Mohon tunggu...
Zyah El Qonita
Zyah El Qonita Mohon Tunggu... -

seorang mahasiswi pendidikan sejarah di Universitas Negeri Jakarta angkatan 2011... Penuntut Ilmu Syar'i yang terobsesi ingin menjadi istri dan ibu yang shalihah

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Penaklukkan-penaklukkan atas Kerajaan Melayu

28 Desember 2012   23:39 Diperbarui: 24 Juni 2015   18:53 8770
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

PENAKLUKKAN-PENAKLUKKAN ATAS KERAJAAN MELAYU

oleh : Fauziah

Abstract

Kerajaan Sriwijaya,Kerajaan Singosari dan Kerajaan Majapahit telah menaklukkan Kerajaan Melayu.Beberapa motif telah melatarbelakangi penaklukkan tersebut.Yakni diantaranya adalah ambisi untuk menguasai Selat Malaka,mendapatkan sumber tambang emas(motif ekonomi) yang kedua hal ini terdapat di Kerajaan Melayu,disamping itu juga ada motif untuk menjalin kerjasama dalam membendung serangan dari luar yakni dalam hal ini ekspansionisme Kubilai Khan dari Mongol(motif politik).

A.PENDAHULUAN

Kerajaan Melayu terletak di Pulau Sumatra.Pulau yang terletak di bagian barat Nusantara yang terdekat letaknya dengan daratan Asia Tenggara.Di antara Sumatra dan Semenanjung Tanah Melayu terdapat sebuah selat yang tidak lebar yaitu Selat Malaka.Kedudukan geografis ini merupakan suatu faktor yang besar pengaruhnya pada sejarah yang di alami oleh pulau tersebut.Kerajaan Melayu memang kurang cukup dikenal eksistensinya dikhalayak umum,tidak seperti Kerajaan Majapahit ataupun Kerajaan Sriwijaya yang sangat tenar.Eksisitensinya mengalami pasang surut selama beberapa abad.Namun ternyata Kerajaan Melayu memiliki letak geografi yang cukup strategis dengan Selat Malaka-nya serta sumber daya alam yang cukup melimpah dengan tambang emasnya yang terdapat di Sungai Batanghari.Hal inilah yang membuat Kerajaan-kerajaan lain yang semasa dengan Kerajaan Melayu sangat berhasrat sekali untuk menaklukkan kerajaan tersebut tentunya dengan motif yang berbeda-beda.Mengetahui motif kerajaan-kerajaan lain dalam menaklukkan Kerajaan Melayu adalah sangat urgen sekali.Karena didalamya dapat diambil pelajaran-pelajaran yang sangat berharga.Sebelum membahas lebih jauh mengenai penaklukkan-penaklukkan atas kerajaan Melayu ada baiknya terlebih dahulu mengenal letak dan sejarah singkat kerajaan tersebut.

Berita yang tertua mengenai kerajaan Melayu berasal dari T’ang-hiu-yao yang disusun oleh Wang-pu pada tahun 961 pada masa pemerintahan Dinasti Tang.Dan dari Hsin T’ang Shu yang disusun pada awal abad ke-7 pada masa pemerintahan Dinasti Sung atas dasar sejarah lama,yang terdiri dari T’ang-hiu-yao seperti yang disebut diatas dan Tse-fu-yuan-kuei susunan Wang-chin-jo dan Yang I anatara tahun 1005 dan 1013,meurut berita itu.Kerajaan Melayu mengirimkan utusan ke Tiongkok pada tahun644/645.Pengiriman utusan Melayu ke Tiongkok pada abad ke-7 hanya tercatat satu kali saja.Selama itu,yang tampak di istana,kaisar utusan dari Kerajaan Sriwijaya yang disebut Shih-li-fo-shih

Dalam Hsin T’ang Shu,tercatat bahwa kerajaan Shih-li-fo-shih mengirim utusan ke Tiongkok pada mangsa waktu 670-673 dan 713-741.Sejak itu utusan Shih-li-fo-shih tidak lagi kedengaran.Pada masa pemerintahan rajakula Sung,negeri dan Laut Selatan yang namanya San-fo-ts’I mengirim utusan ke Tiongkok berkali-kali.Sung Shih mencatat kedatanganutusan itu pada tahun 960,962,971,972,974,975,980,983,985,dan 988.Utusan yang terakhir ini tinggal di Kanton sampai tahun 990 karena mendengar bahwa negerinya,San-fo-ts’I,sedang diserang oleh tentara dari Cho-p’o.

Jika kita memperhatikan berita tentang utusan kerajaan Melayu yang tercatat dalam T’ang-hui-yao,dan membandingkannya dengan berita tentang utusan Kerajaan Sriwijaya yang terdapat dalam Hsin T’ang Shu,maka terdapat kepastian bahwa Kerajaan Melayu telah berdiri pada tahun 644/645.Pada waktu itu,Kerajaan Sriwijaya belum mengirimkan utusan ke Tiongkok.Kepastian berdirinya Kerajaan Sriwijaya baru pada tahun 670.Ketika negara itu mengirimkan utusannya ke Tiongkok.Sejak timbulnya Kerajaan Sriwijaya,negeri Melau tidak lagi mengirimkan utusan ke Tiongkok.Demikianlah dapat dipastikan bahwa negeri Melayu lebih dahulu berdiri daripada Sriwijaya.Berdasarkan berita tersebut,pengiriman utusan ke Tiongkok oleh kedua kerajaan tersebut berselisih 25 tahun.

Menurut sumber lain,Berita pertama mengenai kerajaan Melayu di dapatkan dari catatan Dinasti Tang.Yaitu mengenai datangnya utusan dari daerah Mo-lo-yeu di Cina pada tahun 644 dan 645 Masehi.Nama Mo-lo-yeu ini sangat mungkin di hubungkan dengan Kerajaan Melayu yang letaknya di pantai timur Sumatra dengan pusatnya di sekitar Jambi.Seorang pendeta asal China yakni I-Ts’ing menceritakan bahwa,dalam perjalanan pulang dari Tan-mo-lo-ti ia naik kapal raja dari Ka-Cha kearah selatan selama sebulan menuju negara Mo-lo-yeu.Di sini biasanya orang singgah sampai pertengahan musim panas untuk menunggu tibanya musim angin barat daya;kemudian baru berlayar menuju Kwang-fu(Kwang-tung). Yang di maksud disini dengan negara Mo-lo-yeu menurut I-Ts’ing adalah pelabuhan di negara Mo-lo-yeu yang pada waktu itu sudah berada di bawah kekuasaan Shih-lih-foh-shih(Sriwijaya).sama dengan pelabuhan tempatnya singgah dalam perjalanannya dari Fo-shih menuju India

Mengenai letak Melayu ini ada sedikit perbedaan pendapat di kalangan para ahli ada yang menduga Melayu ini letaknya di daerah Jambi sekarang,akan tetapi dari sumber-sumber yang kemudian orang mengatakan Melayu letaknya di Semenanjung Tanah Melayu.

Slamet Mulyana :berdasarkan keterangan I-Tsing menyimpulkan bahwa pada abad ke-7 Melayu terletak di muara sungai batang hari atau sama dengan kota Jambi sekarang.

