Sabar, Tak Sekedar Mampu Menahan Amarah

12 Agustus 2011 03:16:33 Dibaca :

Pada umumnya sabar diartikan kemampuan menahan amarah. Apakah salah? Tidak sepenuhnya salah, karena kemampuan mengendalikan amarah adalah salah satu bentuk kesabaran.


Dalam frame orang beriman , kita selalu berharap segala aktivitas dalam kehidupan bernilai ibadah. Mencari ridho Allah dengan cara yang benar jadi bukan sekedar berhenti pada kesenangan, ego dan materi semata. Jadi menjalani hidup dengan benar dan baik adalah ibadah. Dalam menjalani kehidupan ada suka beserta efek positifnya dan duka beserta efek negatifnya. Kesabaran sejatinya tidak hanya dihadirkan dalam duka. Kesabaran harus dihadirkan pula dalam suka


Saya mendapat penjelasan dari beberapa ‘alim sekian puluh tahun lalu tentang unsur-unsur sabar. Unsur –unsur sabar itu diperoleh dari Al-Qur’an ( khusunya dari kisah sosok “keren” dalam Al Qur’an seperti keluarga Imran, Maryam, Keluarga Yasir, kisah beberapa Nabi dsb), dari sirah rasul dan dari kisah sahabat Rosul. Unsur tersebut adalah tanggap, tangguh, aktif dan kreatif. Saya menyebutnya ekstrak sabar. Agar lebih mudah memahami 4 unsur tersebut sebaiknya dengan membedah contoh kasus ( studi kasus)


Kita ambil contoh kasus, misalnya anak kita konsumtif , melawan dan marah bila diingatkan. Saat kita menyadari prilaku anak yang tidak baik dan berusaha meluruskan itulah tanggap akan amanah kita sebagai orangrtua, tanggap akan tugas,fungsi dan peran ( TFP) kita sebagai orangtua Kemudian ketika kita mengingatkan dengan lembut, tidak marah yang berlebihan, itu sangat mulia dan kita mendapat pahala . Tetapi kita juga dituntut aktif untuk mengarahkan anak , misalnya masih mendapatkan perlawanan, kitatidak mudah menyerah itulah tangguh, kemudian kreatif mencari cara agar anak bisa sampai pada pemahaman dan insyaAllah anak sampai pada ketaatan yang tidak buta. Bukannya menyerah begitu saja, kita menuruti saja kemauan anak dan diam dengan alasan berusaha bersabar, menjaga ketentraman, agar tidak ada konflik di dalam rumah. . LOL, No, tidak seperti itu sabar. Sabar justru ketika kita terus membimbing anak kita untuk sampai pada pemahaman walau dalam membimbing tersebut kadang ada sikap tegas, sedikit keras dan kadang ada suara yang agak tinggi. Semua itu bukan berarti kita tidak sabar.


Jika merujuk pada 4 unsur sabar diatas ( tanggap,tangguh,aktif,kreatif) , kemarahan kita pun bisa berarti kesabaran. Mengapa??????????


Kembali ke kasus diatas, saat kita sedikit bersuara tinggi ( mungkin karena sudah sulit diingatkan) tetapi dengan maksud membuat efek „ mendengar“ pada anak, tidak ada salahnya. Daripada kita diam saja dan pasrah, itu berarti kita tidak tangguh dan kretif dalam mendidik anak. Kesabaran kita belum pol karena belum memenuhi unsur tangguh dan kreatif. Bukankah dengan menuruti saja kemauan anak berarti kita tidak tangguh dan bisa jadi tidak tanggap dengan TFP kita sebagai orangtua. Contoh lain, misalnya kita melihat kedzoliman, jika kita hanya diam, tidak „marah“ ( marah yang beradab dan berdasar) atau mungkin justru „plain“ saja melihat kedzoliman justru kita bisa disebut tidak sabar. Karena bisa jadi kita tidak memenuhi 2 insur sabar, yaitu tidak tanggap dan tidak tangguh. . Untuk contoh kasus kedua, sabar saat mendapat kesenangan, silahkan Anda mencoba memikirkannya sendiri.


Itu baru satu kasus padahal dalam kehidupan ini begitu banyak peristiwa baik menyenangkan maupun menyedihkan dan komplek. Silahkan Anda mencermati. Kondisi bangsa kita sat ini, menawarkan begitu banyak lahan untuk belajar dan berlatih kesabaran. Sabar tidak selalu identik dengan diam, mengalah saja, suara yang lemah lembut, tutur kata yang manis, iya-iya saja, tidak ada suara tinggi, tidak kritis, tidak melawan, ABS ( asal bapak suka) dan sebagainya yang terkesan sangat pasif bahkan apatis. Sungguh naif bila pemahaman kita tentang kesabaran hanya sebatas itu. Sementara di dunia ini watak atau karakter manusia bermacam-macam. Kita juga dapat melihat kehidupan para sahabat Rosullullah, bagaimana Abu Bakar yang lembut, Umar bin Khotob yang keras, Salman Al Farisi dan Ali bin Abu Thalib yang cerdas. Apakah Rosul menuntut mereka dalam „satu warna“ , semua harus selalu lemah lembut ? Tidak, tetapi Rosul mengarahkan mereka sesuai „watak“ masing-masing. Dengan bimbingan Rosullullah, Abu Bakar yang lembut bisa juga marah dan tegas, Umar yang keras bisa juga lembut, Ali dan Salman yang kritis bisa menyampaikan kritikan dengan baik dan benar.


Dari uraian tersebut, pada akhirnya kita dituntut untuk terus belajar dan berlatih. Harus memahami benar kapan saatnya kita diam, kapan saatnya dan bagaimana kita mengkritik, kapan saatnya kita bersuara lembut, kapan saatnya bersura keras, bagaimana cara mengkritik yang benar, bagaimana marah yang beradab. Lalu, bagaimana agar kita memahami semua itu? Sabda Rosullullah  : ilmu di dapat dari belajar, kesabaran di dapat dari latihan. Ini hanya sebuah pengantar, selanjutnya Anda sudah cukup dewasa untuk mencari tahu lebih dalam. Karena mencari ilmu adalah kewajiban setiap muslim dan muslimah. Jangan merasa cukup dengan pemahaman kita yang mungkin hanya sepenggal mungkin itupun berdasar teori yang tidak jelas, rujukan tidak valid. Mari kita saling mengisi.


Sebagai penutup ada kata-kata yang sangat bagus.....


Ada 3 kategori manusia:


Mereka yang membuat segala sesuatu terjadi


Mereka yang menyaksikan segala sesuatu terjadi


Mereka yang bertanya-tanya apa yang terjadi



Selamat Belajar dan berlatih terutama di bulan yang penuh berkah ini.


*****Sebuah Renung Ramadhan


Semoga bermanfaat.



Wassalam.





Zaa Zakiyah

/amadia

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Kopi tak terlalu manis, nulis,bisnis, optimis
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?