HEADLINE HIGHLIGHT

Bung Tomo dan Resolusi Jihad: Refleksi 22 Oktober dan 10 November

22 Oktober 2012 02:51:37 Dibaca :
Bung Tomo dan Resolusi Jihad: Refleksi 22 Oktober dan 10 November
Ilustrasi/Admin (KAMPRET/Widianto H Didiet)

Bung Tomo dan Resolusi Jihad: Refleksi 22 Oktober dan 10 November

Oleh: AGUNG PRIBADI

(HISTORIVATOR)

Bung Tomo pernah merasa sangat bersalah dan menyesal karena menikah di saat panas-panasnya masa revolusi. Karena merasa bersalah dia memasang iklan di suratkabar seperti ini:

MENIKAH

Mengingat gentingnya masa, maka perkawinan kawan kami Soetomo (Bung Tomo) dengan PI Soelistina, yang akan berlangsung bertemunya nanti pada tanggal 19 Juni 1947 jam 19.00 tidak kami kehendaki akan dirayakan dengan cara bagaimanapun juga. Pucuk pimpinan Pemberontakan menyetujui perkawinan kedua kawan seperjuangan itu, berdasarkan perjanjian mereka,

  1. Setelah ikatan persahabatan mereka diresmikan itu, mereka akan lebih memperhebat perjuangan untuk rakyat dan revolusi.
  2. Meskipun perkawinan telah dilangsungkan mereka tidak menjalankan kewajiban dan hak sebagai suami istri sebelum ancaman terhadap kedaulatan negara dan rakyat dapat dihalaukan.

Kami akan berterima kasih bila kawan-kawan seperjuangan dari jauh berkenan memberikan berkah pangestu kepada kedua mempelai itu.

TETAP MERDEKA

Dewan Pimpinan Harian Pucuk Pimpinan

Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia

Jl. Rampai 75 Malang

Seolah-olah Bung Tomo merasa sangat berdosa karena pernikahannya diadakan di tengah-tengah suasana revolusi. Seolah-olah dia cuma mencari kenikmatan diri-sendiri dan egois. Bung Tomo lalu mengucapkan janji bahwa ia bersama istrinya tidak akan menjalankan hak dan kewajiban mereka sebagai suami istri sampai ancaman terhadap kedaulatan Negara RI menghilang. Izin menikah mereka dapatkan dari pimpinan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI). BPRI adalah sebuah ormas/lasykar pada masa revolusi.

Bung Tomo sangat mencintai revolusi dan jihad sehingga mau mengorbankan diri supaya revolusi dan jihad (cita-citanya) bisa sukses. Kejadian seperti ini hampir sama dengan yang dilakukan oleh Mahapatih Gajah Mada. Gajah Mada bersumpah tidak akan memakan buah Palapa (makan yang lezat-lezat) sampai Nusantara bersatu seluruhnya tanpa kecuali atau sampai cita-citanya tercapai. Juga hampir sama dengan yang dilakukan Mahatma Gandhi yaitu bersumpah tidak akan makan garam sampai India merdeka atau sampai cita-citanya tercapai. Kita boro-boro bisa seperti Mahatma Gandhi. Kita kalau ada masakan kurang garam sedikit saja, lansgung merasa makanannya tidak enak.

Sebenarnya siapa tokoh ini?

Bung Tomo berasal dari keluarga santri (muslim taat). Bung Tomo menjadi sangat populer karena adanya peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Bung Tomo ketika dilahirkan bernama Soetomo. Tanggal lahirnya 3 Oktober 1920 di Surabaya. Pendidikannya biasa saja, Sekolah Rakyat. Ketika remaja Bung Tomo masuk menjadi anggota PETA (Pembela Tanah Air) tentara yang dibentuk penjajah Jepang.

Peristiwa 10 November 1945

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tiga hari sebelumnya Jepang menyerah kepada Sekutu.

Pada bulan September 1945 pasukan Sekutu datang ke Indonesia. Mereka hendak melucuti tentara Jepang. Tapi ada yang membonceng pada Sekutu. Merekalah tentara Belanda. Belanda merasa Indonesia masih milik mereka. Padahal Indonesia sudah merdeka dan rakyatnya tak mau dijajah lagi.

Sejak mendengar pengumuman kemerdekaan Republik Indonesia, para pemuda Surabaya termasuk Bung Tomo bersemangat mempertahankan kemerdekaannya. Mereka tak sudi tanah air tercinta ini dijajah kembali oleh bangsa lain.

Para pejuang Surabaya termasuk Bung Tomo (sejak tahun 1937 profesinya adalah wartawan) melakukan aksi perlucutan senjata tentara Jepang. Ada yang mudah dilucuti ada yang susah.

Pada tanggal 19 September 1945 terjadi insiden Bendera di hotel Yamato (Oranje kalau menurut sebutan Belanda) di Surabaya. Penyebabnya adalah orang-orang Belanda yang baru lepas dari tahanan Jepang. Mereka mengibarkan bendera kebangsaan mereka di atap hotel Yamato.

Keruan saja pemuda Surabaya marah. Mereka merobek bagian biru bendera Belanda sehingga yang tersisa tinggal merah dan putih.

Berbekal senjata api dan bambu runcing pemuda-pemuda Surabaya menyerang Berlanda. Seorang perwira Belanda tewas. Melihat kejadian itu, orang-orang Belanda yang ada di situ lari tunggang langgang.

“Indonesia Raya Merdeka merdeka tanahku negeriku yang kucinta…” rakyat yang masih berkumpul di dekat hotel Yamato menyanyikan lagu Indonesia Raya dipimpin Bung Tomo.

Pada awal Oktober 1945 Bung Tomo pergi ke Jakarta. Alangkah kecewanya Bung Tomo melihat sikap orang-orang Belanda yang tidak menghormati kemerdekaan negara Republik Indonesia. Orang-orang Belanda berpawai di jalan dengan mobil bersorak-sorai berteriak sambil mengibarkan bendera kebangsaan mereka bagaikan orang yang baru menang perang.

“Kenapa Belanda bersikap seperti itu? Lalu mengapa kita diam saja?” tanya Bung Tomo kepada Soekarno-Hatta.

“Kami terpaksa membiarkan itu terjadi”, jawab Soekarno mengatasnamakan Soekarno Hatta.

“Kalau kami melakukan tindak kekerasan kepada Belanda kami akan diserang oleh Sekutu. Sementara kami sedang berusaha menerangkan secara baik-baik kepada Sekutu bahwa Indonesia sudah merdeka”, lanjut Soekarno.

Ketika kembali ke Surabaya, Bung Tomo membentuk Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI). BPRI bertujuan memperkokoh semangat rakyat mempertahankan kemerdekaan. Sejak saat itu Bung Tomo yang mantan PETA melatih anggota BPRI berperang dan menggunakan senjata.

Bung Tomo juga mendirikan Radio Pemancar Pemberontak Rakyat Indonesia. Setiap malam, lewat radio ini, dengan berapi-api, ia membakar semangat rakyat Surabaya dan sekitarnya untuk bersatu mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pada akhir Oktober 1945, para pemuda Surabaya melihat semakin banyak pasukan Sekutu mendarat di Surabaya. Para pemuda menjadi marah. Kemarahan mereka memuncak ketika Kapten PJG Huijer dari AL Belanda dengan petantang-petenteng memprotes pengibaran bendera merah putih kepada tentara Jepang. Tapi protes ini tidak ditanggapi Jepang yang terjepit di antara RI dan Belanda.

Rombongan Huijerpun bermaksud kermbali ke Jakarta. Ternyata ketika melalui stasiun kereta Kertosono rombongan itu dicegat pemuda dan dipenjara di Kalisosok.

Tapi tak lama kemudian Brigadir Jenderal Mallaby dari Inggris membebaskan Kapten Huijer. Peristiwa ini membuat darah rakyat Surabaya bergolak. Ditambah lagi sebuah pesawat Sekutu menjatuhkan selebaran yang isinya menuntut rakyat Surabaya menyerahkan seluruh senjata yang mereka rebut dari Jepang.

“Barang siapa membangkang akan dihukum mati!” demikian bunyi selebaran itu.

Segera Bung Tomo lewat “Radio Pemberontakan” mengobarkan semangat pemuda Surabaya dan mengajak mereka bersatu melawan Sekutu. Akhirnya pertempuran sengitpun tak terelakkan. Berkat pidato Bung Tomo, rakyat Surabaya mendapat bantuan dari rakyat sekitarnya untuk mempertahankan kedaulatan kota Surabaya. Brigadir Jenderal Mallaby tewas dalam pertempuran tanggal 29 Oktober 1945 itu.

Pada tanggal 9 November 1945, sekali lagi tentara sekutu mengeluarkan perintah agar pemuda-pemuda Surabaya menyerahkan senjata besok pagi-pagi sekali. Pemuda Surabaya diperintahkan pula meletakkan tangan di atas kepala sebagai tanda menyerah.

Pemuda dan Rakyat Surabaya yang penuh izzah (harga diri) tidak menerima penghinaan ini. Mereka berpedoman “hidup mulia (merdeka) atau mati syahid”. Apalagi pidato Bung Tomo menceritakan untuk berjuang karena Allah dan meminta pertolongan Allah. Barang siapa mati, maka ia akan mati syahid.

Presiden Soekarno pada awalnya tidak menghendaki perang dengan Sekutu. Tapi kemudian ia menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakan pemerintah daerah Jawa Timur.

Pada tanggal  9 November jam 11 malam, setelah rapat dengan jajaran pemerintahan daerah Jawa Timur Gubernur Soerjo mengucapkan pidatonya yang terkenal, lewat Radio Republik Indonesia Surabaya,

“Saudara-saudara sekalian, Pucuk pimpinan kita di Jakarta telah mengusahakan akan membereskan peristiwa di Surabaya pada hari ini. Tetapi sayang sekali sia-sia belaka, sehingga semuanya diserahkan kepada kebijaksanaan kita di Surabaya sendiri.

Semua usaha kita untuk berunding selalu gagal. Untuk mempertahankan kedaulatan negara kita, maka kita harus menegakkan dan meneguhkan tekad kita yang satu, yaitu berani menghadapi segala kemungkinan.

Berulang-ulang telah kita kemukakan bahwa sikap kita adalah: lebih baik hancur daripada dijajah kembali. Juga sekarang dalam menghadapi ultimatum pihak Inggris, kita akan memegang teguh sikap ini. Kita tetap menolak ultimatum itu.

Dalam menghadapi segala kemungkinan besok pagi, mari kita semua memelihara persatuan yang bulat antara pemerintah, rakyat, dan TKR, Polisi dan semua badan-badan perjuangan pemuda dan rakyat kita.

Mari kita semua memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga kita sekalian mendapatkan kekuatan lahir dan batin serta rahmat dan taufik dalam perjuangan.

Selamat berjuang!”

Keesokan harinya yaitu tanggal 10 November 1945 sekutu marah dengan penolakan penyerahan senjata oleh seluruh rakyat Surabaya. Pertempuran hebatpun tak terhindarkan. Surabaya diserang sekutu lewat darat, laut dan udara. Bung Tomo lewat siaran radionya memberi aba-aba untuk mulai memberikan perlawanan terhadap sekutu.

Bung Tomo memberi semangat sambil berteriak, “Allahu Akbar!” berkali-kali.

Teriakan ini diikuti oleh para pejuang, “Allahu Akbar!”

Tentara Inggris kecut hatinya. Sekitar 3000 tentara Gurkha yang muslim dipimpin Zia ul Haq (nantinya menjadi presiden Pakistan) melakukan desersi. Mereka menolak memerangi sesama muslim karena ukhuwah islamiyah. Mereka baru tahu Indonesia muslim setelah mendengar teriakan “Allahu Akbar”.

Pertempuran berlangsung selama 5 hari 5 malam. Sekutu menderita kerugian amat banyak. “Pertempuran terdahsyat Sekutu sejak Perang Dunia II,” kata C.C. Mansergh, komandan Sekutu.

Bung Tomo dan Resolusi Jihad

Apakah hanya Bung Tomo tokoh sentral dalam peristiwa Surabaya? Tidak! Di atas tadi sudah disebutkan peranan Gubernur Jawa Timur, SUrjo yang menginstruksikan perang kepada Rakyat Surabaya. Ada juga peran Hadratus SYaikh K. H. Hasyim Asy’ari pendiri dan Rais Aam pertama Nahdhatul Ulama. Berdasarkan penuturan orang-orang yang dekat dengan Hadratus Syaikh dikatakan bahwa jauh sebelum peristiwa SUrabay terjadi Bung Tomo sering sowan ke Hadratus Syaikh untuk meminta restu dan dukungan dalam memerangi Belanda, Inggris dan Jepang. (majalah Hikayah, Edisi 10 Th. IV, Desember 2005 hal. 55) Hal ini juga disebutkan oleh Sejarawan Ahmad Mansyur SUryanegara dalam bukunya APi Sejarah jilid 2.

AKhirnya Hadratus Syaikh menjawab tantangan itu setelah menggelar SYuro (Musyawarah) dengan kiai-kiai sepuh NU yang lain juga dengan pemuda-pemuda NU yang bergabung dalam Anshor Nahdhatul Ulama dengan mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad Nahdhatul Ulama tanggal 22 Oktober 1945. Resolusi Jihad memutuskan bahwa perang melawan Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia dan Inggris yang membantunya sebagai jihad fi sabilillah dan wajib bagi segenap umat Islam. Mati dalam melakukan perang ini adalah mati syahid.

Kemudian dalam Kongres Umat Islam (muktamar Umat Islam) tgl 7 November di Yogyakarta menghasilkan resolusi 60 miljoen umat Islam siap berjihad fi sabilillah dan mendukung rsolusi Jihad Nahdhatul Ulama.

Bung Tomo pun menjadi bertambah semangatnya untuk berperang melawan sekutu dan NICA Belanda yang meboncengnya. Hadratus SYaikh Hasyim Asy’ari memerintahkan kepada Bung Tomo agar jangan melakukan perang besar-besaran kepada sekutu sebelum datangnya pemimpin Pondok Pesantren BUntet, Cirebon yaitu KH Abbas dan anaknya KH ANas yang dianggap paling ahli dalam kitab Perang Jihad Fi Sabilillah dan diyakini sebagai salah seorang wali. Ternyata KH ABbas, KH ANas dan santri pesantren Buntet tiba di Surabaya sebelum 10 November 1945 sehingga pada peristiwa 10 November 1945 Bung Tomo menjadi yakin untuk melancarkan perang jihad fi sabilillah. Ternyata berkat resolusi jihadiini berbondong-bondong kiai dan santri dan Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Jakarta, apalagi Jawa Timur bergerak menuju Surabaya untuk berpartisipasi dalam Perang Sabil di Surabaya. Ya! Beberapa media massa nasional pada masa itu menyebut perang di Surabaya yang sudah dimulai sejak Oktober 1945 sebagai Perang Sabil atau Perang fi Sabilillah.

Sejak saat itu tanggal 10 November ditetapkan pemerintah RI sebagai hari Pahlawan. Bung Tomo sendiri meninggal (syahid) setelah mengalami kemerdekaan selama 36 tahun. Tepatnya tanggal 7 Oktober 1981, di padang Arafah ketika naik haji.

Wallahu A’lam bish Shawab.

(Agung Pribadi)

Agung Pribadi

/agungpribadipenulis

seorang internet journalist, kontributor di Komunitas BISA! di facebook website nya http://www.facebook.com/agung.pribadidua?fref=ts atau http://agungpribadi.multiply.com menulis artikel di media massa nasional seperti koran tempo, bisnis indonesia, berita buana, seputar indonesia, angkatan bersenjata, lippostar.com. satunet.com, majalah DMAestro, Tabloid Aliansi, Tabloid Agenda, Tabloid SWADESI, Eramuslim Digest juga di media massa internasional yaitu ummahonline.com pengalaman: Menjadi tim riset Film Dokumenter 50 tahun Konferensi Asia Afrika bersama Garin Nugroho Menjadi tim Kreatif: FTV SUtan Sjahrir bersama Hanung Bramantyo dan Garin Nugroho FTV Hatta: Kesunyian yang berbisik bersama Indra J. Piliang dan Garin Nugroho
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?