Mohon tunggu...
Naufal Alfarras
Naufal Alfarras Mohon Tunggu... Freelancer - leiden is lijden

Blogger. Jurnalis. Penulis. Pesilat. Upaya dalam menghadapi dinamika global di era digitalisasi serta membawa perubahan melalui tulisan. Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah. "Dinamika Global dalam Menghadapi Era Digitalisasi" Ig: @naufallfarras

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama

Rare Earth, Bukan Ancaman Baru Milik China

7 Juni 2019   13:46 Diperbarui: 8 Juni 2019   12:39 4137
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Belum banyak yang mengetahui bahwa China sebenarnya menguasai salah satu komoditas sumber daya alam terpenting di zaman sekarang, yaitu rare earth.

Rare earth atau logam tanah jarang adalah sebutan kelompok 17 elemen kimia di tanah yang digunakan produk elektronik hingga militer. Seperti dysprosium biasa digunakan untuk magnet, lampu berdaya tinggi, dan perangkat kontrol nuklir. Sedangkan neodymium diproduksi untuk peralatan seperti turbin.

Logam tanah jarang (LTJ) tidak selangka seperti namanya. Keberadaan logam tersebut tersebar secara tidak merata, tidak dalam konsentrasi tinggi, dan tercampur dengan mineral lain sehingga membutuhkan proses yang panjang.

Memproduksi Rare Earth Tidak Mudah

Produksi LTJ tidak banyak dilakukan di negara lain, namun didominasi oleh China. Negeri ini mempunyai setidaknya enam perusahaan besar yang memproduksi LTJ. Sedangkan AS hanya memiliki satu perusahaan yang beroperasi, yaitu MP Materials.

Penyulingan terhadap LTJ hanya dilakukan di China, sementara negara lain melakukan proses penyempurnaannya. Banyak alasan mengapa hanya China yang mampu melakukan itu.

Sebenarnya Amerika Serikat pernah menguasai pasar LTJ. Namun, sejak 1980-an AS mulai mundur dalam persaingan tersebut. Ekstrasi logam ini berdampak kepada kerusakan lingkungan, mengancam keselamatan buruh, dan membutuhkan biaya yang besar.

China melihat hal ini sebagai peluang yang menguntungkan. Maka sejak 2010, China berhasil menguasai pasar logam tanah jarang. Posisi AS akan terancam terlebih belum memiliki kapabilitas untuk memproduksi LTJ secara mandiri.

Ketergantungan AS Terhadap Rare Earth

Media China menyebutkan bahwa pemerintah China akan merespon kebijakan Amerika Serikat dengan modal logam tanah jarang atau rare earth. Dimana harga logam tanah jarang yang didominasi China telah meningkat cukup pesat.

Sebelumnya AS telah memblokir produk Huawei untuk masuk ke dalam negeri. Respon yang dilakukan China dengan melarang ekspor logam tanah jarang merupakan hal yang krusial bagi industri pertahanan AS.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun