya terdapat satu ventilasi udara. Tak lupa, karena dulunya goa ini dijadikan tempat berkomunikasi pada masa penjajahan, makanya ada ruang stasiun radio. Tapi sudah tinggal kerangkanya saja.

Di area ini juga terdapat goa-goa yang belum jadi tapi tetap dipeliharan dengan baik.

Kami tak berlama-lama di area Goa Belanda. Dalam perjalanan kembali ke tempat parkir mobil, kami bertemu dengan seorang bapak penjual air nira. Kami pun berhenti di sana untuk sekedar mencicipi rasanya air nira tersebut. Rasa asam manis. Jika Anda tahu buah kolang kaling, itulah dia. Satu gelas air nira seharga 3 ribu rupiah.

Kami juga berbincang-bincang sedikit mengenai sejarah Goa Belanda dengan bapak penjual air nira tersebut. Ternyata banyak juga pengetahuan mengenai dedaunan yang bisa dijadikan obat yang diketahui si penjual air nira.

Di antara obat yang dijelaskan seperti air rebusan daun alpukat untuk sakit rematik, obat tetes mata dari air bunga kecubung yang masih kuncup, dan pepohonan lain (saya lupa) untuk dijadikan obat bila terkena knalpot motor atau terbakar. Waah, bermanfaat banget deh. Terima kasih, pak.

4. Oleh-oleh dari Jalan Cihampelas, Bandung

Waktu sudah semakin siang. Kami hendak berburu oleh-oleh dulu sebelum pulang. Untuk itu, kami menuju kawasan Cihampelas lagi. Kawasan tempat kami kejebak macet kemarin malam.

Kami memarkir mobil di depan salah satu factory outlet. Kami masuki tempat belanja tersebut dan menjelajah tempat-tempat belanja lainnya.

Sebelumnya kami sepakatkan waktu untuk bertemu kembali di tempat mobil kami diparkir. Setiap orang punya waktu sekitar satu jam untuk berburu oleh-oleh.

Ini kami lakukan karena tak mungkin kami semuanya mengikuti satu orang yang membeli barang. Setelah itu digilir satu per satu. Bisa habis waktu!

Tips : Selalu buat kesepakatan mengenai waktu dengan teman-teman.

Perolehan kami tak jauh dari aneka dodol, sale pisang dan keripik-keripik rasa manis, pedas dan gurih dari toko Odjolali.

Alamat toko Odjolali : Jalan Cihampelas no. 131, Bandung.

Ada juga teman-teman yang beli peyeum atau tapai singkong di area Cihampelas itu. Saya sempatkan membeli kaos di sini.

Info : Harga barang dan kue-kue di kawasan Cihampelas ini cukup mahal.

Trik : Jika Anda punya cukup waktu, bandingkan harga untuk barang yang sama di beberapa toko.

Tips :

- Siapkan cukup uang bila Anda bermaksud membawa pulang banyak oleh-oleh.

- Lebih baik Anda membeli kaos di factory outlet untuk mendapatkan kualitas yang bagus. Karena harganya tidak jauh beda!

Waktu sekitar satu jam telah habis dan kami harus melanjutkan kembali perjalanan wisata hari terakhir kami di Bandung.

5. Gedung Sate

Tak lengkap rasanya bila kita mengunjungi Bandung tapi tidak melihat ikon kota tersebut, yakni Gedung Sate.

Sayangnya kunjungan kami ke sana kurang tepat waktu. Kami datang Senin, di mana waktu kunjungan hanya diperbolehkan setelah jam kerja, yakni pukul 4 sore.

Sedangkan Sabtu atau Minggu pengunjung bebas datang sejak pagi hari.

Akhirnya untuk mengobati kekecewaan kami, kami berputar sebentar ke depan gedung untuk melihat dari dekat Gedung Sate tersebut. Setelah itu kami mengambil gambarnya dari arah luar gedung. Sayang sekali!

Tips : Datanglah Sabtu atau Minggu agar bisa masuk ke Gedung Sate.

Trik : Bila waktu datang Anda tidak pas, mintalah izin agar mobil Anda bisa berputar sebentar di depan Gedung Sate.

Setelah cukup mengambil gambar, kami meneruskan perjalanan lagi. Dalam perjalanan tepatnya saat di sebuah perpotongan jalan, kendaraan terhenti sejenak karena lampu merah.

Ada sebuah kejadian lucu saat itu, yakni seorang waria menghampiri mobil kami untuk mengamen. Ketika teman kami yang sedang nyetir mobil memberikan uang, pengamen waria itu bertanya, “Abang duda, ya?“ sambil matanya mengerjap genit.

Teman kami itu sangat kaget. Sambil menjawab, “Ini isteri saya!“ teman saya menunjuk isterinya yang duduk di sampingnya dan cepat-cepat menutup kaca jendela mobil.

Huahahaa... Kami tertawa terbahak-bahak menyaksikan kejadian itu. Gak nyangka, bo! Temanku ditaksir sama waria. Sementara si pengamen waria tersipu malu dan pergi menjauh.

6. Peyeum Padalarang

Perjalanan kami sudah memasuki akhir. Kami bermaksud pulang ke rumah tak lampau malam.

Dalam perjalanan, kami ambil jalur Puncak. Sebelumnya lewatlah kami di daerah Padalarang. Di sana kami henti sejenak untuk membeli peyeum atau tapai singkong.

Saya dan keluarga di rumah selalu menyempatkan untuk membeli oleh-oleh peyeum kalau ke Bandung. Rasanya beda sekali dengan tapai yang ada di tempat tinggal saya. Entah kenapa, manisnya beda!

7. Makan Siang di Cianjur

Kami menikmati makan siang di sebuah area masjid Al Ikhlas As Soewarno yang berada di kawasan Cianjur. Kami menikmati nadi Padang yang nikmat banget.

Setelah menikmati makan siang yang lezat, kami shalat Dzhuhur dan Ashar. Maklumlah, waktu sudah masuk Ashar.

Di sini kami sempat bertemu dengan pengurus sekaligus penanggung jawab masjid. Di sana kami berbincang-bincang mengenai sejarah berdirinya masjid tersebut yang diitikadkan dari seorang pensiunan militer.

8. Kayu Terapi di Cipanas

Perjalanan kami berhenti lagi di Cipanas. Di kawasan ini ada teman yang membeli cemilan atau makanan kecil. Saya dan seorang teman membeli alat terapi dari kayu.

Saya lupa nama tokonya apa. Tapi yang pasti lokasinya bersebelahan dengan rumah makan Padang. Sedangkan di pinggir jalan raya berderet penjual buah-buahan.

9. Maghrib di At Taawun

Beberapa menit lagi waktu memasuki Maghrib. Perjalanan kami berhenti di Masjid At Taawun. Kami shalat Maghrib berjamaah dan sejenak menikmati suasana senja yang syahdu di sini.

10. Welcome Home

Malam sudah beranjak pekat. Sekitar pukul delapan, kami memasuki Kampung Rambutan, Jakarta Timur – tempat transit pulang. Saya dan seorang teman mencari angkutan umum menuju Depok untuk pulang ke rumah.

Rata-rata sekitar pukul 9 malam kami sampai di rumah masing-masing.

“A Nice Journey with Fun, Spirit and Hope.”

Nurhayati Yazid

/anakraja

Merangkai cerita dalam pikiran, membangunnya menjadi indah dan berusaha membaginya kepada orang lain melalui tulisan... Moga bermanfaat!
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?