HIGHLIGHT HEADLINE

Misteri Dibalik Corby "Ratu" Penakluk Kedaulatan Hukum Kita

26 Mei 2012 03:34:52 Dibaca :
Misteri Dibalik Corby "Ratu" Penakluk Kedaulatan Hukum Kita

Jumat, 8 Oktober 2004, pagi-pagi sekali waktu Brisbane Australia di Bandara Brisbane sedang hiruk pikuk dengan aktifitas dunia penerbangan. Seorang wanita muda dan berparas lumayan cantik mengenakan gaun  berwarna pastel hijau muda bersama tiga temannya akan berkunjung ke Indonesia berwisata di Bali. Dia adalah Schapelle Leigh Corby (Corby) salah satu wanita yang terheboh di Indonesia saat ini selain Lady Gaga.

Pukul 6 pagi waktu setempat, sebelum peswat yang mereka tumpangi lepas landas menuju Sydeny ibu Corby (Rose Corby) sempat mengambil gambar Corby dan tiga rekannya. Menggunakan Qantas dengan nomor penerbangan QF501 mereka tiba di Sydney 90 menit kemudian.

Ketika tiba di bandara Internasional Sydney, mulai terjadi masalah. Petugas bandara domestik di Bay 5 penerbangan domestik menerima barang mereka dan akan dikirim ke terminal internsional di terminal C untuk Australian Airlines (AA). Ternyata barang itu dinyatakan kelebihan muatan.  Berat seluruh bagasi milik mereka berempat totalnya 65 Kg (tidak ditimbang per orang). Akibatnya Corby dan temannya dibawa sejauh 2 kilometer oleh petugas AA ke Terminal B untuk mengurus masalah tersebut.

Di terminal B barang bawaan mereka diperiksa secara detail merlewati X-ray. Dua koper dimasukkan dalam tabung DQF60342QF dan sebuah lagi karena tidak cukup dalam tabung itu dikirim ke Terminal C bersama dua kantong lagi milik  mereka dengan nomor loading 70 yang masuk dalam tabung lainnya. Bagasi yang masuk dalam tabung ini meskipun dilbalut dengan kanvas tapi tidak terkunci. Bagasi inilah yang menjadi masalah saat tiba bandara Ngurah Rai, Denpasar Bali pada pukul 14.30 (waktu Indonesia).

Pada pukul 9.30 pagi waktu Sydney  mereka menggunakan Australian Airlines dengan nomor penerbangan AO 7829  menuju Bali utuk  tujuan berwisata dan bertemu rekan-rekannya. Wanita yang masih terlihat wanita cantik (saat itu) memerlukan waktu hampir dua jam mengurus bagasinya hingga dapat berangkat tepat waktu.

Tiba di bandara Ngurah Rai, Bali pada pukul 13.30, dalam bagasi yang tidak masuk dalam tabung DQF60342QF ditemukan ganja seberat 4,2 kilogram. Petugas bandara tentu menangkapnya dan memprosesnya sampai dengan saat ini dan menimbulkan polemik politik ke dua negara seperti yang telah sama-sama dilansir oleh berbagai media massa.

Sebelum melihat sejauh apa persoalan politik yang terjadi di kedua negara, ada baiknya kita mengenal sosok Corby lebih mendalam. Dengan mengenal kisah Corby sedikit tidaknya dapat membantu kita menjelajah persoalan tentang si ratu heboh sejagad ini, ada apakah dibalik semua ini?

Corby pada saat itu bekerja di sebuah perusahaan ikan milik keluarga di Australia setelah  empat tahun bekerja di sebuah perusahaan perhotelan Gold Coast di Jepang hingga 1999 hingga 2003. Dengan upah lebih besar ia memilih diperusahaan barunya dengan alasan untuk merawat ayahnya, Michael (saat itu 55 tahun) yang sedang terserang kanker.

Berstatus sebagai wisatawan ke Bali Corby bersama 3 rekannya (dalam foto) hanya bertujuan transit sebelum menuju Jepang 3 hari kemudian. Di Jepang -seperti kebiasaannya- ia tentu dapat bertemu dengan mantan suaminya yang telah memiliki istri baru dan seorang anak. Sedangkan di Bali, selain berwisata  ia juga merencanakan bertemu dengan teman-temannya.

Ketika ditangkap (tertangkap) Oktober 2004 ia berstatus sebagai janda dari mantan suaminya seorang warga Jepang. Kunjungannya ke Bali kali ini BUKAN untuk yang pertama karena ia telah terbiasa melakukan perjalanan Australia- Bali- Jepang sangat intensif . Akan tetapi kunjungan pertamanya ke Bali adalah saat ia kembali dari Jepang menuju Australia setelah bercerai dengan suaminya pada tahun 2000.

