Mengapa Harus Pak JK Jadi Presiden 2014?

06 Mei 2012 00:24:55 Dibaca :
Mengapa Harus Pak JK Jadi Presiden 2014?
Perolehan Suara Pilpres 2009

13362635491592835833

Saya masih teringat dengan perkataan JK saat menghadiri acara ‘Economic and Capital Market Outlook 2012’ di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Kamis 2 Febuari 2012 saat itu. Dia bilang begini, “Kalau Anda niat untuk pilih (saya), ya saya pikir-pikir juga.” Perkataan ini merupakan kesiapan JK untuk maju di pemilihan 2014. Kesiapan inilah yang membuat JK semakin terangkat ke permukaan publik dan banyak orang yang mendukungnya.

Seperti diketahui, pada Pemilu 2009 lalu, Jusuf Kalla ikut mencalonkan diri menjadi calon presiden dari Partai Golkar, berpasangan dengan Wiranto dari Partai Hanura tetapi JK-Wiranto kalah dari pasangan presiden-wapres Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono. Kalah karena pasangan SBY-Boediono banyak didukung partai, sedangangkan JK-W hanya dua partai.

Sekarang SBY tidak bisa mencalonkan lagi, partai-partai yang berkoalisi dengan Demokrat banyak yang keluar. Ini peluang besar bagi JK untuk menjadi Presiden 2014.

Sumber:id.wikipedia.or

Mengapa harus Pak JK jadi presiden 2014? Karena Pak JK itu:

Berani

Pada sebuah acara di lapangan terbuka di Kecamatan Tentena, Kabupaten Poso, yang dihadiri pejabat tinggi negara, termasuk JK, duduk menyaksikan orasi. Pembicara tampil silih berganti, menebarkan rasa marah, dan amuk kepada lawan. Satu di antaranya sudah membenarkan rasa marahnya kepada pihak pemerintah dan menunjukkan gelagat perlawanan lebih jauh. Melihat keadaan seperti itu, JK mengambil sikap dan berkata: "Ayo, siapa tadi yang berteriak menantang itu? Ayo, maju ke sini. Jangan hanya tahu berdiri di tengah kerumunan lalu bersembunyi. Ayo, kita berhadapan." JK juga menjelaskan maksud kedatangannya bersama teman-teman sebagai wakil pemerintah untuk menyelesaikan konflik. Jika mereka tidak berhenti bertikai, maka JK memberi mereka tiga pilihan. Pertama, berperang terus, hingga titik darah penghabisan dan JK akan memberi mereka senjata. Kedua, mereka akan dihadapkan dengan pasukan pemerintah yang terlatih dan profesional. Ketiga, berhenti bertikai, duduk bicara untuk damai.

Suasana menjadi tenang, tidak ada yang bergerak. Sejak itu, rumusan tiga tawaran tersebut diusung oleh JK ke mana pun, termasuk pertikaian di Ambon.

Saya bertanya pada JK, mengapa ia begitu berani menghadapi gerombolan orang yang sedang marah?

Dia berkata bahwa dia tidak mau pemerintah dihina dan dicaci. Pemerintah harus mengambil tindakan tegas. Dan kedatangannya ke sana untuk niat yang baik, mendamaikan mereka tanpa peduli risiko yang akan dihadapi.

Tanggap

Saat JK menyampaikan pidato menyambut peluncuran buku terbaru Syafii Maarif di Aula Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jl Menteng Raya, Jakarta, Senin malam, tanggal 6 Pembruari 2012, Ia mengeatakan, “Ada pihak yang mengambil keuntungan dari konflik berkepanjangan antara Israel dengan Palestina. Keuntungan itu berupa harga minyak yang tinggi. Sementara Indonesia sebagai negeri Muslim terbesar, berada pada posisi yang dirugikan.”

Selain itu juga menhgatakan, “Jika konflik Timur Tengah selesai harga minyak akan turun pada harga 20 USD per barrel. Tetapi karena konstelasi politik Timteng terus memanas maka harga minyak mentah terus merangkak hingga 100 USD per barrel. "Kalau konflik reda, kita yang untung".

Kata dan sikap yang demikian itu merupakan suatu kepekaan, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Cerdas

Masihkah kita ingat dengan MoU Helsinsky? Itu karena JK memiliki strategi yang pas untuk perdamaian. Saya teringat saat ia berpidato di Jepang.

"...bahwa konflik aceh telah berlangsung selama 30 tahun dengan korban 15.000 orang tewas di Aceh. Banyak orang berpikir ini karena persoalan agama. Tapi sebenarnya itu bukan masalah agama semata, agama hanya diangkat untuk membangkitkan solidaritas. GAM sendiri tidak berpikir atau dimotivasi masalah agama tapi lebih pada masalah keadilan."  - dikutip dari Pidato Pak Jk pada acara seminar Perdamaian di Hiroshima Jepang, 5 Maret 2011.

Untuk membuat hingga tercapainya perjanjian tersebut bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Sudah banyak yang mencoba melakukannya dengan berbagai cara, tetapi gagal. Baru setelah Pak JK dan timnya bergerak, perjanjian itu berhasil dicapai. Butuh proses, waktu, strategi yang akurat dan tepat, dedikasi, kesabaran, dan kerja keras yang tidak semua orang mau dan mampu melakukannya.

"Maka saya memulai sebuah negoisasi saya selalu memulai dengan analisis : Apa, kenapa, siapa, di mana dan bagaimana, masalahnya apa, Kenapa bisa terjadi, siapa pihak yang terlibat, dan bagaimana itu bisa terjadi. Kebanyakan konflik terjadi karena masalah keadilan ekonomi, social, politik. Sama halnya dengan keadilan politik, maka keadilan adalah hal yang menggerakkan semua itu, agama hanya alat solidaritas saja. Jadi disebabkan oleh keadilan dan didorong oleh solidaritas agama. Sama halnya dengan Aceh, selama ini mereka mengatas namakan gerakan islam, tapi sebenarnya Gerakan Aceh Merdeka disebabkan oleh ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat, yang mana Aceh sangat kaya dengan Sumber daya alam, tapi aceh sendiri tidak mendapatkan pembagian dalam situasi tersebut. Mereka sangat kaya tapi itu tidak berimplikasi apa-apa terhadap mereka. Jadi ini yang saya amati waktu itu mengapa sampai hal tersebut bisa terjadi."

Saya sendiri terkejut-kejut setiap kali mendengarkan kisah dan cerita bagaimana hingga tercapainya semua ini. Sudah berulang kali saya mendengarkan beliau pidato dan bahkan bertanya langsung tetapi tetap saja geleng-geleng kepala karena takjub dan kagum. Sungguh sangat mengherankan bila semua yang sudah dibuat dengan susah payah ini lalu disia-siakan begitu saja dan dianggap sebagai sejarah yang tidak penting. Sementara kita semua sadar penuh bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya; manusia beradab adalah manusia yang tidak pernah melupakan sejarahnya.

"Farid Husein (penulis buku "To See The Unseen" dan "Keeping The Trust for Peace")  pun saya tes dulu sebelum turun ke lapangan. Saya tes dia dengan peta buta wilayah propinsi Aceh. Dia harus tahu persis dan hafal lokasi-lokasi di Aceh berikut detailnya. Jika tidak hafal, nanti salah tempat bagaimana?!", cerita beliau pada generasi muda Aceh Gen-K pada saat sarapan pagi sehari usai peluncuran buku "Ayahku Inspirasiku" tanggal 10 Februari 2012 lalu di Hotel Danau Toba Internasional, Medan. Bang Farid Husein yang saat itu pun ada di sana bersama Bang Ferry Mursyidan Baldan tertawa dan mengangguk-anggukan kepala.

"Lalu bagaimana dengan melakukan negoisasi? Tentunya harus mengontrol langsung, dan saya kasih jangka waktu tidak boleh lebih dari 6 bulan. Saya beri batas waktu, apakah perdamaian tercapai atau tidak harus selesaikan dalam 6 bulan. Mengapa 6 bulan? Karena dalam banyak kejadian dan kalkulasi saya, dalam melakukan negoisasi dibutuhkan 6 kali perundingan. Saya telah melakukannya di Poso, itu terjadi 6 kali perundingan tapi itu dilakukan setiap 2 hari sekali, sehingga dalam waktu 2 minggu tercapailah kesepakatan damai. Untuk kasus GAM dan RI saya menargetkan setiap sebulan sekali terjadi perundingan. Dan itu harus terus diikuti dan di-follow up, karena kalau kita tidak melakukan itu, ada yang intervensi maka bisa buyar semuanya. Dan sebagaimana yang kalian ketahui setelah 6 kali pertemuan, tercapai kesepakatan damai, dan untuk melakukan mediasi (menjalankan kesepakatan) saya menunjuk Marti Artizari sebagai mediator."

Kata-kata Pak JK yang paling selalu saya ingat dalam hal cara beliau melakukan perdamaian adalah: "Perdamaian adalah soal kompromi, di mana semua pihak harus sama-sama merasa nyaman dan menjadi yang terhormat dan menang dengan penuh harga diri. Tidak boleh ada yang kehilangan muka." bagi saya, itulah kunci yang dapat membuat kesepakatan perdamaian bisa terwujud. Bila ada salah satu pihak saja yang merasa dirugikan, kalah, dipojokkan, dan dilecehkan maka tidak akan pernah ada kata damai di antara mereka.

"Apakah kita jujur, siap, dan selalu menjalankan perjanjian perdamaian itu sendiri?!" tanya Pak Jk. Duh, butuh proses dan waktu untuk dapat menjawabnya.

"Saya hanya menjalankan ibadah saja. Di dalam agama yang saya yakini, mendamaikan orang yang sedang bertikai adalah ibadah," kata beliau di awal pembukaan pidatonya pada Seminar Konstruksi Perdamaian Aceh yang diselenggarakan oleh Aceh Sepakat pada tanggal 17 Maret 2012 lalu di Medan. Saya tak mampu bicara apa-apa. Saya ingin belajar dan belajar lebih banyak lagi.

Merakyat

Mencuatnya kembali nama JK di internal Golkar dikarenakan JK memiliki integritas yang tidak diragukan lagi oleh masyarakat. Kiprahnya saat menjadi wakil presiden menjadi bukti kongkrit bahwa JK merupakan salah satu negarawan yang potensial dimiliki Indonesia. JK memiliki karakter yang tidak dimiliki oleh Ical, dia merakyat, tegas, relegius, dan cerdas. Pemimpin seperti ini yang sekarang diidamkan masyarakat.

Popularitas JK tinggi dipengaruhi karena beberapa faktor yaitu: JK merrakyat, merupakan mantan wakil presiden, ketua organisasi kemanusiaan PMI (Palang Merah Indonesia), dia juga berasal dari Indonesia Timur, serta mantan Ketua Umum Partai Golkar. Jadi dia masih dicintai oleh kader Golkar.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?