Zulbiadi Latief
Zulbiadi Latief Analis Saham

Pekerjaan utama analis saham syariah dan penulis buku.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Suka Duka Jadi Analis Saham Aliran "Value" Investor

21 Maret 2018   20:16 Diperbarui: 21 Maret 2018   20:28 736 0 0

Menjadi seorang analis saham syariah bisa dibilang tidak terlalu sulit, tapi juga menantang karena butuh kesabaran sekaligus ketelitian agar portofolio saham tidak tergerus karena kerugian.

Banyak yang bilang kalau main saham itu bahaya karena high return dan high risk juga. Maksudnya, untungnya banyak, tapi kemungkinan ruginya juga besar sekali.

Tapi itu sebenarnya kalau kamu tidak punya ilmunya dan belum punya pengalaman. Tapi kalau sudah punya semua itu maka mau bagaimana pun IHSG saat ini maka kamu akan tetap tenang-tenang saja, terlebih lagi karena rugi dalam saham tak selamanya harus cut loss, kadang juga malah nambah beli lagi, istilahnya averagedown.

Dulu waktu masih awal masuk di pasar saham, rasanya setiap kali saham turun dan jadi merah hati langsung degdekan karena belum tau alur permainannya, tapi sekarang... kadang sudah turun sampai 10% tetap saja santai. Ya, karena sudah tau mau kemana arahnya kalau turun dan sudah bis ayakin kalau hasil analisa saham yang say alakukan tepat.

Contoh nih, saat ini saya beli saham LPCK, sebenarnya sudah naik 10% beberapa kali, tapi saya tidak jual-jual juga, ya karena yakin dia bakal naik lebih tinggi lagi. Walau sekarang turun lagi di bawah 3300 saya tetap santai karena kalau mislanya turun lebih dalam lagi maka akan saya tambah lagi kepemilikan saya biar nilai untungnya juga bisa lebih besar.

Bisa dibilang, setelah bergelut dalam dunia trading saham ini, saya belum pernah sama sekali rugi yang sampai bikin stress, ya karena dasar analisanya saya kira yang pas dengan kondisi pasar saat ini.

Awalnya saya berpikir memmilih aliran growth investor karena lebih cepat cuan, tapi setelah diamati ternyata tidak sejalan dengan prinsip saya kalau yang namanya investasi itu tinggal beli kemudian ditinggal tidur, tidak malah melototin komputer seharian penuh. Kalau begitu sih kerja namanya, malah lebih parah.

Enaknya kalau jadi value investor, kita tidak harus selalu menganalisa. Setelah melakukan analisa awal dan membeli saham yang diincar, selanjutnya tinggal aja. Tau-tau beberapa minggu atau bulan kemudian harganya sudah naik. Kalau valuenya masih murah tetap dihold, tapi kalau sudah kemahalan dijual dan cari lagi yang masih murah.

jadi sesimple itu kalau kamu jadi trader saham yang analisanya atas dasar fundamental perusahaan, bukan dari grafiknya saja. Karena dalam berbagai kasus banyak orang yang malah stop trading karena selalu rugi. ya, karena belinya bukan dari nilainya. Malah ada yang cuma liat kalau ramai ditransaksikan langsung hajar, dan kalau sudah mulai turun nilai transaksinya langsung kabur. Wah kalau begini bisa cut loss tiap minggu. Dan kalau pun untung gak seberapa untungnya.

Intinya, jadi seorang analis saham syariah maupun konvensional itu harus banyak pengalaman. Tidka boleh hanya baca buku saja karena kemungkinan salahnya bisa besar sekali kalau hanya dari bacaan.

Ada satu blog yang selalu pamer habis baca buku ini dan itu. Tapi begitu merilis portofolio sahamnya, ternyata merah semua dan ruginya juga gak main-main, bisa sampai 50%. Ini namanya, sejanjatanya untuk trading belum lengkap sudah mulai bangga.

Saran saya buat yang pemula, baca buku lebih banyak lagi itu bagus, tapi kalau kamu tidak belajar dari pengalaman maka sewaktu-waktu kamu bisa dihantam oleh kondisi pasar yang tidak menentu. Seperti di akhir 2017, banyak saham yang jatuh padahal IHSG naik terus. Kalau keadaannya seperti itu maka kamu harus berbenah dan mulai menganalisa fenomenanya.

Saya mau cerita terus soal pengalaman jadi analis saham syariah yang dasarnya analisa fundamental ini, tapi berhubung sudah malam jadi saya tutup sampai di sini dulu. Kalau mau belajar lebih lanjut cara main saham di https://analis.co.id/ aja. Di sana semua info soal saham syariah dan konven dishare. Sekian!