Pada Juni 1990 ia bertemu dengan Kimi Tanaka, warga Jepang yang bekerja di Australia. Setiap hari libur mereka berkencan sehingga akhirnya menikah tahun 1998 dan dibawa ke Jepang. Akan tetapi tak lama, dua tahun menikah mereka bercerai pertengahan 2000. Usia pernikahannya yang singkat itu membuat Corby merasa sangat terpukul meskipun ia sering melihat pengalaman itu adalah hal yang biasa dan terjadi pada pasangan lainnya yang menikah berbeda bangsa.

Michael Corby adalah ayah kandung Corby. Michael mantan petugas perusahaan tambang batu bara milik Jerman  yang beroperasi di Australia Selatan. Michael pernah berurusan masalah  narkotika juga dan ditahan oleh otoritas Australia pada tahun 1970. Michael tertangkap bersama 5 kg ganja yang ia katakan BUKAN miliknya. Michael dibebaskan setelah memberi jaminan 400 dolar Australia. Michael sendiri akhirnya meninggal pada April 2008 akibat serangan kanker ususnya.

Pada hari yang sama Corby terbang ke Indonesia salah satu harian terkenal di Australia "Sydney Morning Herald" entah secara kebetulan pada edisi 8 Oktober 2004 justru melansir berita menghebohkan tentang pembongkaran  jaringan obat bius yang melibatkan petugas bagasi bandara internasional Sydney. Diberitakan jaringan tersebut sedang mengirimkan barang terlarang dalam jumlah besar ke luar Astralia. Berita itu benar, karena seminggu kemudian sejumlah orang yang terlibat dalam jaringan tersebut ditangkap petugas Australia. (sumber : http://www.ganjapages.com).

Masih seputar yang menarik tentang Corby adalah, ketika proses persidangan sedang berjalan pada 14 April 2005, Mercedes kakak Corby memukul dan merampas kamera wartawan yang meliput dan mengambil gambar Cosby. (sumber : http://news.detik.com).

Saat Corby ditahan di dalam tahan penjara Kerobokan pun wanita ini pernah dikunjungi oleh mantan tahanan penyelundup obat bius yang tertangkap pada 2003 ketika menyelundupkan 100 kg ganja dari Australia Selatan ke Queensland. Pria tersebut dijatuhi hukuman 3 tahun penjara pada 2003, akan tetapi tak lama ia kemudian mengajukan jasanya membantu pemerintah Australia membongkar jaringan penyelundupan obat bius ke luar Australia. Dialah orang yang pertama sekali mengunjungi Corby di dalam penjara.

Pada tahun Mei 2005, kosulat RI di Perth mendapat ancaman pembunuhan disertai sebutir peluru. Selanjutnya pada 7 Juni 2005, giliran KBRI mendapat kiriman sebuah amplop berisi serbuk putih yang membuat KBRI ditutup selama beberapa hari. Kedua peristiwa tersebut diyakin berkaitan dengan masalah Corby.

Selain itu, media massa Australia baik cetak, elektronik dan ribuan bloger telah memberikan perhatiannya bagaimana membebaskan Corby melalui ulasan-ulasan dan analisis tentang jaringan obat bius. Salah satu blog yang terkenal adalah milik keluarga Corby sendiri. Di sana kita dapat melihat apa dan bagaimana tanggapan masyarakat Australia dalam mengkondisikan opini tentang Corby. Salah satu Informasinya dapat dilihat di sini : http://www.freeschapelle.com.au/

Apakah pemerintah RI bertekuk lutut karena Corby?

Sejak penahanan terhadap Corby dilaksanakan, berbagai mediasi telah ditempuh oleh sejumlah pihak berkompeten dari Australia. Beberapa Dubes dan Konjen Australia serta pengacara dan utusan khusus Australia telah datang silih berganti.

Tak heran tahanan Coby adalah tahanan paling ekslusif dan paling protektif. Ekslusif karena Corby menjadi semacam icon pembebasan dan kemerdekaan bagi masyarakat Australia. Prrotektif karena Corby menjadi salah satu tahanan paling mendapat perlindungan dan perhatian khusus oleh pejabat dan petugas keamanan di negeri ini demi menjaga keselamatan jiwanya demi menjaga hubungan baik dengan Australia.

Akibatnya, sosok Corby ini menjadi salah satu obat "tawar menawar" atau bargaining dalam beberapa hal. Corby mendapat tawaran dari pihak Australia untuk pembebasan beberapa tahanan Indonesia di beberapa lokasi dalam wilayah Australia termasuk yang berada di pulai Christmas (pulau Natal).

Issue adanya desakan pertukaran tahanan ini diakui oleh Menlu  Maarty Natalegawa seperti yang disampaikan kepada media Australia Fiancial Review beberapa waktu lalu. "Kami mengerti. Pertukaran tahanan adalah hal yang amat baik," ujar Menlu Selasa (15/5/2012). Sumber : (http://jakarta.okezone.com/read/2012/05/15/411/629796/ri-buka-peluang-pertukaran-tahanan).

Sementara itu Menteri Hukuman dan HAM justru membantah adanya intervensi Australia dalam persoalan  kedaulatan hukum RI. "Tidak ada deal apa pun dengan Australia, kita serahkan sepenuhnya karena itu kan kedaulatan hukum mereka, tidak bisa kita dikte. Kita juga tidak didikte (pemerintah Australia), kita melihat ada pengalaman meringankan hukuman dari beberapa warga negara asing mendatangkan sesuatu yang membantu warga kita yang ada disana," kata Amir kepada media massa (sumber : mediaindonesia).

Seperti diketahui saat ini jumlah tahanan asal Indonesia yang ditahan di seluruh Australia saat ini berjumlah 470 orang. Jika mengacu perbandingan ini tentu jumlah tahanan Indonesia lebih banyak dari tahan asal Australia di Indonesia.

Persoalannya tentu tidak sama dengan persoalan tahanan Palestina banding tentara Israel yang disekap oleh gerilyawan Palestina. Masalah barter tahanan kriminal internasional RI dan Australia tidaklah serupa ranah hukumnya dengan persoalan sandera akibat peperaangan.

Padahal undang-undang  No.35 tahun 2009 tentang Narkotika Pasal 113 Ayat 2  telah jelas sanksnya dengan hukuman mati dan telah disosialisasikan dan diterapkan kepada semua orang tak terkecuali Corby. UU Narkotika juga telah "memangsa" korban jiwa dari sejumlah warga negara asing dan WNI. Semua negara sepakat bahwa persoalan eksistensi hukum sebuah negara tentu tak akan ada negara lain yang dapat mengendalikannya apalagi mendiktenya.

Terbitnya grasi presiden untuk Corby selama 5 tahun sehingga mengurangi masa tahanannya dari 20 tahun ke 15 tahun tidak serta merta Corby akan dikeluarkan dari tahanan. Bahkan dengan pemberian remisi 12 bulan selama 2 hingga 3 tahun ke depan pun Corby masih harus mendekam hingga 2015 dalam penjaranya.

Apakah pantas memberi grasi atas pertimbangan barter tahanan? Jika tidak pantas sebaiknya berikan grasi atas dasar yang lebih obyektif. Lebih menyedihkan lagi, apakah pantas memberikan Remisi dan Grasi itu akibat tekanan dan intervensi asing? Jika tidak, mari berikan grasi dan reimisi berdasarkan kepentingannya, jangan dibalik-balikkan atau dicampur adukkan.

Lebih penting lagi adalah, proses pemberian grasi itu sendiri, harusnya melalui mekanisme permohonan tertulis dari Corby sendiri, seperti yang disampaikan oleh Yusril Ihza Mahendra.

Apakah Corby benar-benar sang penakluk kedaulatan hukum RI ataukah  kita memang PANTAS memberi ampunan kepada Corby atas dasar pertimbangan kondisi dan kisah Corby sebagaimana disebutkan di atas..? Mari berpikir dengan jernih dan lapang dada, tapi jangan merusak kedaulatan hukum bangsa dan negara. Relevansi dengan Napi Narkoba Australia saat ini

Kini, pemerintah Indonesia dihadapi dengan polemik dan tekanan yang amat luar biasa dalam menjalankan eksekusi mati dua napi narkoba Australia.

Aneka pro dan kontra telah menghiasi blantika media informasi sosial, cetak dan elektronik di dalam dan luar negeri. Kita dapat melihat media dan informasi apa yang pro pada kebijakan pemerintah dan mana saja yang terkesan membela ke dua napi tersebut mati-matian dengan berbagai cara, gaya dan alasan yang tidak dapat dituangkan pada tulisan ini satu per satu.

Sekadar informasi penting pada ke dua napi Australia di atas, adalah, menurut orang tua salah satu napi mati tersebut, sebetulnya pemerintah (polisi) Federal Australia telah mengetahui rencana sindikat narkoba internasional tersebut. Mereka sengaja melepas keberangkatan mereka dan justru membocorkan pada Polisi Indonesia.

Alasannya, kebijakan hukum Australia tidak menganut hukuman mati untuk memberi efek jera terhadap pelkau kriminalitas yang merusak moral dan mental masa depan generasi Australia. Mereka menyerahkan informasi tersebut saat rombongan Bali Nine dalam perjalanan Sydney - Bali.

Dengan membandingkan peristiwa Corby si ratu narkoba yang telah lepas dan menghirup udara bebasnya, ada kemungkinan Corby berperan besar dalam melakukan lobi dengan pihak tertentu di Indonesia, kita akan dapat melihat apa sesungguhnya yang bakal terjadi terhadap nasib calon terpidana mati Austrlia. Akan kah mereka akan mengikuti jejak Corby?

Dari perbandingan perjalanan Corby dan kisah geng Bali Nine, setidaknya kita dapat menagnkap signal adanya bantuan moral Corby pada pemerintahnya sendiri tentang apa dan bagaimana cara melepaskan diri dari ancaman hukuman mati di Indonesia.

Salam Kompasiana

abanggeutanyo

Abanggeutanyo

/abanggeutanyo

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Pengamat itu : Mengamati dan Diamati
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?