Achmad Saifullah Syahid
Achmad Saifullah Syahid Guru, Penulis

orang-orang cahaya berhimpun di dalam tabung cahaya, tari-menari, di malam yang terang benderang sampai fajar menjelang di cakrawala.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora headline

Anak-anak Punya Modal Alami Memelajari Filsafat

18 April 2017   09:40 Diperbarui: 18 April 2017   11:23 241 13 6
Anak-anak Punya Modal Alami Memelajari Filsafat
Sumber gambar: topak.ir

“Saya tidak pernah sungguh-sungguh mengajar,” kata sahabat saya, “karena saya melatih siswa untuk berpikir.” Mendengar kalimat itu spontan saya terbahak. Ada-ada saja. Memang ada belajar tanpa berpikir?

Sekarang sahabat saya tidak mengajar lagi di sekolah formal. Namun, setiap sore dan malam hari ia masih melatih berpikir anak-anak yang berkumpul di rumahnya. Menurut pengakuannya, sekolah hanya mengajari anak agar pintar, tidak mendorong menjadi manusia yang cerdas.

Apa-apaan ini, batin saya. Ada anak pintar dan anak cerdas. Jawaban versi sahabat saya adalah pintar dan cerdas itu berbeda. Anak pintar adalah anak yang bisa menjawab sepuluh pertanyaan secara tepat dan benar. Dapat nilai 100. Adapun anak cerdas adalah anak yang bisa menyusun sepuluh pertanyaan dengan sepuluh jawaban yang berbeda dari satu biji fakta di depan matanya.

Menemukan 1, 2, 3 dalam 4
Apakah belajar atau mempelajari ilmu tertentu, misalnya Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tidak memerlukan kegiatan berpikir? Jawabannya belum tentu, bergantung bagaimana guru menyajikan bahan pelajaran. Sayangnya, yang kerap terjadi adalah guru menjadi corong pengetahuan. Siswa tak ubahnya gelas kosong—digerojok air pengetahuan hingga tumpah ruah.

Sahabat saya pasti akan uring-uringan menyaksikan itu semua. Fakta sains yang hadir di depan mata kita bukan semata-mata dan hanya menampilkan fakta itu sendiri. Fakta sains tidak berdiri sendiri dan tidak pula berisi muatan fakta tunggal.

Katakanlah fakta sains itu serupa angka tujuh, maka sahabat saya mengajak anak-anak untuk berpikir dan menemukan kandungan enam, lima, empat, tiga, dua, satu—serta memproyeksikan semua unsur yang dikandung oleh tujuh menuju delapan, sembilan, dan seterusnya.

Sungguh sikap yang ahistoris ketika kita melihat buah mangga tapi menafikan eksistensi pendukung lainnya: daun, ranting, batang, akar, tanah dan air. Dan sungguh sikap yang arogan ketika kita menikmati buah mangga tapi tidak memproyeksikan takaran vitamin untuk kesehatan esok hari.

Tidak ada fakta yang berhenti. Jumud. Mandeg. Beku. Statis. Bahkan diri kita hari ini bukalah diri kita kemarin. Diri kita besok pagi bukanlah diri kita malam ini. Terkait detail-detail fakta yang hidup, dinamis dan terus bergerak, sekolah atau pendidikan kita kacau struktur berpikirnya, gelap mata cakrawalanya, lumpuh kaki filosofinya, tumpul logika berpikirnya, bebal kepekaan rasa estetikanya.

“Sekarang Tuhan Sedang Apa?”
Filsafat sebagai sistem berpikir yang menemukan akar persoalan paling mendasar dan substansial tidak pernah benar-benar menarik minat sekolah. Terlalu banyak pelajaran, logika siswa belum matang, khawatir anak jadi skeptis merupakan alasan yang dipicu oleh pragmatisme pendidikan.

Bukan terutama obyek formal filsafat yang perlu dipelajari anak-anak, walaupun muatan berpikirnya mungkin tidak bisa dilepaskan dari sajian Aristoteles misalnya—namun menyajikan menu filsafat yang sesuai kesanggupan berpikir anak bukan hal yang sulit asal kita mau.

Apalagi anak-anak adalah makhluk Tuhan yang dipinjami sikap ingin tahu. Ibu melahirkan Adik lewat mana? Sekarang Tuhan sedang apa? Setan itu wajahnya seperti apa sih? Kenapa hujan jatuh dari langit? Semua itu adalah “pertanyaan filosofis” yang dihadirkan Tuhan melalui bibir anak-anak bukan tanpa maksud.

Itu belum termasuk perilaku istimewa anak yang suka ngeyel. Berdebat dengan anak sesuai takaran dan konteks yang tepat, menurut Gwen Dewar, Ph.D., dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis yang sangat berguna dalam aneka konteks interaksi.

Tantangannya adalah bagaimana menyajikan kompleksitas filsafat sebagai induk dari segala ilmu menjadi formula berpikir yang sesuai dengan tahap usia anak-anak di bangku sekolah. Dorongan yang kuat pada diri setiap anak untuk menemukan jawaban-jawaban terkait realitas paling sederhana maupun fakta di lingkungan, yang ditimbulkan oleh dorongan fitrah sebagai makhluk yang berakal—jangan dilewatkan begitu saja.

Kalau filsafat terlalu melangit bagi anak-anak, kita bisa menemukan formula yang lebih sederhana namun tetap mengacu pada bangunan logika berpikir yang jluntrung, seimbang, dan adil. Bahwa hidup adalah deretan peristiwa yang saling terkait, menemukan 1, 2, 3 dalam 4, atau memproyeksikan 4 untuk menemukan 5, 6 dan seterusnya, serta menjaga keseimbangan berpikir dan berperilaku merupakan benih-benih tanaman bagi masa depan mereka.

Kalau struktur logika berpikir lemah atau morat-marit atau keropos, akibat minimal yang terjadi adalah anak akan menemui berbagai kendala saat menyampaikan pendapat atau bahkan nyaris tidak memiliki pendapat dan tidak mampu berpendapat. Mendadak mereka akan berubah seperti patung—diam dan termangu ketika hendak mengemukakan pendapat.

Akibat maksimal yang mungkin akan dialami adalah kelak, saat mereka dewasa dan jadi orang, cara dan sikap berpikirnya mudah terbelah dan dibelah—dikotomis, berat sebelah dan mudah ngamuk untuk menyerang dan melumpuhkan orang lain.

Dan lagi-lagi, pendidikan kita belum memiliki concern yang serius dalam menyelami muatan-muatan kebijaksanaan yang dikandung oleh bangunan ilmu. Guru mengajarkan struktur kimia sebuah gula namun luput merasakan manisnya gula.

Saya angkat topi untuk sahabat saya. Ia tidak tahan berlama-lama mengajar karena baginya melatih berpikir anak-anak tak kalah menantang dengan menyelesaikan soal Uji Kompetensi Guru (UKG), dan tak kalah menggiurkan dengan menerima uang tunjangan sertifikasi. []

jagalan 18.04.17