Mohon tunggu...
Agung Dwi
Agung Dwi Mohon Tunggu... Editor - When the night has come

Menulis - Menyunting - Mengunggah.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Mengapa Masih "Merubah"?

22 Agustus 2017   10:25 Diperbarui: 22 Agustus 2017   13:58 2074
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

SEBENARNYA ini adalah kesalahan lama yang sering berulang-ulang. Namun, rasanya getol juga, hingga Indonesia berumur 72 tahun, masih banyak media daring yang kerap alpa dengan tak mengubah "merubah" menjadi "mengubah". Lihat saja, unggahan gambar yang saya pakai di atas. Padahal, media adalah panutan masyarakat dalam berbahasa. Jika media daring masih alpa, bagaimana dengan masyarakat? Lalu, apa sih penyebabnya kok kesalahan yang serupa ini sering kali luput, padahal setiap pelajaran bahasa Indonesia selalu diingatkan perihal ini?

Mari kita lihat dalam sejarah perkembangan bahasa Indonesia. Sepengetahuan saya, semoga ini tidak salah, bahasa Indonesia itu dikembangkan dari bahasa Melayu Riau oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Kira-kira pada akhir abad ke-19, Pemerintah Kolonial sudah membuka sekolah dasar untuk mendidik pribumi agar bisa dipekerjakan sebagai pegawai pemerintahan kelas rendah. Oleh karena itu, Pemerintah Kolonial ini mulai memikirkan bahasa apa yang akan diajarkan di sekolah bagi calon-calon pegawai ini. Pilihannya ada tiga: bahasa Belanda, bahasa Melayu, dan bahasa daerah masing-masing.

Pilihan ketiga jelas tidak mungkin. Untuk menyederhanakan urusan administratif dan sebagai bahasa pemerintahan di seantero wilayah Hindia Belanda, pengembangan bahasa daerah jelas akan merepotkan. Pilihan pertama, jelas gengsi bangsa Belanda akan terlukai jika bahasa Belanda banyak dikuasai oleh pribumi, meski pada akhirnya banyak juga pribumi yang menguasai terutama kelompok bangsawan. Walhasil, dipilihlah bahasa Melayu sebagai bahasa yang akan dikembangkan Pemerintah Kolonial.

Nah, muncul persoalan kedua. Pada akhir abad ke-19, di Hindia Belanda sudah banyak beredar surat kabar berbahasa Melayu. Pemilik dan redaktur surat kabar ini utamanya adalah orang peranakan Eropa, Cina, dan pribumi (pada awal abad ke-20) yang berada di luar pemerintahan. Isi surat kabar itu pun beragam. Dari iklan, cerita roman, syair, berita kriminal, hingga kritikan terhadap Pemerintah Kolonial. Karena tujuannya untuk masyarakat umum, para redaktur surat kabar pada awal abad ini biasanya menggunakan bahasa Melayu sehari-hari yang bercampur dengan bahasa Cina Hokkien, daerah, dan lain-lain (Ahmat Adam, 2003).

Pemerintah kurang sreg dengan bahasa Melayu yang dipakai oleh para redaktur dalam surat kabar itu. Mereka menamai bahasa itu sebagai bahasa Melayu rendah. Untuk menanggulangi merebaknya penggunaan bahasa Melayu rendah itu, Pemerintah pun mengusahakan pengembangan bahasa Melayu resmi. Pemerintah pun memilih bahasa Melayu Riau karena dianggap sebagai bahasa Melayu paling murni dan membentuk Balai Poestaka yang bertugas untuk mengeluarkan buku-buku resmi, seperti novel dan cerita rakyat, yang tentu saja menggunakan bahasa Melayu resmi.

Nah, di sinilah mula-mula persoalan "merubah" dan "mengubah" itu muncul. Dalam bahasa Melayu, kata "mengubah" sudah muncul dalam teks-teks berbahasa Melayu Klasik. Bahkan, sudah muncul di Hikayat Pandawa Limayang ditulis sekitar abad ke-15, menurut Brakel, dan abad ke-18 menurut Braginsky. Bisa dicek di tautan ini http://mcp.anu.edu.au/Q/searches.html. Cukup tua bukan.

Kata "mengubah" sendiri berasal dari kata dasar "ubah" yang diberi imbuhan "meN-". Arti kata ini adalah "menjadikan lain dari semula (menurut KBBI)" atau sederhananya "membuat sesuatu berubah". Ini sudah pasti benar menurut kaidah dari bahasa Melayu Klasik hingga dianut bahasa Indonesia yang sekarang.

Sementara itu, kata "merubah" atau "meroebah" atau "merobah" dalam ejaan lama memang baru muncul pada pertengahan abad ke-19 hingga merebaknya pada awal abad ke-20 karena efek dari semakin banyaknya surat kabar berbahasa Melayu sehari-hari (vernacular). Secara sosiolinguistik, karena para redaktur ini adalah para peranakan Eropa, peranakan Cina, dan kelompok pribumi yang bukan berbahasa ibu Melayu Riau, mereka akan memakai bahasa yang sering digunakan oleh orang kebanyakan. 

Boleh jadi, kemunculan kata "merubah/meroebah/merobah" ini adalah efek dari kata "berubah/beroebah/berobah". Efek yang dimaksud adalah kesamaan pembentukan konsonan berdasarkan artikulasi dari fonem /m/ dalam "merubah" dan fonem /b/ dalam "berubah". Keduanya adalah konsonan bilabial.

Mengapa kok redaktur ini memilih bahasa Melayu sehari-hari? Jelas, tujuan utama waktu itu agar pembaca surat kabar ini banyak sehingga surat kabar itu laku. Ingat pula, pada waktu itu jurusan bahasa dan sastra tidak banyak. Bahkan, di Hindia pada akhir abad ke-19 hingga abad ke-20 belum ada universitas. Sekolah pun masih belum banyak. Jadi, pembetulan-pembetulan kesalahan dalam berbahasa belum banyak dilakukan.

Dalam perkembangannya, kata "meroebah/merobah" ini terus-menerus dipakai oleh orang Indonesia. Sebut saja Bung Karno. Dalam beberapa kesempatan, Bung Karno kerap memakai "meroebah/merobah". Simak kutipan ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun