HIGHLIGHT

Jika Pilkada Bernafas Cinta

11 September 2012 14:28:42 Dibaca :
Jika Pilkada Bernafas Cinta

Dan Foke-Jokowi pun telah bersalaman. Di bawah hikmah kebijaksanaan, payung demokrasi musyawarah berkeadaban, berikrar janji ‘sehidup semati’ siap menjalani proses bersejarah DKI, pemilukada damai. Pemilihan umum kepala daerah mesti berjalan dengan damai, tanpa kekerasan, tanpa gontok-gontokan, tanpa kekisruhan.

Pemilukada damai, harapan seluruh warga Jakarta, seluruh rakyat Indonesia, bahkan seluruh manusia di dunia. Siapa yang suka segala hal berjalan lancar dalam kedamaian? Pilkada, pemilukada, sebagaimana pemilu-pemilu lainnya, pileg, pilpres, pilkades, hanyalah suatu cara mencapai tujuan bersama, memilih wakil atau pemimpin, di bawah aturan yang telah disepakati bersama dalam tata kehidupan bernegara.

Pemilukada damai, bersalaman jangan berhenti pada simbol-simbol ritual semata, namun mesti mengejawantah dalam tiap tapak langkah berikutnya. Seperti ikrar sepasang manusia yang hendak membangun mahligai rumah tangga dalam ritual pernikahan, pemilukada pun butuh cinta.

DKI jakarta adalah rumah bersama membangun keluarga. Tak ada keluarga bahagia tanpa keharmonisan antar anggota, dan tiada keharmonisan antar anggota tanpa dilandasi rasa cinta. Jika pilkada bernafas cinta, maka jangan pernah ada dusta di antara kita. Di dalam keluarga, kedamaian adalah dambaan setiap jiwa, lintas batas, lintas usia, lintas ras dan lintas agama, semua manusia berhak dan bertanggungjawab menciptakan kedamaian.

Jika pilkada bernafas cinta, apapun yang terjadi selalu indah akhirnya. Jika hendak diartikan sebagai pertarungan atau laga, namun selama tetap bernafas cinta, maka siapapun yang kalah atau menang tetap berbuah cinta, damai selalu alam dunia. Ksatria bertugas memperjuangkan apa yang telah diamanatkan, pertarungan memang kadang tak terelakkan. Namun pertarungan para ksatria adalah pertarungan bernafas cinta, bukan karena dendam kebencian ingin menghancurkan.

Semua hanya menjalani peran, wayang-wayang dengan lakon masing-masing, tunduk pada kehendak sang dalang, selesai urusan, masuk kotak penyimpanan. Semua senang, semua menang, semua tenang. Hidup dan menang dengan damai, kalah dan terbunuh dengan damai. Hidup mati, kalah menang, nyaris tak ada bedanya, jika merupakan akhir dari nafas cinta.

Jika pilkada bernafas cinta, hendak dimaknai sebagai kompetisi menjadi yang terbaik, semua bisa berlomba mengerahkan kemampuan terbaiknya. Bermula di atas balok tumpu kebaikan, berlari di lintasan trek kebaikan, berakhir di garis finish kebaikan, menjadi yang pertama atau yang terakhir, tak lantas membuat hidup dan karier berakhir. Cinta dan kebaikan saling membutuhkan. Bila yang satu menjadi akibat, yang lain menjadi alasan, jika yang lain menjadi akibat, maka yang satu menjadi alasan.

Jika pilkada bernafas cinta, tujuan apapun tak menjadi problema. Cinta membawa damai, damai membawa cinta. Romantisme penuh dinamika. Politik hanya sebuah cara. Kekerasan hanya membawa luka-luka. Pengkhianatan hanya membuat rasa kecewa. Rekayasa hanya mencipta sesak dada. Nafas cinta menghembuskan kesejukan, kedamaian menyebarkan kebahagiaan, kekeluargaan di atas segala perbedaan kepentingan.

Jika pilkada bernafas cinta, pengorbanan akan indah terasa. Fitrah manusia saling memberi untuk menerima, keserakahan hanyalah bisikan setan yang merusak kedamaian manusia. Memang selalu ada bakteri-bakteri demokrasi, jangkrik-jangkrik politik yang gemar menebar konflik, penumpang gelap perusak suasana. Dajjal penyebar fitnah dan pengadu domba, penggunting dalam lipatan, pemancing ikan di air keruh, politikus bulus homo homini lupus.

Namun cinta menjadi penawarnya, hanya ruh cinta yang menyelamatkan manusia, dalam pilkada DKI Jakarta. Nafas cinta dalam pilkada, telah disimbolkan dengan salaman damai Foke-Jokowi, aktor utama dua ksatria yang siap berlaga di putaran dua. Semua mesti menyelam ke dalam lautan makna bersama, bergerak serentak bagai simfoni paduan suara, kolaborasi sempurna elit-publik, pemimpin-rakyat, tanpa kecuali.

Jika pilkada bernafas cinta, harta, tahta dan wanita bukanlah masalah. Semua manusia butuh harta-kekayaan, tahta-kekuasaan dan wanita-pasangan. Namun cinta menjadi pagar yang menjaga jiwa untuk tetap menghidupkan ruh kedamaian, rahmat, kasih sayang, inti sari ajaran nilai-nilai luhur manusia. Cintalah yang menghidupkan kesadaran untuk saling menjaga martabat dan harkat sebagai makhluk berkeadaban mulia.

Pilkada bernafas cinta, spirit nilai-nilai Pancasila, bukti rahmat Tuhan, humanisme-kemanusiaan, persaudaraan persatuan keluarga bangsa, kerakyatan hikmah kebijaksanaan, hingga akhirnya berbuah pada keadilan sosial berpemerataan. Nafas cinta berhembus dalam ruh demokrasi sejati nusantara, res-publica, ruh absolut negara, agama publik universal, daulat rakyat, cita-cita bersama Indonesia merdeka.

Pilkada bernafas cinta, bersalaman dalam kedamaian, demi keluarga besar warga ibukota DKI Jakarta. Jika diawali dengan cinta, seharusnya berakhir dengan cinta, semua bernilai kebaikan. Meski kadang perlu pengorbanan yang menyakitkan, kadang penuh tetesan darah, keringat dan air mata duka lara, namun nafas cinta mengubahnya menjadi makna yang membawa manusia tetap berharga.

Salam... El Jeffry

(disalin dari blog pribadi: nafaspembaharuan.blogspot.com/2012/09/jika-pilkada-bernafas-cinta.html)

Handoyo El Jeffry

/achazia.com

Bila ingin mengenal seseorang, bacalah tulisannya. Bila ingin membaca seseorang, kenalilah tulisannya. Bila ingin menulis seseorang, kenalilah bacaannya dan bacalah kenalannya. (http://nafaspembaharuan.blogspot.com/)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?