Soekmono mengatakan bahwa dari segi arkeologinya tidak ada bahan yang dengan meyakinkan dapat menyokong pendapat Moens untuk menempatkan Sriwijaya di Muara Takus ditambah dengan hasil rekonstruksi pantai daerah Pekanbaru dan rengat yang tidak menghasilkan unsur-unsur yang cukup kuat menempatkan Sriwijaya di daerah khatulistiwa kiranya dapat disimpulkan bahwa kedudukan Jambi menjadi semakin kuat sebagai pusat Sriwijaya kalau saja dapat dipastikan bahwa Melayu bukan di Jambi letaknya

Wilayah Kerajaan Mālayu Kuna secara geografis terletak di sekitar daerah aliran Sungai Batang­hari yang meliputi Provinsi Jambi dan Provinsi Sumatera Barat; di sekitar Kabupaten Tanah Datar (Pagaruyung); dan di sekitar daerah aliran sungai Rokan, Kampar, dan Indragiri di wilayah Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Riau.


Peta Kerajaan Melayu Kuno

Berdasarkan Berita Tionghoa tersebut, Hasan Djafar (1992:77) membagi Mālayu dalam tiga fase, yaitu:

FaseI

Fase Awal, sekitar pertengahan abad ke-7 Masehi;

Fase II

Fase Pendudukan oleh Śrīwijaya, sekitar tahun 680 sampai seki­tar per­tengahan abad ke-11 Masehi;

Fase III

Fase Akhir, sekitar pertengahan abad ke-11 sampai sekitar akhir abad ke-14 Masehi.

Ketiga fase tersebut mengacu kepada perjalanan sejarah Kerajaan Mālayu Kuna, tetapi tidak menjelaskan lokasi pusat pemerintahannya. Sebagai­mana telah dikemukakan bahwa lokasi geo­grafis Mālayu ada di daerah Batanghari. Beberapa pakar berpendapat bahwa pusat Mālayu Kuna pada Fase Awal berlokasi di sekitar Kota Jambi sekarang (Slametmulyana 1981:30-42; Irfan 1983:94-102). Pendapat ini didasarkan atas asumsi bahwa pusat kerajaan adalah juga merupakan pelabuhan Mālayu. Pelabuhan Mālayu yang lokasinya di tepi Batanghari sangat baik untuk pelabuhan sungai. Sungai Batanghari yang yang panjangnya sekitar 800 km, lebarnya sekitar 500 meter dan keda­lamannya lebih dari 5 meter cukup baik untuk pelayaran sungai. Panjang sungai dapat dilayari perahu atau kapal besar adalah sekitar 600 km. Selebihnya hanya dapat dilayari perahu kecil.

Keraja­an Mālayu sekurang-kurangnya telah mengalami tiga kali pemindahan pusat pemerin­tah­an. Pusat­nya yang pertama berlokasi di sekitar kota Jambi sekarang, pusat yang kedua di daerah Padangroco, dan pusat yang ketiga di daerah Pagaruyung. Para sarjana menduga bahwa pemindahan pusat pemerintahan ini disebabkan karena ancaman dari musuh, terutama musuh yang datang dari Jawa melalui Sungai Batanghari. De Casparis menduga bahwa Mālayu pada masa akhir mendapat ancaman dari kerajaan yang bercorak Islam di Samudra Pasai yang juga datang melalui Batanghari (1992). Unsur ancaman dari negara tetangga memang ada, tetapi dalam hal ini saya lebih condong untuk menyatakan bahwa alasan pemindahan pusat pemerin­tahan itu adalah untuk penguasaan sumber emas yang banyak terdapat di daerah pedalaman. Di samping itu, secara geografis daerah pedalaman di Batusangkar dan Pagarruyung dekat dengan jalan air yang lain, yaitu Sungai Kampar Kiri dan Sungai Indragiri. Jika diban­dingkan dengan Sungai Batanghari, muara kedua sungai ini lebih dekat dengan Selat Melaka. Emas dari daerah pedalaman kemudian dipasarkan keluar Mālayu melalui sungai-sungai ini.

Mengenai perpindahan pusat kerajaan ini, atau setidak-tidaknya perpindahan permu­kiman tampak dari pertanggalan situs, Berita Tionghoa dan berita prasasti. Situs-situs arkeologi yang ditemukan di daerah Batang­hari, mulai dari daerah hilir sampai ke daerah hulu menun­jukkan suatu pertanggalan yang berbeda. Situs di daerah hilir menunjukkan pertang­galan yang tua, seperti misalnya situs Koto Kandis berasal dari sekitar abad ke-8-13 Masehi dan Muara Jambi berasal dari sekitar abad ke-8-13 Masehi. Di daerah hulu Batanghari menunjukkan pertanggalan yang lebih muda, yaitu dari sekitar abad ke-13-14 Masehi. Berita Tionghoa Ling piao lu i (889-904 Masehi) menyebutkan Pi-chan (=Jambi) mengirim misi dagang ke Tiongkok, sedangkan Kitab Sejarah Dinasti Song (960-1279 Masehi) Buku 489 menyebutkan raja tinggal di Chan-pi (=Jambi). Apabila data per­tanggalan situs dan data Berita Tionghoa dikorelasikan, maka akan tampak keselaras­an­nya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa aktivitas Kera­jaan Mālayu pada masa awalnya (sebelum Śrīwijaya abad ke-7 Masehi) berlokasi di daerah hilir Batanghari dengan pusatnya di sekitar kota Jambi sekarang.

B.DI ANTARA PENAKLUKKAN-PENAKLUKKAN ATAS KERAJAAN MELAYU

Melayu merupakan sebuah kerajaan yang dianggap penting. Eksis­tensi kerajaan ini selalu diakui oleh berbagai kerajaan. Sebuah kerajaan besar di Nusantara akan selalu mem­perhitungkan keberadaan kerajaan Mālayu, seperti misalnya Śrīwijaya dan Maja­pahit.

Tercatat beberapa kerajaan telah menaklukkan Kerajaan Melayu.Beberapa kerajaan itu antara lain adalah Kerajaan Sriwijaya,Kerajaan Singhasari dan Kerajaan Majapahit.Penaklukkan-penaklukkan itu terjadi tidak hanya dalam bentuk penaklukkan militer dengan kekerasan seperti yang dilakukan oleh Kerajaan Sriwijaya,ada juga penaklukkan dalam bentuk diplomasi atau hubungan persahabatan yang dilakukan oleh Kerajaan Singhasari dengan Ekspedisi Pamalayu-nya.

1.Sriwijaya Potret Kerajaan Maritim Yang Ambisius

Kerajaan Sriwijaya yang dikenal sebagai kerajaan maritime bercorak Buddha adalah tetangga dekat dari kerajaan Melayu.Memang kerajaan Melayu tak sehebat Sriwijaya akan tetapi letak Kerajaan Melayu yag lebih dekat dengan Selat Malaka dan sumber daya alamnya yang melimpah membuat Sriwijaya gerah.

Di bagian hulu Sungai Musi,Sriwijaya memiliki akses memasuki daerah pedalaman yang menyediakan suplai komoditas lokal yang berlimpah semacam kayu,resin aromatic dan rempah-rempah.Satu-satunya pengecualian dari daftar komoditi itu adalah emas,karena bertentangan dengan Melayu di Batang Hari.Sungai Musi tidak memiliki hubungan dengan pusat produksi emas di dataran tinggi Minangkabau.

Meskipun tidak diragukan lagi bahwa Sriwijaya menguasai sebuah lokasi yang menguntungkan,keuntungan-keuntungan geografis ini tidak dianggap cukup untuk memenangkan persaingan yang keji dalam berdagang atau mendapatkan komoditas diantara berbagai emporium yang ada di Selat Malaka.

