Mohon tunggu...
Dr. Yupiter Gulo
Dr. Yupiter Gulo Mohon Tunggu... Dosen - Dosen, peneliti, instruktur dan penulis

|Belajar, Mengajar dan Menulis mengantar Pikiran dan Hati selalu Baru dan Segar|

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama

Optimisme Pertumbuhan Ekonomi 2021 di Bawah Bayangan Ketidakpastian

20 Desember 2020   21:51 Diperbarui: 21 Desember 2020   14:33 690
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

I. Optimisme Negatif di 2020

Sungguh menarik mengakhiri 2020 dan memasuki 2021. Ada semangat optimisme yang menggebu, tetapi juga dibayang-bayangi oleh ketidakpastian.

Ketika mengakhiri tahun 2020 yang nampaknya akan negatif pertumbuhan ekonomi, tetapi aura optmisme sangat kencang bahwa pertumbuhan ekonomi 2021 akan positif bahkan tinggi. Sementara pertambahan kasus postif Covid-19 yang belum jelas kapan akan menurunnya menciptakan ketidakpastian yang serius di tahun 2021.

Bagaimanapun dan siapapun yang membuat rencana ke depan, dipastikan akan selalu mengandung optimisme dan semangat pemulihan yang tinggi. Dan berdasarkan sejumlah asumsi yang dibangun, maka harapan keadaan akan lebih baik menjadi target semua program yang dirancang untuk dikerjakan pada tahun berikutnya. 

Hanya saja bila asumsinya tidak realistis maka targetnya juga tidak akan realistis, dan akibatnya pasti tidak menyenangkan bagi semua orang karena mengecewakan.

Tahun 2020 akan diakhiri dengan pertumbuhan ekonomi berkontraksi, artinya pertumbuhannya di bawah nol, alias minus. Kita tentu tdiak perlu merasa dunia kiamat, karena nyaris banyak negara di dunia yang mengalaminya, bahkan masih di bawah pertumbuhan ekonomi Indonesia. Walaupun ini bukan alasan untuk bangga terus menerus, sebab pertumbuhan negatif, ya tetap negatif dengan se abreg dampak yang ditimbulkannya.

Harian Umum Kompas di hari Jumat 18 Desember 2020 menyajikan angka pertumbuhan yang berbeda antara tiga lembaga, yaitu Bank Dunia menyebutkan defisit di minus 2,2% (padahal bulan September dia ramalkan pada angka minun 1,6%), pemerintah Indonesia menghitung pada range di minus 1,7% hingga minus 0,6%. Sedangkan Bank Indonesia menetapkan pada range minus 2% hingga minus 1%. 

Semua estimasi pada tahun 2020 negatif, hanya angka yang berbeda-beda. Dan masih ada setengah bulan lagi sebelum tahun ini berakhir. Angkanya mungkin ada di sekitar ramalan tersebut, yaitu mulai dari minus 2,2% hingga 0,6%.

Harus diakui bahwa ramalan angka di atas mengandung optimisme mengakhiri tahun 2020, walaupun pertumbuhan ekonomi tetapi berakhir dengan negatif.

Optimismenya karena dibandingkan dengan angka pada kuartal ke II yang anjlok sangat dalam di angka minus 5,32%, dan menurun menjadi minus 3,49% pada kuartal III yang mengkonfirmasi resesi ekonomi Indonesia. Secara kuartalan ada pertumbuhan yang serius, walaupun tidak merata di semua sektor ekonomi. 

II. Optimisme di 2021

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun