Mohon tunggu...
Veronica Yuliani
Veronica Yuliani Mohon Tunggu... Guru bahasa yang jatuh cinta dengan cello, panflute, dan violin.

Bercerita tentang hal-hal sederhana yang orang lain belum sempat tuliskan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tips Berbagi Tepat Sasaran Tanpa Kehilangan Rasa Simpati

21 Mei 2020   08:55 Diperbarui: 21 Mei 2020   08:57 71 13 6 Mohon Tunggu...

Berbagi adalah sesuatu yang mulia, tetapi bagaimanakah jika saat berbagi kita justru kehilangan rasa simpati dan empati kepada orang yang kita bantu? Hal ini ternyata benar terjadi kepada beberapa teman saya yang telah melakukan kegiatan berbagi makanan ataupun sembako di masa pendemi ini.

Kita tahu bahwa dampak wabah virus corona ini sangat dahsyat. Semua kalangan tua muda, miskin kaya terdampak virus ini. Oleh karena dampak yang luar biasa ini kemudian munculah gerakan-gerakan untuk menolong dan berbagi makanan atau sembako terutama kepada masyarakat kecil seperti pemulung, ojol, penyapu jalanan.

Seperti kebanyakan orang, beberapa teman saya pun tergerak untuk berbagi kepada para masyarakat kecil yang terdampak corona dengan membagikan makanan di jalanan. Mereka membawa makanan tersebut dengan menggunakan mobil. Awalnya semua berjalan dengan lancar, tetapi lama-kelamaan ada yang orang-orang yang bergerombol dan memasukkan tangannya ke dalam mobil untuk meminta makanan sambil meneriakkan jumlah makanan yang diminta. Bahkan, ada pula yang sengaja menghadang dan menghentikan mobil dengan sepeda motor untuk meminta makanan. Ia bercerita ada juga yang sudah mendapat meminta lagi.

Teman yang lain bercerita, ia mengalami hal yang sama. Ia sengaja memilih membagikan sembako dengan menggunakan sepeda motor. Ia justru menghindari membagi sembako di kerumunan orang. Ia justru memilih para pedagang kecil di jalanan dan langsung pergi setelah membagikannya agar tidak dikerubuti banyak orang.

Kedua teman saya ini mengamati setelah beberapa kali berbagi. Semakin sore 'orang-orang kecil' di jalanan semakin banyak yang seolah sengaja menunggu orang membagikan sembako atau pun makanan. Bahkan ada fenomena menarik di mana dalam satu jalan terdapat tukang sampah berjajar-jajar di sore hari. Pemandangan yang seolah tidak alami, tidak sewajarnya seperti hari-hari sebelum pandemi dan orang ramai-ramai berbagi.

Setelah mendapat berbagai pengalaman dari kejadian saat berbagi teman saya mengaku muncul perasaan risi atau sedikit kehilangan rasa simpati kepada mereka yang bersikap demikian itu. Oleh karena itu, ketika bertemu di sekolah saat piket kami sharing dan bertukar pikiran bagaimana cara berbagi, membantu orang kecil yang terdampak wabah tanpa harus kehilangan rasa simpati.

Kami mulai memikirkan orang-orang terdekat di lingkungan kerja kami yang juga terdampak pemotongan gaji. Beberapa orang di salah satu unit di sekolah kami mengumpulkan dana dan sembako untuk dibagikan kepada seluruh office boy dan office girl atau yang biasa kami sebut koster. Penggalangan dan dan sembako ini bersifat tidak wajib, sukarela siapapun yang tergerak hatinya. Jumlah sumbangan juga tidak ditentukan. Nah, inilah salah satu alternatif cara berbagi yang tak akan mengurangi rasa simpati kita kepada yang kita beri.

Berbagi kepada masyarakat kecil tak harus selalu turun ke jalanan. Kita bisa mulai dari lingkungan sekitar kita, tetangga kita yang berprofesi sebagai penjual yang tak lagi bisa jualan, pemulung, tukang sampah, penyapu jalanan atau juga tetangga kita yang kena PHK. Kita datangi rumahnya kita bagikan makanan atau sembakonya. Bantuan tepat sasaran dan hatipun nyaman.

Tentu tidak di semua tempat orang berlaku seperti yang diceritakan teman saya. Berbagi di jalanan pun tetap baik dilakukan. Ini hanyalah salah satu usulan cara berbagi yang nyaman di hati. Penulis terbuka terhadap kritik dan saran dari para pembaca.

Special thank's to Mr Danny dan Ms Linda buat sharingnya.

VIDEO PILIHAN