Mohon tunggu...
Yuni Cahya Endrawati
Yuni Cahya Endrawati Mohon Tunggu... Dosen - Akademisi

Pemerhati Pendidikan

Selanjutnya

Tutup

Beauty Pilihan

Kiprah Penggiat Ulat Sutra Liar Samia Yang Tak Kenal Lelah

16 Januari 2021   22:59 Diperbarui: 17 Januari 2021   10:10 2271
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Fashion berbahan sutra Samia. Photo: Jamtra

Jika kita berbicara ulat sutra tentunya yang terbayang adalah ulat putih halus dengan kokon putihnya yang kompak dari jenis  Bombyx mori

Bayangan ini tentunya tidak salah karena jenis ulat sutra ini yang pertama dikenal sebagai ulat  sutra budidaya dan produk sutranya  memenuhi lebih dari 90% kebutuhan sutra dunia berdasarkan data dari Inserco (International Sericultural Commission).

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi hingga saat ini telah banyak jenis-jenis ulat sutra lainnya yang berhasil diidentifikasi. Hasil identifikasi peneliti ulat sutra Ye & Hu (1996) telah mendapatkan 5 famili sebagai keluarga dalam ulat sutra.

Jadi dapat kita bayangkan jika dalam 1 famili ada puluhan bahkan ratusan spesies selain jenis Bombyx mori.

Bombyx mori. Photo: koleksi pribadi
Bombyx mori. Photo: koleksi pribadi
Ulat Samia yang Eksotis

Meskipun banyak jenis  ulat sutra di dunia ini, namun hanya beberapa jenis saja yang sudah didomestikasi dan dibudidayakan untuk menghasilkan sutra.

Salah satu spesies yang dikembangkan dan menghasilkan sutra dengan karakteristik yang khas dan eksotis  adalah Samia cynthia ricini yang masuk dalam family Saturniidae. Ulat sutra Samia memang bukanlah asli Indonesia  namun berasal dari India.

Ulat Samia ini sangat berbeda dengan ulat Bombyx jika dilihat dari segi  warna dan juga bentuk kokonnya (kepompong).

Samia memiliki warna yang  lebih bervariasi dengan corak yang sangat beragam. Diketahui ada beberapa variasi warna Samia diantaranya  kuning, toska, biru, abu-abu dan putih dengan corak polos (plain), bintik hitam (spotted) dan zebra. Begitu juga dengan kokonnya yang berwarna warni diantaranya putih, krem dan merah bata.

Variasi ini terjadi karena ulat ini dipelihara ditempat yang berbeda geografi, ketinggian, dan juga jenis pakannya.  Jadi ulat Samia yang dipelihara pada lokasi yang berbeda lingkungan fisik dan biologinya dapat menghasilkan  perbedaan fenotipik nya.

Ragam corak dan pola warna samia. Photo: Koleksi pribadi
Ragam corak dan pola warna samia. Photo: Koleksi pribadi
berbagai corak dan pola warna ulat Samia cynthia ricini. Photo: Koleksi pribadi
berbagai corak dan pola warna ulat Samia cynthia ricini. Photo: Koleksi pribadi
Ulat samia yang akan mengkokon. Phoho: Koleksi pribadi
Ulat samia yang akan mengkokon. Phoho: Koleksi pribadi
Sutra Samia sebelum dipintal. Photo: Koleksi pribadi
Sutra Samia sebelum dipintal. Photo: Koleksi pribadi
Ngengat yang baru menetas dan kulit kokon / pupa (yang berwarna coklat tua). Photo: Koleksi Pribadi
Ngengat yang baru menetas dan kulit kokon / pupa (yang berwarna coklat tua). Photo: Koleksi Pribadi
Pengaturan perkawinan. Photo: Koleksi pribadi
Pengaturan perkawinan. Photo: Koleksi pribadi
Ngengat Samia jantan dan betina sedang kawin. Photo: koleksi pribadi
Ngengat Samia jantan dan betina sedang kawin. Photo: koleksi pribadi
Oleh karenanya variasi warna ulat Samia di Indonesia dan di negara asalnya yaitu India berbeda, begitu juga dengan tingkat produktivitasnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Beauty Selengkapnya
Lihat Beauty Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun