Mohon tunggu...
Yulius Sugiarto
Yulius Sugiarto Mohon Tunggu...

Roland Barthes: "Gila aku tidak bisa, waras aku tidak pantas, bisaku hanya neurotik"\r\n

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Kelas Masyarakat Pasca Kenaikan Harga BBM

19 November 2014   20:14 Diperbarui: 17 Juni 2015   17:23 67 2 2 Mohon Tunggu...

Ini pengamatan subjektif terhadap dinamika sosial yang timbul karena kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM

Kelas masyarakat pasca kenaikan harga BBM

1. Masyarakat bijak:
Merasa kesulitan dengan kenaikan harga BBM. Karena penghasilannya pas-pasan. Tetapi mereka tidak menyerah pada keadaan. Mereka mencari jalan keluar dengan cara berikut:
-Bersiasat dengan berhemat atau lebih pandai. dalam mengelola keuangan. Lebih berprioritas pada kebutuhan daripada keinginan
-Berupaya lebih banyak, supaya berpenghasilan lebih tinggi. Dengan cara menggali potensi diri.
Saya sebut golongan ini, sebagai masyarakat bijak. Mentalnya sudah revolusi, dan lebih berkwalitas


2. Masyarakat Orapopo
Tidak terpengaruh sama sekali. Menanggapinya dengan sikap biasa saja. Mungkin karena golongan ini sudah nyaman dan mapan hidupnya dengan penghasilan cukup. Tidak ada perubahan dari dalam diri yang harus dibenahi. Mereka tidak perlu berhemat dan tidak perlu berpikir keras untuk berpenghasilan lebih. Karena penghasilan yang didapat sangat mencukupi untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan hidupnya

3. Masyarakat teralienasi(ini pusat perhatian pemerintah)
Sekelompok masyarakat yang kesulitan secara ekonomi, baik sebelum ataupun sesudah kenaikan harga BBM. Mereka juga kesulitan untuk mendongkrak potensi yang ada pada dirinya karena berbagai macam keterbatasan.
Pemerintah mensiasatinya dengan beberapa program jaringan pengaman sosial seperti Kartu Sakti (jaminan pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan)
NB: ini yang harus jadi perhatian kita

4. Masyarakat Reaktif
Merasakan kesulitan dengan kenaikan harga BBM.
Padahal Penghasilan sangat cukup
-Tidak rela harus menambahi biaya pengeluarannya demi membeli BBM.
-Tidak rela harus berhemat, karena kalau berhemat, akan mengancam gaya hidup konsumtifnya.
-Berprasangka buruk pada kebijakan. Seolah-olah situasilah yang menyebabkan penderitaan mereka. Dan lebih parah lagi, emosinya meluap-luap tak terkendali dengan menyalahkan pemerintah, Presiden Jokowi yang harus dipersalahkan dan diprotes yang telah mengambil keputusan tidak pro rakyat.
Ada juga yang menyalahkan bapak/ ibunya, kenapa dia dilahirkan di Bumi Indonesia yang penuh kesusahan. Mudah-mudahan mereka tidak menyalahkan Penciptanya.
-Merasa sangat terbebani dengan kenaikan harga BBM, padahal gaya hidupnya konsumtif dan tak jarang mengarah pada hedonisme.

Untuk golongan ini saya bingung, tindakan apa yang pantas buat mereka?
Dikasihani saja dan biarkan melapuk.hehe
Karena kalau dinasehati, cenderung lebih galak dan berkoar-koar. Karena mereka membenci nasihat baik. Maklumi saja

5. Masyarakat Antagonis
Kenaikan harga BBM tidak banyak mempengaruhi hidupnya secara ekonomis dan psikis. Karena hidupnya ada dalam kenyamanan finansial yang lebih dari cukup.
Hanya saja mereka mencoba mengambil keuntungan dari situasi sebagai ajang untuk unjuk kesalahan.
Mereka senang sekali melihat masyarakat kecewa dengan Presiden Pilihannya. Dan ikut memperkeruh suasana dengan berkomentar miring terhadap situasi sulit sekarang. Mereka cuma melihat, menilai dan mencemooh tanpa berniat membantu sesamanya.

(Yang ini kita doakan saja, supaya berhenti berperan antagonis)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x