Untung bagi mereka ,para penguasa Sriwijaya adalah yang pertama untuk menyadari bahwa untuk memantapkan supremasi mereka,yang pertama kali harus dilakukan adalah mengendalikan semua pelabuhan yang berlokasi di kedua sisi Selat Malaka dan Sunda.Kedua selat ini adalah pintu-pintu utama dari semua lalulintas maritime antara Samudra Hindia dan Laut China Selatan.Saat setiap kapal membongkar muat kargo-kargo mereka dan menunggu pergantian angin musim.Kendali atas semua pelabuhan ini adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan sebuah hegemoni maritime atas emporium emporium kompetitor lainnya.Siapapun yang memegang kendali ini bisa mengumpulkan pajak dan upeti dari semua barang yang transit dan menjadi pemain utama dalam perdagangan upeti dengan China

Orang berlayar tentu memilih jalan yang menguntungkan.Jalan yang menguntungkan biasanya jalan yang pendek.Jika yang berlayar adalah perahu dagang.Perahu itu akan mencari jalan endek dan tempat-tempat yang dapat disinggahi untuk keperluan dagang.Pendeta I’Tsing dengan tegas menyatakan bahwa pelayaran dari India ke Tiongkok kebanyakan dilakukan melalui pelabuhan Kedah dan Melayu.

Di Melayu,para penumpang menunggu sampai pertengahan musim panas,kemudian terus berlayar ke utara menuju Kanton.Pelayaran dari India ke Tiongkok tidak melalui Foshih.

Aktifitas Malayu mengganggu ambisi-ambisi politik dari tetangganya yang kuat,Kerajaan Malayu ,yang berdiri ditepian sungai Musi,yang merasa aman terlindung oleh tapal-tapal batas alami dari alur sungai mereka,kemungkinan besar tidak sadar dengan ancaman yang tumbuh disebelah selatan perbatasan mereka.Pada abad 7 M,pertahanan pemukiman Melayu tidak secanggih yang mereka bangun kemudian.Batu merupakan barang langka dan setiap tahun angin musim meghancurkan pagar-pagar kayu dan tanggul-tanggul tanah,sebagai hasilnya,pertahanan dari kadatuan Melayu kemungkinan besar adalah sekadar pagar yang dibangun untuk member kesan hebat dan membuat ciut nyali para pimpinan desa yang mencoba untuk meragukan otoritas sang raja.Keamanan yang mereka berikan bersifat ilusi dan pada tahun 682 M,Raja Sriwijaya,Jayanasa,melakukan penyerbuan terhadap Melayu dan menguasai ibukotanya.

Mengikuti penaklukan ini,Melayu menjadi vassal bawahan Sriwijaya,dan kemakmuran serta sumber daya manusianya digunakan untuk menyokong penaklukkan-penaklukkan maritime Jayanasa.Penaklukkan menberi dasar bagi ekspansi Sriwijaya dan selama berabad-abad kemudian Melayu tetap menjadi permata di mahkota para maharaja Sriwijaya.

Penaklukan ini menghilangkan ancaman dari kerajaan saingannya yang makmur itu dan berujung pada pengendalian perdagangan yang dilakukan dijambi serta produksi emas sungai batang hari hulu.Waktu dari penaklukan yang historis ini dijelaskan oleh catatan Yi-Tsing dan beberapa prasasti yang diketemukan dibanyak situs dekat Palembang.

Dalam Biografinya Yi-Tsing mengatakan bahwa setelah belajar 10 tahun di Universitas Nandala di India,dia kembali dan tinggal dipalembang selama empat tahun untuk mencatat dan menterjemahkan teks-teks yang dibawanya dari India kedalam bahasa Cina.Pada 689 M dia melakukan perjalanan singkat ke Kanton dan kembali ke Palembang untuk menulis memoirnya dengan ditemani oleh empat pendeta.Dia menyebutkan dalam Catatan atas agama Buddha seperti yang dipraktekan di India dan kepulauan Melayu (Na hai ki kouei nei fa chuan) bahwa Kerajaan Malayu,tempat dia singgah selama dua bulan dalam perjalanan pertamanya ke India, saat itu telah menjadi bagian dari Sriwijaya.

Prasati batu tertua di Palembang .memeringati penaklukkan atas Melayu,telah diketemukan di kaki Bukit Seguntang.Prasati itu menyatakan :

“Pada bulan april 682 M.Raja meninggalkan kota dengan menaiki kapal-kapal,dia melakukan penjelajahan daratan dan lautan dan satu bulan kemudian dia kembali ke Sriwijaya dengan kemenangan,kekuasaan dan kekayaan”

Prasasti yang paling penting diketemukan disebelah timur Palembang dan dinamakan sebagai Prasasti Telaga Batu atau Sabokingking.Prasasti ini berisi kutukan kepada para anggota kerajaan ,para punggawa atau pemimpin loakal yang tak setia.Berikut adalah ringkasannya:

“Kalian semua,siapapun kalian,anak-anak raja,penguasa,pimpian perang,penasehat raja,para hakim,mandor,para pemilik kapal,para saudagar dan kalian semua tukang cuci sang raja dan budak sang raja,kalian semua akan terbunuh oleh kutukan dari do’a ini.Jika kalian tidak setia padaku,kalian akan terbunuh oleh kutukan ini.

Namun jika kalian patuh,setia dan jujur kepadaku dan tidak melakukan kejahatan-kejahatan ini,suatu tantra suci akan menjadi imbalannya.Kalian tidak akan ditelan dengan semua anak dan istrimu.Kedamaian abadi akan menjadi buah yang dihasilkan oleh kutukan yang kau minum ini”

Kehadiran sebuah prasasti menegaskan kembali hasil dari ekspedisi penaklukkan yang disebutkan dalam batu pertama--penaklukkan Melayu,baik secara fisik amupun spiritual.Populasi-populasi yang kalah dipaksa untuk bersumpah setia dengan ancaman kutukan mengerikan bagi mereka yang terpikir untuk memberontak.

Penundukan Kerajaan Melayu oleh Sriwijaya terjadi sebelum tahun 686.Pendapat itu juga kita hubungkan dengan hasil penelitian piagam Kedukan Bukit.Tidak lagi dapat dibantah bahwa Piagam Kedukan Bukit adalah piagam jayasiddhayarta,yakni piagam perjalanan jaya atau piagam tentang arak-arakan kemenangan.Piagam itu bertarikh tahun saka 605 atau tahun Masehi 683.Perjalanan jaya mempunyai hubungan dengan .Kemenangan yang diperoleh Sriwijaya sebelum tahun 686 adalah kemenangan terhadap Kerajaan Melayu.Demikianlah Kerajaan Melayu itu ditundukkan oleh Kerajaan Sriwijaya pada tahun 683.

Perluasan kekuasaan Sriwijaya di sebelah barat laut kearah Selat Malaka dan di sebelah tenggara ke arah Selat Sunda,merupakan petunjuk yang sangat jelas tentang incarannya terhadap keduajalan lintasan besar antara Lautan India dan Lautan China.Pemilikannya akan menjamin baginya keunggulan niaga di Nusantara selama beberapa abad.

Dengan di taklukkan Kerajaan Melayu ini,Sriwijaya berhasil menguasai Selat Malaka yang sangat strategis itu dan mendapatkan suplai emas yang berlimpah yang menjadikannya sebagai kerajaan yang besar.Hal ini lah yang menjadi motif utama dari kerajaan maritime tersebut.

2.Ekspedisi Pamalayu:Strategi Kerajaan Singosari Membendung Serangan Kubilai Khan

Setelah lepas dari Śrīwijaya, Mālayu tetap diperhi­tungkan seba­gai sebuah kerajaan yang memegang peranan penting. Pada waktu Mālayu sudah merdeka, Kerajaan Sińhasāri di Jawa sedang ber­selisih dengan Mongol di daratan Tiongkok. Bahkan Sińhasāri sedang meng­hadapi ancaman penyerbuan tentara Mongol. Untuk tidak mem­per­banyak musuh, Sińhasāri dengan rajanya Keŗtanagara berkeinginan menjalin per­sa­habatan dengan Mālayu. Besarnya perhatian Keŗtanagara kepada Mālayu mem­buk­tikan bahwa pada abad ke-13 Masehi Kerajaan Mālayu merupakan negara utama di Sumatera. Untuk itulah, maka pada tahun 1275 Sińhasāri meng­adakan ekspedisi pamālayu. Pararaton menye­­butkan:“Setelah musuh ini mati, menyuruh pasu­kan-pasukan berperang ke tanah Mālayu“ (Pitono 1965:37). Itulah sebabnya banyak para sarjana berpendapat bahwa ekspedisi pamālayu berarti pendudukan atas Mālayu.

Penaklukkan yang di lakukan Kerajaan Singhasari terhadap Kerajaan Melayu di kenal dengan istilahEkspedisi pamalayu.Ekspedisi Pamalayu adalah sebuah diplomasi melalui operasi kewibawaan militer yang dilakukan Kerajaan Singhasari dibawah perintah Raja Kertanagara pada tahun 12751293 terhadap Kerajaan Melayu di Dharmasraya di Pulau Sumatera.

.Adapun latar belakang ekspedisi ini adalah Kertanagara menjadi raja Singhasari sejak tahun 1268. Berbeda dengan raja-raja sebelumnya, ia berniat memperluas daerah kekuasaan sampai ke luar Pulau Jawa. Gagasan tersebut dimulai tahun 1275 dengan pengiriman pasukan di bawah pimpinan Kebo Anabrang untuk menaklukan bhumi malayu.

Menurut analisis para sejarawan, latar belakang pengiriman Ekspedisi Pamalayu adalah untuk membendung serbuan bangsa Mongol. Saat itu kekuasaan Kubilai Khan raja Mongol (atau Dinasti Yuan) sedang mengancam wilayah Asia Tenggara. Untuk itu, Kertanagara mencoba mendahuluinya dengan menguasai Sumatera sebelum datang serbuan dari pihak asing tersebut. Namun ada juga pendapat lain mengatakan bahwa tujuan dari ekspedisi ini adalah untuk menggalang kekuatan di Nusantara dibawah satu komando Singhasari yang bertujuan untuk menahan kemungkinan serangan dari Mongol

Menurut pendapat C.C. Berg yang dikutip dari Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah Naskah Melayu Yang Tertua karangan Uli Kozok menginterpretasi Pamalayu sebagai bagian dari sebuah program terpadu yang bertujuan untuk menyatukan Nusantara (pulau-pulau di luar Jawa) agar bersama-sama dapat menghadapi ancaman dari kaisar Mongol Kublai Khan. Dengan demikian politik luar negeri Kertanagara terhadap Nusantara, dan khususnya Malayu, merupakan akibat langsung dari keprihatinan Singasari akan ancaman agresi Mongol yang pada saat itu telah mengalahkan Yunnan (1253-57) dan mengancam seluruh kawasan Asia Teng¬gara. Dengan demikian Berg menginterpretasikan Pamalayu sebagai “perjanjian dengan Malayu” (Berg, 1950:485) untuk mem¬bentuk persekutuan melawan agresi dinasti Mongol. Teori Berg bela¬kangan ini juga didukung oleh De Casparis. Menurutnya, hadiah patung Amoghapasa malahan dapat dilihat sebagai tanda persahabatan untuk mendirikan persekutuan yang memiliki tujuan ganda: Pertama, agar Malayu mengakui kedaulatan Singasari, dan kedua, untuk menyatukan negara-negara Malayu agar bersama dengan Singasari siap untuk meng-hadapi ancaman pasukan Kublai Khan (Casparis, 1989; 1992). Menurut Berg, Pamalayu tidak pula diadakan di tahun 1275 sebagaimana diduga Krom yang mengutip Nagarakrtagama, melainkan di tahun 1292. Berg menunjukkan dengan mengupas secara sangat teliti pupuh 41/5 Nagarakertagama bahwa pada tahun 1275 Kertanagara hanya memberi perintah “menyuruh tundukkan Malayu” dan tidak ada petunjuk bahwa pada tahun itu perintah tersebut juga dilaksanakan (Berg, 1950:9). Selebihnya Berg mengingatkan kita bahwa Kertanagara baru dinobatkan menjadi raja di tahun 1268 pada waktu mana ia masih sangat muda. Berg tidak percaya bahwa sedini itu Kertanagara sudah berhasil memantapkan negaranya untuk mengambil risiko yang berkaitan dengan sebuah ekspedisi terhadap Malayu yang letaknya begitu jauh dari Jawa Timur (ibid, hal. 16).

Pada saat itu Kertanagara belum tentu sudah menguasai Madura yang letaknya berhadapan dengan Tuban, sedangkan Tuban merupakan pelabuhan keberangkatan armada Pamalayu untuk menghadapi Malayu. Lagipula pada tahun 1280 Kertanagara masih berhadapan dengan lawan dalam negeri (ibid, hal. 17), dan baru pada tahun 1284 Singasari dapat mengalahkan Bali yang letaknya begitu lebih dekat dibandingkan dengan Malayu.

Sasaran ekspedisi : Beberapa literatur menyebut sasaran Ekspedisi Pamalayu adalah untuk menguasai negeri Melayu sebagai batu loncatan untuk menaklukkan Sriwijaya. Dengan demikian, posisi Sriwijaya sebagai penguasa Asia Tenggara dapat diperlemah. Namun pendapat ini kurang tepat karena pada saat itu kerajaan Sriwijaya sudah musnah.

Dalam buku Slamet Muljana yang berjudul Kitab Negarakertagama Dan Tafsirnya disebutkan bahwa kitab Pararaton,Kidung panji wijayakrama ,Kidung Hasrawijaya dan negarakertagama pupuh XLI,semuanya menyebut pengiriman tentara Singasari ke negeri Melayu(Suwarnabhumi) pada tahun saka 1197(1275 A.D),lima tahun setelah pecahnya pemberontakan Kelana Bhayangkara/Cayaraja.Dalam Kidung Hasrawijaya disebutkan bahwa nasehat Raganatha mengingatkan sang prabhu tentang pengiriman tentara ke Suwarnabhumi ditolak oleh Prabu Kertanegara.Raganatha mengingatkan sang prabhu tentang kemungkinan balas dendam raja Jayakatwang dari Kediri terhadap Singosari,sebab Singosari dalam keadaan kosong akibat pengiriman tentara ke Suwarnabhumi.Prabhu Kertanegara berpendapat,bahwa raja bawahan Jayakatwang tidak akan memberontak karena beliau berutang budi kepada sang prabhu.Jayakatwang adalah bekas pengalasan (pegawai)keratin Singosari,yang diangkat sebagai raja bawahan di Kediri oleh Sri Kertanegara.

Gagasan pegiriman tentara ke Suwarnabhumi dapat dukungan penuh dari Mahisa Anengah,pengganti Raganatha.Demikianlah diputuskan untuk mengirimkan tentara ke Melayu.Keputusan itu dilaksanakan pada tahun 1275 A.D.Dalam sastra sejarah Jawa Kuna ekspedisi ke Melayu itu biasa disebut Pamalayu artinya:Perang melawan Melayu.Ekspedisi Melayu berhasil baik.Tentara Singosari berhasil menundukkan raja Melayu,Tribuwanaraja Mauliwarmadewa di Dharmasraya,yang berpusat di Jambi dan menguasai Selat Malaka.Trbukti dari isi piagam Amogapasha atau Piagam Padang arca,yang dikeluarkan oleh Sri Kertanegara pada bulan Bhadrapada tahu saka 1208(Agustusd-September 1286 A.D).Bunyinya seperti berikut:

Salam bahagia! Pada tahun saka 1208,bulan Bhadrapada,hari pertama bulan naik,hari Mawulu,Wage,hari Kemis,wuku Madangkungan,letak raja bintang di barat daya.tatkala itulah arca paduka Amoghapasa Lokeswara dengan empatbelas pengikut serta tujuh ratna permata,dibawa dari bumi Jawa ke Suwarnabhumi,ditegakkan di Dharmasraya,sebagai hadiah Sri Wiswarupa.Untuk tujuan mahamantri Dyah Adwayabrama,rakrian sirikan Dyah Sugatabrama,peyana Hyang Dipangkaradasa,rakrian demung wira.Untuk menghatur paduka arca Amoghapasa.Semoga hadiah itu membuat gembira segenap penduduk negeri Melayu termasuk:para Brahmana,satria,waisya,sudra terutama pusat segenap para arya,Sri Maharaja Tribuwanaraja Mauliwarmadewa”

Negarakertagama pupuh XLI/4 menguraikan bahwa prabu Kertanegara dengan pengiriman tentara itu sebenarnya mengharapkan agar raja Dharmasraya tunduk begitu saja karena takut akan kesaktian sang prabu.Ekspedisi ke Negeri Melayu yang Berjaya gilang-gemilang

Ekspedisi Pamālayu oleh beberapa sarjana ditafsirkan sebagai pendudukan atau penguasaan atas Mālayu. Namun berdasarkan isi Prasasti Dharmaśraya tidak ada petunjuk pendu­dukan Sińhasāri atas Mālayu, seperti tercantum dalam kalimat “Seluruh rakyat Mālayu dari keempat kasta bersukacita, terutama rajanya Śrīmat Tribhūwa­na­rāja Mauliwarmmadewa.” Arca Amoghapāśa yang dikirimkan oleh Kŗtanagara ditemukan kembali di Rambahan yang letaknya sekitar 4 km. ke arah hulu dari Padangroco. Meskipun ditemukan terpisah, namun berdasarkan isi Prasasti Dharmaśraya yang dipahatkan pada bagian lapik arca, arca Amoghapāśa yang ditemukan di Rambahan ternyata merupakan pasangannya.

Arca Amoghapāśa yang ditemukan di Rambahan pada sekitar tahun 1800-an (Krom 1912:48) memberikan pentunjuk kepada kita bahwa pada tahun 1347 yang berkuasa di daerah Mālayu adalah Śrī Mahārājā Ādityawarmman, upacara yang bercorak tantrik, pembuatan se­buah arca Buddha, dan pemujaan kepada Jina. Informasi yang terdiri dari 27 baris itu dipahatkan di bagian belakang arca Amoghapāśa yang dikirim oleh Kŗtanagara. Berdasarkan isi prasasti ini para sarjana ber­anggapan bahwa pada tahun 1347 merupakan tahun awal pemerin­tahan Āditya­warm­man di Mālayu.

Arca Amoghapasa

3.Kerajaan Majapahit dan Adityawarman

Setelah runtuhnya Singasari muncullah sebuah kerajaan baru, yaitu Majapahit (1293-1520) yang menjadi kerajaan Hindu-Budha terakhir di Indonesia. Majapahit sering diagungkan sebagai kerajaan besar yang menyatukan seluruh Nusantara, namun inter-pretasi tersebut agaknya tidak dapat dipertahankan, dan malahan banyak sejarawan yang beranggapan bahwa Majapahit tidak berhasil memperluas pengaruh sebagaimana dilakukan Singosari dibawah Kertanegara.

Mungkin masih diingat bahwa Tribuwanaraja adalah seorang raja muda yang ditempatkan ditahta Malayu oleh Kertanegara.Pertama kali dia memerintahsebuah kerajaan vassal dengan tanpa sumber daya atau wewenang,kecuali untuk beberapa wilayah sungai Batang Hari.Namun setelah kematian Kertanegara pada 1292 M dan berkat kembalinya pasukan Jawa ke Jawa dan invasi Mongol terhadap kepulauan Nusantara,Tribuwana mendapatkan kembali kemerdekaannya.Sebagai hasil pergolakan di Jawa,Melayu tetap merdeka selama separuh abad sampai 1347 M.Saat dibawah pimpinan Rajapatni Gayatri,pasukan Majapahit menyerbu sekali lagi.Pasukan Melayu tidak mampu melawan angkatan laut Majapahit dan kerajaan tersebut sekali lagi menjadi negeri jajahan.

Dalam Pupuh XIII naskah Nagarakrtagama, Dharmasraya disebut sebagai salah satu negara bawahan Majapahit bersama dengan Jambi, Palembang, Karitang, Teba, dan sejumlah daerah lain. Filolog asal Jerman, Uli Kozok, mengutip pendapat sejarawan JG de Casparis yang mempunyai interpretasi lain atas naskah Negarakrtagama yang seakan menyatukan 24 negara di Nusantara di bawah panji Majapahit. "Mungkin saja Majapahit menganggap Melayu sebagai wilayah taklukan, tetapi raja Melayu jelas menganggap dirinya sebagai raja yang memiliki kedaulatan yang sempurna yang tidak takluk kepada siapa pun," kata Casparis, seperti dikutip Kozok.

Prasasti terakhir yang menyebut Adityawarman bertanggal tahun 1375, dan menurut sebuah sumber sejarah raja Ta-ma-sha-na-a-chih meninggal pada tahun 1376. Raja yang sama pernah disebut di tahun 1374 dengan nama Ta-ma-lai-sha-na-a-chih, dan jika unsur ma-lai dalam nama tersebut berarti Malayu, maka dapat disimpulkan bahwa Aditya¬war¬man meninggal pada tahun 1376. Disebut pula bahwa pada tanggal 13 September 1377 raja yang menggantikannya yang bernama Ma-na-chich-wu-li mengirim utusan ke Tiongkok dengan permintaan agar diakui sebagai raja Malayu. Tentu saja pengganti Adityawarman itu merasa dirinya berhak untuk diakui sebagai raja yang memiliki kedaulatan yang mutlak.

Ternyata Majapahit, yang masih menganggap Malayu sebagai daerah tundukannya, tidak rela mengizinkannya, dan merasa tersinggung karena ternyata kaisar Tiongkok menganggap raja Malayu dan raja Jawa setaraf kedudukannya. Amarah Majapahit ternyata meluap sedemikian rupa sehingga armada Jawa disuruh untuk menangkap dan membunuh utusan Tiongkok yang sedang berlayar ke Malayu untuk menobatkan raja yang baru.

Sumber Tiongkok melaporkan bahwa sesu¬dah kejadian itu Malayu makin melemah dan tidak lagi mengirim utusan ke Tiongkok. Apa yang terjadi di Malayu pada periode sesudah 1376 kurang jelas, akan tetapi karena tidak ada lagi prasasti yang didirikan maka dapat kita anggap bahwa Majapahit telah menyerang Malayu dan melumpuhkan pemerintahannya.

Sumber Tiongkok pun tidak lagi menyinggung Malayu, dan baru pada tahun 1397 kaisar T‘ai-Tsu menaruh lagi perhatian pada Sumatra. Dalam sumber Tiongkok Ming-shih dikabarkan bahwa Palembang telah dikuasi oleh Jawa dan bahwa San-fo-ch‘i merupakan “negara yang hancur yang dilanda kerusuhan sehingga Jawa sendiri tidak lagi dapat mengendalikan negara tersebut.

Adityawarman

Adityawarman merupakan pelanjut dari Dinasti Mauli penguasa pada Kerajaan Melayu yang sebelumnya beribukota di Dharmasraya, dan dari manuskrip pengukuhannya ia menjadi penguasa di Malayapura atau Kanakamedini pada tahun 1347 dengan gelar Maharajadiraja Srīmat Srī Udayādityawarma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli Warmadewa dan dikemudian hari ibukota dari kerajaan ini pindah ke daerah pedalaman (Minang).

Nama Adityawarman erta kaitannya dengan ekspedisi Pamalayu yang telah dilakukan oleh Kerajaan Singosari.Ketika para pasukan telah mnyelesaikan tugasnya,mereka membawa pulang dua putrid Melayu yaitu Dara Petak dan Dara Jingga.

Nama Adityawarman pertama kali disebutkan pada sebuah patung yang terletak di Candi Jago,Jawa Timur.Sebagai perwujudan Bodhisattva manjusri,berasal dari tahun 1343M.Menurut kitab Pararaton,Adutyawarman merupakan anak lelaki(atau lebih mask akalnya cucu lelaki) dari seorang putrid Melayu yang bernama Dara Jingga yang telah menikah dengan seorang pangeran Jawa yang bernama Advajawarman.Rajapatni Gayatri pastinya yang melindungi karir militer dan politik Adityawarman .Perkembangannya dimulai didalam angkatan perang Majapahit,dimana sebelum kembali ke istana Trowulan untuk menerema sebuah posisi menteri dia berposisi sebagai komandan dalam penaklukkan Bali.Setelah penaklukkan Bali,Gajahmada memutuskan untuk memulihkan penaklukkan Kertanegara yang lain di Sumatra.Pada tahun 1346M pasukan Jawa menyerbu Melayu hingga dalam setahun kerajaan tersebut bisa runtuh.

Pada tahun 1339 Adityawarman dikirim sebagai uparaja atau raja bawahan Majapahit untuk wilayah Swarnnabhumi nama lain pulau Sumatera dan selanjutnya, Adityawarman pun menjalankan beberapa misi penaklukkan.[8]. Namun dari prasasti-prasasti yang ditinggalkan oleh Adityawarman, belum ada satu pun yang menyebutkan hubungannya dengan bhumi jawa.[17].

Kemudian pada tahun 1347, Adityawarman mendirikan kerajaan baru bernama Malayapura sebagai kelanjutan kerajaan Melayu sebelumnya, sebagaimana seperti yang terpahat pada bagian belakang Arca Amoghapasa[1]. Dari prasasti Kuburajo di Limo Kaum yang menggunakan aksara Dewanagari juga menyebutkan bahwa Adityawarman menjadi raja di Kanakamedini (Swarnnadwipa).

Dari prasasti Suruaso yang beraksara Melayu menyebutkan Adityawarman menyelesaikan pembangunan selokan untuk mengairi taman Nandana Sri Surawasa yang senantiasa kaya akan padi, yang sebelumnya dibuat oleh pamannya yaitu Akarendrawarman yang menjadi raja sebelumnya, sehingga dapat dipastikan sesuai dengan adat Minangkabau, pewarisan dari mamak (paman) kepada kamananakan (keponakan) telah terjadi pada masa tersebut. Selain itu juga terlihat kepedulian Adityawarman untuk meningkatkan taraf perekonomian masyarakatnya dengan tidak bergantung kepada hasil hutan dan tambang saja.

Ada pendapat yang mengatakan kenapa Adityawarman tidak bertahta di Dharmasraya karena dia tidak memiliki hak atas kerajaan Dharmasraya tidak dapat dibuktikan, karena dari sisi ibunya Dara Jingga adalah salah seorang putri dari Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa raja Melayu sebagaimana yang disebut pada Pararaton, dan lagi pula dari manuskrip pada bagian belakang Arca Amoghapasa, Adityawarman jelas menyatakan dirinya sebagai raja dari bangsa Mauli serta memulihkan keadaan sebelumnya[20], Arca Amoghapasa ini sebelumnya merupakan hadiah dari Kertanagara dan ditempatkan di Dharmasraya, sebagaimana tersebut dalam prasasti Padang Roco.

Kemungkinan yang menyebabkan Adityawarman untuk memindahkan pusat kerajaannya lebih ke dalam yaitu daerah pedalaman (Pagaruyung atau Suruaso) adalah sebagai salah satu strategi untuk menghindari konfrontasi langsung dengan kerajaan Majapahit, yang pada masa itu lagi gencarnya melakukan penaklukan perluasan wilayah dibawah Mahapatih Gajah Mada, karena dari gelar yang disandang oleh Adityawarman jelas menunjukan kesetaraan gelar dengan gelar raja di Majapahit, sehingga hal ini dapat menunjukan bahwa Adityawarman memang melepaskan diri dari pengaruh kerajaan Majapahit. Namun ada juga pendapat lain berasumsi bahwa Adityawarman pindah ke daerah pedalaman untuk dapat langsung mengontrol sumber emas yang terdapat pada kawasan Bukit Barisan tersebut. Walaupun memerintah dari kawasan pedalaman namun hubungan perdagangan dengan pihak luar tetap terjaga, hal ini terlihat dari catatan Cina yang menyebutkan, Adityawarman pernah mengirimkan utusan sebanyak 6 kali. Selain itu salah satu dari prasasti yang ditemukan di Suruaso juga terdapat prasasti yang beraksara Nagari (Tamil), jadi pengaruh India selatan pun telah sampai ke ranah Minang.

Setelah Adityawarman meninggal dunia, ia digantikan oleh putranya yang bernama Ananggawarman, sebagaimana tersebut dalam Prasasti Batusangkar yang bertarikh 1375, yang menyebutkan Adiytawarman dan putranya Ananggawarman melakukan upacara hewajra, dalam ritual tersebut Adityawarman diibaratkan telah menuju kepada tingkat ksetrajna.

Hayam Wuruk sebagai raja Majapahit waktu itu membiarkan saja pemberontakan tersebut, namun begitu Wikramawardhana naik tahta sebagai penganti Hayam Wuruk, mulai mengirimkan pasukan untuk menumpas pemberontakan tersebut pada tahun 1409 dan 1411, pertempuran kedua pasukan terjadi di Padang Sibusuk, (hulu sungai Batang Hari), dimana kedua-dua serangan pasukan kerajayaan Majapahit dapat dipukul mundur. Namun akibat dari serangan tersebut, pengaruh kerajaan ini terhadap daerah jajahannya melemah, dimana daerah-daerah jajahan seperti Siak, Kampar dan Indragiri melepaskan diri dan kemudian daerah-daerah ini ditaklukkan oleh Kesultanan Malaka dan Kesultanan Aceh, dan kemudian hari menjadi negara-negara merdeka.

C.SUNGAI BATANG HARI,SUMBER EMAS DARI DULU HINGGA KINI

Bumi Sumatra kaya akan mineral dan barang-barang tambang.Tak ada negri lain yang dikenal karena persediaan emas yang melimpah sepanjang masa kecuali Sumatra.Akan tetapi,sumber aslinya dalam batas tertentu sudah habis karena eksploitasi selama berabad-abad.Di kerajaan Malayu, pertambangan emas merupakan sumber ekonomi cukup penting dan kata Suwarnadwipa (pulau emas) mungkin merujuk pada hal ini. Perkembangan Kerajaan Mālayu mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Āditya­warman dengan pusatnya di daerah hulu Batanghari. Pada masa itu logam emas dimanfaatkan semaksimal mungkin, seperti dipakai sebagai bahan lempengan emas, benang emas, lembaran emas ber­tulis, kalung, dan arca (Sulaiman 1977). Meskipun pusat kerajaan ber­lokasi di daerah hulu Batanghari di wilayah Minangkabau, Ādityawar­man tidak pernah menyebut daerah ke­kuasaannya sebagai Kerajaan Minang­kabau seperti dikemukakan oleh Moens (1937). Ia mena­makan dirinya sebagai Kanakamedi­nīndra yang berarti ‘penguasa negeri emas‘ atau Swarnna­dwīpa, Sumatera, Daerah hulu Batanghari dikenal sebagai daerah penghasil emas.

Dari beberapa situs di daerah Batanghari banyak ditemukan artefak yang dibuat dari emas. Selain itu ditemukan juga pecahan-pecahan keramik dari bahan batuan yang berasal dari bentuk botol. Botol ini biasa dipakai sebagai wadah untuk menyimpan cairan merkuri untuk pengerjaan emas. Bukti bahwa Mālayu atau katakanlah Batanghari tempo dulu mengha­sil­kan emas cukup banyak. Namun, yang menjadi pertanyaan mengapa Berita Tionghoa tidak ada satupun yang menyebutkan emas sebagai barang komoditi, atau menyebut­kan bahwa Shih-li-fo-shih, San-fo-tsi, atau Mo-lo-yeu menghasilkan emas. Justru sebaliknya, Tiongkok mem­bawa barang komoditi emas ke negara-negara itu untuk ditukarkan dengan hasil bumi dan hasil hutan. Lepas dari tidak disebutkannya Mo-lo-yeu sebagai daerah penghasil emas, namun kita mempunyai bukti kuat bahwa di daerah Koto Kandis pada masa lampau berlangsung aktivitas pengerjaan emas. Buktinya, di Koto Kandis banyak ditemukan pecahan botol merkuri, dan tanah di Koto Kandis “mengandung” bijih emas dan emas yang sudah dikerjakan. Hingga kini masyarakat di Koto Kandis sering mencari emas di tepian Sungai Batanghari.

Swarnna­bhūmi. Dengan demikian ia meng­anggap pula dirinya sebagai pengua­sa daerah-daerah yang dulunya menjadi daerah kekuasaan Śrīwijaya (Sulaiman 1977:9). Daerah hulu Batanghari dikenal sebagai daerah penghasil emas. Dari beberapa situs di daerah Batanghari banyak ditemukan artefak yang dibuat dari emas. Selain itu ditemukan juga pecahan-pecahan keramik dari bahan batuan yang berasal dari bentuk botol. Botol ini biasa dipakai sebagai wadah untuk menyimpan cairan merkuri untuk pengerjaan emas. Bukti bahwa Mālayu atau katakanlah Batanghari tempo dulu mengha­sil­kan emas cukup banyak. Namun, yang menjadi pertanyaan mengapa Berita Tionghoa tidak ada satupun yang menyebutkan emas sebagai barang komoditi, atau menyebut­kan bahwa Shih-li-fo-shih, San-fo-tsi, atau Mo-lo-yeu menghasilkan emas. Justru sebaliknya, Tiongkok mem­bawa barang komoditi emas ke negara-negara itu untuk ditukarkan dengan hasil bumi dan hasil hutan. Lepas dari tidak disebutkannya Mo-lo-yeu sebagai daerah penghasil emas, namun kita mempunyai bukti kuat bahwa di daerah Koto Kandis pada masa lampau berlangsung aktivitas pengerjaan emas. Buktinya, di Koto Kandis banyak ditemukan pecahan botol merkuri, dan tanah di Koto Kandis “mengandung” bijih emas dan emas yang sudah dikerjakan. Hingga kini masyarakat di Koto Kandis sering mencari emas di tepian Sungai Batanghari.

Dalam Seminar Sejarah Mālayu Kuna terungkap bahwa lokasi Kerajaan Mālayu ada di daerah Sungai Batanghari, mulai dari daerah hilir di wilayah Provinsi Jambi hingga daerah hulu di wilayah Provinsi Sumatera Barat. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa ada perpindahan “pusat” kerajaan mulai dari arah hilir ke arah hulu Batanghari (Bambang Budi Utomo 1992:183–84). Demikian juga bukti prasasti menunjukkan bahwa prasasti-prasasti Mālayu yang lebih muda ditemukan di daerah hulu Batanghari, di wilayah Provinsi Sumatera Barat (Hasan Djafar 1992:50-80).

Jika dilihat dari pandangan geografis, daerah hilir Sungai Batanghari lebih mengun­tungkan jika dibandingkan dengan daerah hulu. Di wilayah pedalaman Sumatera Barat, jalan keluar menuju Selat Melaka adalah Sungai Indragiri dan Sungai Kampar Kiri. Kedua sungai ini bermata-air di wilayah Pagarruyung. Tentunya tidak mungkin untuk pelayaran sungai. Namun, pada pertengahan abad ke-14 Masehi pusat Kerajaan Mālayu berlokasi di sekitar daerah Pagarruyung (Sumatera Barat). Tetapi mengapa justru di daerah ini Kerajaan Mālayu mencapai puncak kejayaannya? Gejala apakah yang memacu perkembangan kerajaan ini. Untuk menjawab pertanyaan ini saya akan mencoba untuk membahasnya dengan melihat sumberdaya alam yang terkandung di bumi Sumatera, khususnya di daerah hulu Batanghari.

Adalah penting untuk melihat kedudukan sumberdaya alam Pulau Sumatera untuk dapat memahami mengenai timbulnya pemukiman, pelabuhan, pola perdagangan, dan kerajaan-kerajaan kuna di Sumatera. Hal yang tidak dapat dipungkiri oleh banyak orang adalah bahwa hasil bumi dan hasil tambang Sumatera banyak dicari oleh para pedagang baik dari Arab, India, Tiongkok dan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara. Salah satu hasil Sumatera yang terpenting adalah emas.

Selain emas, beberapa logam lain juga ditemukan di Sumatera seperti perak, plumbum, tembaga, zink, besi, dan air raksa (van Bemmelen 1944:210; Miksic 1979: 263). Barang-barang logam itu telah lama ditambang dan jauh sebelum abad ke-16 Masehi, yaitu ketika para penguasa barat melakukan penambangan secara besar-besaran di bumi Suma­tera (Miksic 1979:262). Air raksa banyak ditemukan di Lebong dan cinnabar, satu jenis logam yang mengandung air raksa telah ditambang di daerah Jambi jauh sebelum keda­tangan orang Barat (Miksic 1979:262; Tobber 1919:463-464). Cinnabar juga ditambang di Muara Sipongi, Kabupaten Tapanuli Selatan (Sumatera Utara) (van Bemmelen 1944:210). Di Muara Sipongi, sebelum kedatangan bangsa Barat ditambang plumbum, zink, besi, dan tembaga.

Selain hasil tambang, sumber daya alam Sumatera yang menjadi komoditi penting pada masa lampau adalah hasil hutan. Pada masa Kesultanan Melaka diberitakan ada selusin kapal yang singgah di Melaka setiap tahunnya membawa muatan yang sebagian besar berupa hasil hutan. Hasil hutan yang dikapalkan itu antara lain berupa damar, kapur barus, storax, bahan untuk membuat minyak wangi, myrobalan (bahan baku untuk pencelup kain), dadah, dan benzoin (Dunn 1975; Miksic 1979:264).

Gambaran yang dapat kita peroleh dari pengelana-pengelana asing jelas bahwa masyarakat di Sumatera sejak jaman purba telah melakukan penambangan emas. Emas yang dikumpulkan dapat berupa emas primer maupun emas sekunder, tergantung dari tempat di mana mereka mencarinya. Christine Dobbin mengemukakan bahwa daerah pusat Minangkabau selama beberapa abad telah memegang peranan penting dalam perekonomi­an di wilayah sebelah barat Nusantara (Dobbin 1986, terjemahan). Daerah Tanah Datar merupakan penghasil salah satu dari sumber utama kegiatan perekonomian. Dari daerah ini banyak dihasilkan emas. Menurut Tomé Pires di pantai barat Sumatera, bahan eksport selain lada adalah emas, kelambak, kapur barus, kemenyan, damar, madu, dan bahan makanan (Poesponegoro (3) 1984:147-148). Eksport komoditi ini ditujukan ke Melaka. Akan tetapi ada juga kapal-kapal Gujarat yang datang langsung ke Pantai Barat Sumatera untuk membawanya langsung ke negerinya.

