Mohon tunggu...
Yusuf Mukib
Yusuf Mukib Mohon Tunggu... Mahasiswa

Penulis

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan

Meninjau Ulang "Save Earth" dan Berbagai Masalahnya

22 April 2021   06:46 Diperbarui: 22 April 2021   06:52 67 1 0 Mohon Tunggu...

Hari bumi identik dengan jargon "Save the Earth"  yang lumrah digemakan dalam berbagai media dan acara. Jargon tersebut seolah-olah mengartikan bahwa bumi sedang mengalami kerusakan dan masa depan bumi hanya berada di tangan kita. Kebanyakan orang sepakat bahwa krisis lingkungan adalah ancaman kepada bumi. Pandangan yang telah diterima sebagai kemapanan tersebut mampu menjadi modal sosial dalam menanggapi berbagai isu lingkungan.

Namun dibalik trend sosial tersebut perlu kiranya kita meninjau ulang apa  sebenarnya itu "Save the Earth" dan berbagai masalahan yang ada di seputarnya agar kita tidak dangkal dalam memahami slogan dan hingga muncul salah paham tentang konsepnya.

Pertanyaan kritis yang perlu dibahas adalah "Mengapa bumi perlu diselamatkan? Apakah kita benar-benar murni peduli kepada bumi ?".

Bila kita memahami secara serius, ternyata bumi bukanlah makhluk hidup yang butuh predikat selamat atau tidak selamat. Bahkan jika bumi tanpa oksigen dan air pun tidak masalah baginya. 

Perlu diketahui, bumi telah ada sekitar 4 miliar tahun lalu dengan berjuta organisme hidup yang bergantian menghuni planet ini. Adapun hal yang jarang kita sadari bahwa manusia pernah tidak ada di bumi dan bumi adalah apa adanya bumi dengan berbagai fenomena alam didalamnya. Pergeseran lempeng tektonik, zaman es, perubahan iklim dan berbagai gajala alam yang dianggap manusia sebagai bencana.

Sedangkan manusia itu sendiri baru menampakkan diri di bumi pada 2 juta tahun yang lalu. Bisa dikatakan manusia seperti bocah kemarin yang berlagak sok-sok an ingin menyelamatkan bumi yang sebenarnya tidak punya masalah apapun. Perjuangan menyelamatkan bumi seperti usaha manaburi garam pada air laut supaya asin.

Konsep bumi rusak, alam asri, lingkungan indah dll tidak lain adalah sudut pandang kita yang penuh dengan bias kepentingan untuk bertahan hidup. Sama seperti kita melihat banjir sebagai bencana alam karena hal itu merugikan manusia. Coba saja jika banjir itu terjadi di tempat yang jauh dari hunian manusia. Niscaya hal tersebut tidak disebut bencana alam. 

Dengan demikian sesuatu hal disebut bencana karena mengancam kehidupan manusia. Dengan cara berpikir sederhana sebenarnya upaya untuk menyelamatkan bumi adalah perjuangan manusia agar membuat bumi ramah terhadap manusia dan alam berjalan seiringan dengan kepentingan manusia. Bukan untuk bumi itu sendiri.

Selanjutnya untuk menjawab pertanyaan kedua, kita juga harus cermat untuk mengakui bahwa kita sebagai organisme adalah makhluk egois. Bahkan ke-egoisan kita sering kali menjadi motif dalam argumen yang sering muncul sebagai motif kepedulian lingkungan. 

Seperti misal ucapan yang sering dijumpai : "Kita harus menyelamatkan lingkungan dari krisis sampah plastik karena anak cucu kita harus menikmati bumi seperti apa yang kita nikmati" atau "kita harus mencegah krisis iklim karena ini bencana ekologis yang dapat membawa kita kepada kepunahan masal". Motif semacam ini hanya berdasarkan  keuntungan bagi manusia dan kepentingan yang menyertainya. 

Motif ini begitu jauh dari kepedulian terhadap bumi. Orang-orang yang beralasan seperti itu lebih tepat diberi predikat sebagai pejuang kemanusiaan bukan aktivis lingkungan. Kenapa sangat jarang yang beralasan "Kita harus peduli kepada lingkungan karena kepedulian itu sendiri !".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN