Wieke Veronica Lamria
Wieke Veronica Lamria karyawan swasta

Tak berbeda dengan makhluk Tuhan lainnya..

Selanjutnya

Tutup

featured pilihan

Jangan Ragu ke Pasar Tradisional!

8 Agustus 2016   21:09 Diperbarui: 18 Desember 2016   14:45 443 7 2

Apa yang kira-kira terlintas di benak kita ketika mendengar kata pasar tradisional? Jorok? Becek? Panas? Tidak steril? Dan masih banyak lagi stigma kita tentang pasar tradisional.

Belum lagi, sebagian dari kita beranggapan bahwa pasar tradisonal hanyalah tempat sembako bebas diperjualbelikan, dengan tempat ala kadarnya. Siapa bilang? Di pasar tradisional bukan hanya sembako yang bisa kita dapatkan, kebutuhan rumah tangga salah satunya, berjejer di sana untuk dijual. Tidak banyak rakyat Indonesia yang peduli dengan pasar tradisional semacam ini.

Mari kita lihat sejenak apa yang sudah pemerintah lakukan. Kementerian Perdagangan sesuai janji Nawacita mewujudkan program 5.000 pasar di seluruh negeri. Untuk tahun 2015 saja, Kementerian ini, sudah berhasil melakukan revitalisasi pasar sebanyak 1.002 pasar. Jumlah yang tidak main-main untuk ukuran kementerian yang baru-baru ini terkena reshuffle.

Saya sebagai individu pernah ikut andil dalam gerakan pasar tradisional tersebut. Salah satunya adalah Pasar Giwangretno. Pasar yang berada di Kebumen, Jawa Tengah ini sukses diresmikan oleh Presiden Jokowi pada bulan Mei lalu. Antusias warga Kebumen sangat luar biasa menyambut pembenahan pasar yang selama ini menjadi penopang hidup mereka. Di tengah teriknya matahari Jawa Tengah, mereka berbondong-bondong menyaksikan Jokowi memotong pita tanda peresmian.

Saya pun melihat dengan mata kepala saya, pasar ini sudah sangat layak untuk dikunjungi. Kebersihan pasar serta kenyamanan coba dikedepankan untuk menarik pembeli. Dengan ukuran luas pasar 3.411 m² mampu menampung 463 pedagang pasar. Omset yang dihasilkan pasar ini sebesar 3 miliar/bulan. Angka yang fantastis untuk ukuran pasar yang berada di kota kecil di Indonesia itu.

Sumpek dan kotor jauh dari pandangan mata saya. Pasar ini  terlihat lega dengan atap yang dibangun tinggi, sehingga udara panas tidak begitu terasa. Hampir dari semua revitalisasi pasar rakyat yang di lakukan oleh Kementerian Perdagangan, mendapat pandangan positif dari masyarakat.

Saya lihat, pemerintah sudah berani ambil langkah perubahan. Bagaimana dengan kita sebagai rakyat pengguna pasar tradisional? Apakah kita konsisten dengan tuntutan kita selama ini untuk mencintai produk Indonesia? Atau semua hadir tanpa ada pergerakan dari kita? Mengapa masih banyak orang yang tidak mau ke pasar tradisional.

Sudah menjadi rahasia umum, jika pasar tradisional kalah pamor dengan pasar ritel modern. Pasar yang didukung oleh modal yang kuat ini, menjadi menarik di mata konsumen. Dengan desain bangunan yang terlihat kokoh, udara AC yang dingin dengan tingkat kenyamanan yang tinggi, sekejap mampu menarik pelanggan. Fakta itulah yang membuat pemerintah bergerak cepat dan bertindak untuk ambil peranan agar masyarakat melirik lagi ke pasar tradisional.

Untuk masyarakat daerah, tentu pasar ini akan ramai pengunjung. Lalu bagaimana dengan warga Ibu Kota Jakarta kita yang tercinta ini? Masih banyak warga kota kelas “atas” yang enggan ke pasar tradisional hanya karena prestise, tidak keren dan kurang steril.

Tanpa kita sadari, banyak kelebihan yang bisa kita dapatkan dari belanja di pasar tradisional ini. Sebut saja proses tawar-menawar. Proses yang indah ini hanya bisa kita dapatkan di pasar tradisional. Semakin kita pandai menawar, maka harga murah mudah kita dapatkan. Pasar tradisional juga menawarkan produk sayuran dan buahan yang lebih segar, karena biasanya, para pengepul selalu menyetok barang saat pagi-pagi buta untuk di jual di hari itu juga. Selain itu, pasar rakyat juga mengajarkan kita untuk mencintai produk dalam negeri, karena barang-barang yang dijual adalah hasil petani lokal. Kamu cinta Indonesia? Cobalah ke pasar tradisional.

Memang, pemerintah tidak bisa memantau pengunjung pasar tradisional, tapi dia mampu memberikan pasar yang layak untuk rakyat. Pemerintah juga tidak bisa memaksa rakyat untuk belanja di pasar tradisional, tapi bukankah harusnya rakyat yang sadar untuk belanja ke sana? Tidak perlu terburu-buru berpikir bahwa pasar tradisional hanya untuk kelas ‘bawah’, karena sesungguhnya kelas apa pun kita, pasar tetap akan menjadi penopang hidup kita sehari-hari. Tidak perlu menjaga gengsi untuk menginjakkan kaki di pasar tradisional, karena selayaknya kaki kita harus dapat melangkah di tempat mana saja.