Aku dan Ibumu, Serupa

11 Maret 2013 02:05:05 Dibaca :

seorang perempuan

berhenti pada satu batas langkah

mega berarak pekat di atas kesadarannya

mahkota di kepalanya tersibak

dilemparkan angin yang bertiup setengah garang

jiwa dari jiwanya melepaskan pandangan yang gemetar

lantas tidur

dibungkam bencana yang sengaja jenaka

mengendapkan perlahan gairah yang bergerak merangkak

ke bumi yang sedang dipeluknya.

lelaki yang memandangnya

mengasah kejantanan

tuk merebut gairah yang tersisa padanya

menyeretnya ke semak ilalang yang sengaja diam

astaaagga !

perempuan itu dilucuti tiga lelaki berseragam

rahasia keramatnya dibongkar

bagai tali perut ayam dan hati hewan korban

diurai, dibalik atas nama rahasia semesta nasib

yang mesti ditadah dari kantong jawaban leluhur

nafsnya tersengal

tangan setengah menggapai-gapai

menangkap reruntuhan bongkah-bongkah tanah

yang menyimpan sisa-sisa harapan

tapi ia semakin lemas terbaring.

amboooii !

serombongan malaekat menjejaki langit dengan langkah panjang

meniupkan sangkakala

mengayunkan cemeti

ia mencakar mega dengan kuku-kukunya yang tegas

menggenggam berkas cahaya matahari yang lama tak menyapa

ditebarnya pita keramat bertulis:

itulah dia tulang dari tulangmu dan daging dari dagingmu!"

nafas perempuan terbaring itu berpacu lalu mengangkat wajahnya

tangan diulurkan ke pintu matahari

meraih lembar perjanjian tentang hidup

yang digantungnya di ujung syair doa.

tiba-tiba badai menimpanya dengan ganas

seorang perempuan lain lemas terhempas di sampignya

dadanya gemetar ketika menangkap di matanya

tiga lelaki berseragam beralih menatapnya dengan serakah

perempuan itu dipaksa menanggalkan busananya yang telah kumal

sambil membuka benang-benang penutup badannya

perempuan itu berkata :

"aku sama dengan ibumu

yang kupunyai, dipunyai pula ibumu.

pintu ini adalah jalan kita, kau dan aku

berangkat mengenal caya mentari."

lelaki-lelaki itu bergerak surut

merebah dan merayap di atas tanah

dengan mulut berbuih membuang dirinya ke jurang yang dalam

karena selusin cacing berlumur debu

telah menanti dengan gemas di sana.

Agust Dapa Loka

/agust-dapa-loka

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Guru pada SMA Anda Luri Waingapu, Sumba Timur, NTT. Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP (sekarang universitas)Sanata Dharma, Yogyakarta.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?