Mohon tunggu...
Yusmar Abdillah
Yusmar Abdillah Mohon Tunggu... Pemula

a man with narsistic personality disorder

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Siapa Layak Pimpin Sleman ?

25 September 2020   14:52 Diperbarui: 25 September 2020   15:15 78 2 0 Mohon Tunggu...



Perhelatan politik pemilihan kepala daerah (PIlkada) 2020 di kabupaten Sleman sudah memasuki babak baru, berdasarkan keputusan yang telah dikeluarkan oleh KPU Sleman bahwa ada 3 pasangan calon bupati  yang sudah dinyatakan lolos sebagai peserta dalam perhelatan pemilihan bupati Sleman periode 2020-2025. Tiga pasangan calon tersebut adalah Kustini Sri Purnomo – Danang Maharsa,  Sri Muslimatun- Amin Purnama dan Danang Wicaksana Sulistya (DWS) - Raden Agus Choliq (ACH). sementara itu dari hasil pengundian nomor urut peserta pilkada, telah di putuskan jika Pasangan Danang Wicaksana Sulitya (DWS) - Raden Agus Choliq (ACH) mendapat nomor urut 1 (satu), Sri Muslimatun - Amin Purnama mendapat nomor urut 2 (dua), dan Kustini Sri Purnomo-Danang Maharsa mendapat nomor urut 3 (tiga)

Melihat dari track record masing -  masing paslon, Kustini Sri Purnomo adalah  istri dari Bupati 2 periode yaitu Sri Purnomo, sedangkan Sri Muslimatun adalah wakil bupati selama 1 periode dari Bupati saat ini yaitu Sri Purnomo. Sementara itu Danang Wicaksana sebelumnya merupakan penantang petahana, namun bedanya jika dulu maju sebagai cawabup yang berpasangan Yuni, sekarang maju sebagai cabup.

Berkaca kepada peta politik ketiga paslon bupati Sleman ini menarik untuk disimak, Kustini Sri Punomo yang merupakan istri dari bupati 2 periode tentunya secara tidak langsung memiliki peran krusial selama kepemimpinan Sri Purnomo, berbagai posisi jabatan seperti Ketua PKK dan Ketua Persatuan Sepak bola Wanita ditempatinya hingga saat ini.

Majunya Kustini sebagai calon bupati Sleman untuk periode 2020-2025 berpasangan dengan Danang Maharsa didukung oleh koalisi PDIP, PAN dan Gelora, memberi kesan tersendiri sebagaimana yang juga telah di praktekan di beberapa wilayah di Indonesia yaitu pratek politik oligarki atau dikenal istilah Dinasti Politik. Bagi sebagian masyarakat timbul pertanyaan apakah hal ini melanggar hukum ? tentunya saja tidak dan sah karena merupakan hak politik bagi setiap warga negara untuk mencalonkan diri dalam perhelatan demokrasi, namun demikian yang menjadi perbedaanya adalah dinasti politik merupakan gambaran sisi negatif dari politik itu sendiri melalui wadah sistem demokrasi yang senyatanya poltik sudah dijalankan tanpa mengenal etika politik.

Selama tidak melanggar aturan berarti itu merupakan tindakan sah secara hukum, akan tetapi sejatinya untuk sebagian kelompok yang memahami sistem politik justru ini merupakan sebuah pergerakan yang bertujuan untuk mempertahankan kekuasaan yang dipegang oleh satu kelompok tertentu sehingga sistem demokrasi hanya dijadikan wadah untuk mempertahankan kekuasaan yang telah dimilikinya baik itu turun ke istri, anak, mantu atau keponakan sekalipun tentunya dengan harapan akan mampu memperpanjang kekuasaan atas berbagai program (proyek) yang telah dirancang oleh penguasa sebelumnya.

Sementara itu Sri Muslimatun yang kini menjabat sebagai wakil Bupati Sleman juga maju dalam perhelatan pilkada 2020. Sri Musimatun didampingi oleh Amin Purnama dan diusung oleh partai Golkar, PKS, dan Nasdem. Di usianya  yang ke 67 tahun ini, Sri Muslimatun masih berambisi untuk berkuasa di Sleman dengan tujuan ingin memanfaatkan sisa umurnya untuk mengabdi kepada masyarakat. 

Dengan jabatannya sebagai Wakil Bupati selama 1 periode, Sri Muslimatun terlihat percaya diri karena popularitasnya yang tinggi dan aksesnya sebagai pemegang jabatan, namun secara sikologis politik bisa dikatakan Sri Muslimatun berada dalam situasi kritis, jabatannya sebagai wakil Bupati tidak memberikan dampak besar bagi perubahan Sleman, apalagi konon kepemimpinan Sri Purnomo dikenal dengan gaya one man show, dan semua keberhasilan adalah hasil jerih payah dari kepemimpinan Sri Purnomo sebagai Bupati Sleman 2 periode, dengan majunya Kustini Sri Purnomo sebagai rival dari istri sang bupati, tentunya menjadikan politik Sleman lebih menarik karena dua orang yang sama lahir dari rahim birokrasi berebut untuk mendapatkan kursi panas sebagai orang nomor 1 di Sleman.

Disisi lain, ada Danang Wicaksana Sulistya yang menjadi penantang dari dinasti politik yang terjadi di Sleman ditemani oleh Raden Agus Choliq dan diusung oleh Gerindra, PKB, dan PPP. Pasangan DWS-ACH sering kali mendapat julukan sebagai Kuda Hitam dalam kontestasi ini, selain karena satu-satunya calon bupati yang non birokrasi, tema yang diambil adalah pembangunan Sleman dari Desa ke Kota, dalam pandanganya masih banyak potensi di wilayah Sleman yang belum dimanfaatkan secara maksimal. 

Secara politis paslon yang diusung oleh Gerindra, PPP dan PKB ini merupakan pasangan alternatif atas kebuntuan politis dalam pilkada Sleman. Tentunya hal yang paling akan disoroti adalah dari paslon ini adalah minimnya pengalaman pada birokrasi. Namun hal itu bukanlah hal yang tabu dalam sebuah kontestasi politik. Toh jika berpatokan kepada para rivalnya saat ini yang berasal dari Rahim birokrasi telah gagal menyuguhkan perubahan besar bagi Sleman sehingga potensi sebenarnya dari Sleman menjadi sia-sia.

Dari gambaran tentang ketiga pasangan calon diatas, monggo sedulur di kabupaten Sleman menimbang dengan bijak serta melihat dan mempelajari visi-misinya masing-masing kandidat secara utuh, perbandingkan mana yang lebih rasional dan cocokan dengan kondisi saat ini, karena kesalahan dalam menentukan pilihan akan berakibat fatal untuk 5 tahun kedepan.

Sleman adalah salah satu penyangga utama daerah istimewa Jogjakarta, citra pemimpinnya akan membawa pengaruh besar kedepan. Yo uwis poko e ojolali ya datang ke TPS 9 Desember 2020, meriahkan pilkada Sleman 2020 dan jangan lupa selalu jaga kesehatan dan terapkan protokol kesehatan, karena sehat adalah modal utama untuk kita bisa merasakan kesejaheraan dibawah pemimpin baru Sleman.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x