Emas merupakan hasil tambang dari Sumatera yang penting dan utama. Oleh sebab itu, untuk menelusuri kelahiran bandar-bandar utama di Sumatera dan sistem per­dagangan pada masa lampau, kita harus dapat memahami tentang peranan emas dari Sumatera. Logam ini telah ditambang di Sumatera sejak jaman sebelum kedatangan bang­sa barat (Eropa) ke Asia Tenggara. Demikian pentingnya emas dari daerah Minang­ka­bau, Wheatly menunjukkan bukti bahwa Kesultanan Melaka telah menantang Kesul­tanan Deli, Rokan, Siak, Kampar dan Indragiri untuk memastikan ia dapat menjamin keamanan per­dagangan emas dari kawasan pedalaman Minangkabau (Wheatly 1961:309).

Penambangan emas secara besar-besaran di wilayah Sumatera Barat baru dila­kukan pada masa penjajahan. Meskipun demikian, daerah ini sudah lama dikenal sebagai penghasil emas yang utama. Penguasaan atas tambang-tambang emas dilakukan oleh para penguasa untuk tujuan politik. Emas dari daerah pedalaman Minangkabau dipasar­kan ke luar Sumatera melalui pantai barat dan pantai timur Sumatera dengan me­lalui jalan sungai dan jalan darat. Itulah sebabnya Mālayu pada masa Ādityawarmman mencapai kejaya­annya. Pendahulu Ādityawarmman telah memindahkan keratonnya ke daerah pedalaman agar memudahkan pengontrolan tambang-tambang emas. Daerah pedalaman (sekitar Pagarruyung) dekat dengan jalan keluar menuju Selat Melaka melalui Sungai Kampar Kiri dan Sungai Indragiri. Menuju pantai barat dapat melalui celah Pegunungan Bukit Barisan menuju Padang. Menuju ke arah utara, dapat melalui Muara Sipongi (juga merupakan tambang emas) menuju ke arah Tapanuli Selatan.

Kondisi Sungai Batanghari kini cukup memprihatinkan. Penambangan emas saat ini merupakan warisan-warisan Sungai Batang Hari barangkali menatap sedih penambangan emas eksploitatif yang diperbuat korporasi, membuang limbahnya di Sungai Batang Hari, meracuni ikan-ikan air tawar, dan efeknya merusak ekosistem hayati. Rute harmonis keseimbangan rantai makanan jadi tak runtun lagi.

Demikianlah berdasarkan paparan-paparan diatas dapat diketahui bahwa salah satu motif Kerajaan Sriwijaya menaklukkan Melayu adalah karena sumber daya tambang emasnya.

D.SELAT MALAKA KUNCI MENGUASAI JALUR PERDAGANGAN

Gambar peta Selat Malaka

Selat Melaka adalah selat yang memisahkan Semenanjung Malaysia dengan Pulau Sumatra. Selat Melaka menghubungkan Samudera Pasifik di timur dan Samudera India di barat.

Dari segi ekonomi dan strategis, Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, sama pentingnya seperti Terusan Suez atau Terusan Panama. Selat Malaka membentuk jalur pelayaran terusan antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik serta menghubungkan tiga dari negara-negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia: India, Indonesia dan Republik Rakyat Cina. Sebanyak 50.000 kapal melintasi Selat Melaka setiap tahunnya, mengangkut antara seperlima dan seperempat perdagangan laut dunia. Sebanyak setengah dari minyak yang diangkut oleh kapal tanker melintasi selat ini; pada 2003, jumlah itu diperkirakan mencapai 11 juta barel minyak per hari, suatu jumlah yang dipastikan akan meningkat mengingat besarnya permintaan dari Tiongkok. Oleh karena lebar Selat Melaka hanya 1,5 mil laut pada titik tersempit, yaitu Selat Phillips dekat Singapura, ia merupakan salah satu dari kemacetan lalu lintas terpenting di dunia.

Pada zaman Kerajaan Melayu,Selat Malaka letaknya berdekatan dengan letak kerajaan ini,sehingga membuat para kerajaan disekitarnya hendak menaklukkan Kerajaan Melayu dengan ambisi untuk menguasai Selat Malaka.Seperti yang dijelaskan dalam buku Munoz tentang motif Kerajaan Sriwijaya menaklukkan Kerajaan Melayu bahwa selat ini adalah pintu-pintu utama dari semua lalulintas maritime antara Samudra Hindia dan Laut China Selatan.Saat setiap kapal membongkar muat kargo-kargo mereka dan menunggu pergantian angin musim.Kendali atas semua pelabuhan ini adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan sebuah hegemoni maritime atas emporium emporium competitor lainnya.Siapapun yang memegang kendali ini bisa mengumpulkan pajak dan upeti dari semua barang yang transit dan menjadi pemain utama dalam perdagangan upeti dengan China.

E.SIMPULAN

Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas dapat di tarik suatu kesimpulan bahwa motif terkuat kerajaan-kerajaan lain ingin menguasai Kerajaan Melayu adalah penguasaan atas Selat Malaka dan sumber daya tambang emas yang terdapat di Sungai Batanghari dalam hal ini di sebut motif ekonomi,Selat Malaka adalah pusat perdagangan Bangsa China dan Eropa pada saat itu dan sebagai salah satu tempat yang dijadikan untuk persinggahan atau peristirahatan,Hal inilah yang menjadi ambisi dari Kerajaan Sriwijaya.Setelah Sriwijaya runtuh karena serangan Raja Chola dari Kerajaan Koromandel di India muncul Kerajaan Singosari menaklukkan Kerajaan Melayu yang disebabkan untuk membendung serangan Kubilai Khan dari Mongol..Takluk-menaklukkan adalah hal yang lumrah bagi suatu kerajaan yang ingin memperluas daerah kekuasaan,ambisi harta yang begitu tinggi membuat Kerajaaan-keerajaan yang semasa dengan Kerajaan Melayu menaklukkan Kerajaan Melayu,

DAFTAR PUSTAKA

http://pelayangwap.blogspot.com/2011/08/menyusuri-jejak-kemegahan-kerajaan.html (accessed December 29, 2011).

Coedes, George. Sejarah Asia Tenggara:Masa Hindu-Buddha. Jakarta: Kepustakaaan Populer Gramedia, 2010.

Kerajaan Melayu. http://www.wikipedia.org (accessed December 29, 2011).

Kozok, Uli. Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah Naskah Melayu Yang Tertua. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2006.

Marsden, William. Sejarah Sumatra. Jakarta: Komunitas Bambu, 2008.

Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. sejarah indonesia klasik. jakarta: balai pustaka, 2009.

Muljana, Slamet. Kitab Negarakertagama dan Tafsirnya. Yogyakarta: Lkis, 2006.

—. Sriwijaya. Yogyakarta: Lkis, 2006.

Munoz, Paul Michel. Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia Dan Semenanjung Malaysia. Yogyakarta: Mitra Abadi, 2009.

Utomo, Bambang Budi. Ranah Minang Dan Kerajaan Melayu. Desember 11, 2011. http://hurahura.wordpress.com/2011/07/05/ranah-minang-dan-kerajaan-malayu/ (accessed Desember 11, 2011).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun