Yuni Palupi
Yuni Palupi

Seorang penikmat bacaan tentang perjalanan ke negeri asing dan selalu ingin menjelajahi tempat-tempat baru di penjuru dunia

Selanjutnya

Tutup

Travel

Kesasar di Paris, dari Museum Louvre ke Menara Eiffel

12 Juni 2018   10:58 Diperbarui: 12 Juni 2018   11:19 192 0 0

Throw back memories of Summer 2013

Berdua dengan teman seruangan gw di kantor, begitu selesai meeting di kantor pusat di Belanda, kami langsung naik bus malam ke Paris. Sebenarnya ada beberapa pilihan transportasi sih, bisa naik kereta, bus atau pesawat terbang. Kalau kita, eh gw, sih pertimbangan utama pasti soal biaya. Body remuk redam bisa diurus belakangan.

Pilihan termurah saat itu ya naik bus malam. Jadi pagi-pagi kita sudah tiba di Paris dan titip tas ke hotel. Perjalanan lancar dan nggak ada cerita berhenti istirahat makan atau shalat di sepanjang perjalanan. Kalau mau pipis, ada toilet di dalam bus. Kami melaksanakan shalat sambil duduk di kursi, ambil wudhu dengan susah payah di dalam toilet yang sempit itu. Untungnya perjalanan malam, orang nggak akan ngeh bahwa kita sedang melakukan shalat sambil duduk.

Kami tiba di terminal bus Paris tepat waktu di pagi hari. Walau pun bulan Juli itu sudah masuk waktu musim panas, kalau pagi hari ternyata tetap semriwing apalagi pakai bonus angin pula.

Dari terminal bus kami bergegas ke hotel yang jaraknya tinggal jalan kaki dari stasiun metro. Biar efektif dan efisien maksudnya kan. Cuma ternyata di sekitar stasiun kalau pagi hari gitu ada banyak tuna wisma yang tidur di taman umum atau trotoar jalan. Akyu jadi rada-rada worry gitu yekan.

Karena masih pagi, jadinya kami belum bisa check in, tapi boleh titip tas koper. Setelah beres urusan registrasi, kami jalan deh menyusuri kota Paris di pagi hari. Yang ada gw jalan sambil terngantuk-ngantuk tiada henti. Eh taunya itu awal gw lagi hamil si Atya, pantesan aja gw bawaannya mau molor melulu.

Molor pertama itu di kursi di trotoar waktu lagi nunggu teman gw beli roti buat sarapan. Molor kedua di taman museum Louvre siang-siang. Enak dan gaya dong. Bareng-bareng sama penduduk lokal mandi matahari. Beneran dinikmati, karena beberapa orang pada pake bawahan doang atau yang perempuan malah bikinian ajeh.

Kelar boci di taman Louvre, gw kan jadi bersemangat membara kembali. Celingak-celinguk, setelah batal masuk museum karena ngarepin gratisan tiket masuk di keesokan hari. Pas lagi nengadah, eh kok kita udah bisa lihat Menara Eiffel aja? Udah dekat dong. Yuk, kita jalan kaki aja dari sini.

Jadi lah kami berdua berjalan dengan patokan si puncak menara Eiffel. Setelah 15 menit, kok nggak sampai juga? Tapi kami udah kadung malas cari metro. Jadi pelan-pelan kami terusin jalan kaki. Asik juga sih, wong banyak banget obyek keren yang kami temui di sepanjang jalan sampai ke menara eiffel.

Mau tau apa aja obyek kece bin kerennya?
Ada sungai Seine yang waktu itu masih ada jembatan dengan ratusan gembok cinta. Sambil jalan kami juga menyaksikan anak-anak dan remaja tanggung mencari peruntungan dengan cara menipu para turis. Misalnya nih, si penipu pura-pura nemuin cincin dan nanya apakah cincin itu milik si turis. Trus ada juga yang ngedarin petisi untuk ditandatangani dan si turis disuruh bayar sumbangan. Yang copet juga mestinya ada tapi Alhamdulillah saat itu kami nggak kena scam atau copet.

Sambil jalan itu juga kami lihat si gerombolan penipu ditangkapi polisi sampai kejar-kejaran. Wajah mereka memang khas sih. Stigmanya kan anak-anak gipsi yang punya kerjaan begitu.

Lanjut jalan lagi kami sampai ke gereja Notre Dame yang terkenal di film Disney "Hunchback of Notre Dame." Itu gereja kan tinggi jadi gw susah ambil foto full body. Pengunjung di sana ruameee banget. Harus lihat-lihatan sama teman gw biar kita nggak terpisah.

Lalu kita masuk ke dalam gereja, semua turis boleh masuk asal tertib dan mengikuti aturan. Ada yang langsung ikut misa, ada juga yang nontonin, seperti yang kami lakukan. Itu pertama kalinya gw menyaksikan prosesi misa.

Kelar di gereja Notre Dame, kami jalan lagi sampai menemukan si gerbang gede yang tiruannya ada di kota Vientiane dan Kediri itu. Dari situ kebelet pipis tapi nggak lihat ada wc umum. Kami masuk ke dalam stasiun metro terdekat, tapi juga nggak ada. Seorang petugas stasiun yang baik hati membolehkan kami mempergunakan toilet karyawan dan diwanti-wanti bahwa mestinya kami nggak boleh pakai.

Dari stasiun metro jalan lagi, ketemu jalan Champs du elysees yang terkenal di kalangan tukang belanja kelas berat. Mau masuk toko para desainer terkenal aja mesti ngantri. Kami iseng ikut antrian toko yang ada tamannya. Ternyata itu toko baju yang penjaga tokonya cowok-cowok ganteng yang bertelanjang dada. Sebenarnya gw pengen foto bareng sama salah satu dari mereka, tapi sebagai mahmud abas (mamah muda anak baru satu) kan akyu gengsi.

Udah sampe sana kok si menara Eiffel masih belum ketemu kakinya sih? Udah lapar tapi takut kemahalan kalau beli makanan. Akhirnya kita beraniin beli pastry di toko bakery, yang harga makanannya tergantung berat. Deg-degan gw saking takut kemahalan. Di lain hari, kita beraninya cuma makan kebab aja, biar rada irit.

Setelah jalan 15 menit dari toko bakery itu, ketemu juga deh si kaki menara. Dan Oh My God, ramenyooo...mau naik ke puncak menara pun antriannya puanjang dan luamaa. Jadinya kami berpuas diri untuk foto-foto dari bawah aja.

Kalau liat foto peta di bawah ini, jalan kaki cara orang Eropa makan waktu 44 menit. Nah, kalau cara jalan orang tropis yang tiap sebentar berhenti ya bisa jadi 3 jam aja

Setelah dari menara Eiffel, baru deh kita balik je hotel naik metro. Itu pun pakai acara salah jurusan setelah dari interchange.