Mohon tunggu...
Yuniandono Achmad
Yuniandono Achmad Mohon Tunggu... Dreams and Hope

Cita-cita dan harapan, itu yang membuat hidup sampai saat ini

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

Indonesia Masters 2019, Antara Drama dan Tragedi

28 Januari 2019   15:27 Diperbarui: 30 Januari 2019   11:29 0 2 3 Mohon Tunggu...
Indonesia Masters 2019, Antara Drama dan Tragedi
Source photo from Kompas.com

Memaknai peristiwa bisa beragam cara orang melihatnya. Antara sedih dan gembira terkadang hanya sebatas telapak dan punggung tangan. Kita mudah membolak baliknya. Maka kita mengenal pentas teater, kethoprak, dan film, yang menguras air mata karena sedih dan gembira. Terkait kejuaraan bulutangkis Indonesia Master 2019 kemarin, banyak peristiwa dan banyak pemaknaan. Ya, antara drama dan tragedi.

Drama pertama yang terjadi adalah perpisahan Butet (Liliyana Natsir) ke publik bulutangkis. Liliyana dapat dikatakan separuh hidupnya tercurah ke bulutangkis. Pensiun pada usia 33, dengan beragam prestasi -yang bisa disebut sebagai legenda pemain putri terbesar Indonesia. 

Dibandingkan dengan Susy Susanti kalau dilihat perolehan medali Olimpiade, jelas menang Liliyana -karena mendapat 1 emas dan 1 perak. Sementara Susy "hanya" mendapat 1 emas dan 1 perunggu. Cuman bedanya, Susy pernah meraih podium tertinggi untuk beregu, yaitu piala Sudirman 1989, Uber 1994, dan Uber 1996. Lilyana hanya sekali pernah mengantar tim Uber meraih perak tahun 2008 -dan runner up Sudirman Cup tahun 2009 mungkin ya.

Nasib yang sama antara keduanya adalah belum pernah meraih emas Asian Games.

Mengutip dari kompas.com, selama lebih dari setengah jam, Liliyana mengaku merasa momen perpisahan (Ahad, 27 Januari 2018) itulah sebagai saat terberat. Momen yang memang mau tidak mau harus dihadapinya sebagai seorang atlet. 

"Hari ini, Minggu, 27 Januari 2019, saya menyatakan pensiun sebagai atlet profesional bulu tangkis," kata Butet, sapaan buat Liliyana. Perasaan berat memang mendera Liliyana yang merupakan konsekuensi meninggalkan satu-satunya dunia yang dihadapinya selama lebih dari 20 tahun sebagai atlet bulu tangkis. Tujuh belas tahun di antaranya dihabiskan di Pelatnas Cipayung sejak 2002.

Kata Lilyana, "Saya berterima kasih kepada menpora, Ketua Umum sekarang dan sebelum-sebelumnya, teman-teman di Pelatnas dan pasangan-pasangan dalam karier saya: Vita Marissa, Nova Widianto, dan Tontowi Ahmad." Lanjutnya, "Terutama kepada para penonton yang selama ini mendukung saya. Saya tidak mau berbicara lebih lama karena saya pasti akan nangis di sini," Liliyana selama memberi sambutan suaranya terdengar serak. Its an drama.

Jelas, publik bulutangkis kebanyakan akan menangis melihat pensiunnya Lilyana. Sembari berharap siapa tahu mungkin bisa dikoreksi, dan tahun depan masih bisa ikut olympic games Tokyo tahun 2020. Tapi penyinta bulutangkis Indonesia lainnya berharap, ini semacam blessing in disguise, siapa tahu para yunior (putri) yang tertutupi kecemerlangan Butet menjadi terbuka, dan meneladani kerja keras dan kesuksesan Butet.

Perihal atau aspek "tragedi"-nya kemudian terjadi beberapa jam setelah cik Butet menyatakan pensiun. Di final ganda campuran, melawan Zheng Siwei/ Huang Yaqiong (Tiongkok), set pertama sudah menang, set kedua unggul 18-14, seakan kemenangan sudah di tangan. Ini sebagai penutup karier cik Butet yang dipungkasi dengan puncak raihan menjadi juara gilang gemilang di depan mata. Harapannya begitu. Tapi dari 18-14 disusul menjadi 18-20, dan kalah 19-21. Set ketiga kalah lebih mudah 16-21. Kelihatan sepertinya Tantowi yang lebih kecewa, sementara L.Natsir mengatakan ke media sebagai hal biasa.

Drama lainnya adalah kegembiraan Saina Nehwal, yang bisa dikatakan pada titik penurunan prestasi, masih menjadi juara di Indonesia Master. Sepuluh tahun sebelumnya, Nehwal pernah menjadi juara Indonesia Open, yang diulanginya pada tahun 2012. Namun seperti dinyatakan ke pers, Nehwal tidak begitu senang menjadi juara kali ini karena ...lawannya di final (Carolina Marin/ SPA) cedera di tengah permainan.

Marin, sang Olympian 2016 itu, pernah mengatakan bahwa dirinya tidak begitu dikenal di negaranya sendiri. Tapi lebih dikenal di Jakarta. Apesnya, kalah di final karena cedera lutut, saat unggul 10-4. Tragedi terjadi diiringi tangisan Marin menahan sakit.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2