Mohon tunggu...
Yudhi Hertanto
Yudhi Hertanto Mohon Tunggu... Penulis - Simple, Cool and Calm just an Ordinary Man

Peminat Komunikasi, Politik dan Manajemen

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Oposisi dalam Rekonsiliasi

17 Februari 2024   17:26 Diperbarui: 19 Februari 2024   14:15 767
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: Fungsi oposisi dalam pemerintahan. (Sumber: kpu.go.id/Humas KPU via kompas.com)

Merangkul! Hal itu menjadi bagian yang dinyatakan dalam pidato kemenangan Prabowo (14/2). 

Pasca pemilu, rangkulan itu akan ditujukan untuk dapat melibatkan semua unsur dan kekuatan, serta menjadikan situasi ini sebagai kemenangan untuk rakyat Indonesia. Heroik, namun kita terbukti perlu memiliki oposisi yang tangguh dan tidak mudah dikendalikan kekuasaan.

Bila berkaca pada hasil Quick Count Kompas (16/2) dengan data masuk 98.05 persen, diketahui bahwa pemenang Pilpres -Pemilihan Presiden, bukanlah pemenang Pileg -Pemilihan Legislatif. 

PDI Perjuangan bertengger sebagai pemuncak dengan 16.26 persen, sementara partai utama pendukung Prabowo yakni Gerindra hanya meraup 14.63 persen saja, dan berada di urutan ketiga secara nasional.

Dengan begitu, jika peta legislatif disinkronkan dengan hasil Pilpres setidaknya akan terbagi menjadi tiga klaster: (i) Koalisi Perubahan -PKB, Nasdem, PKS, (ii) Koalisi Keberlanjutan --Gerindra, Golkar, Demokrat, PAN dan (iii) Koalisi PDI Perjuangan dengan PPP. Perlu dicermati komposisi perolehan suara setiap koalisi.

Dukungan dari partai yang tidak lolos ambang batas parlemen, direduksi dalam kalkulasi, karena praktik kerja politik akan terkonsentrasi pada ruang dewan di parlemen. 

Dimulai dari pemangku eksekutif, pengelola pemerintahan dan kepresidenan, koalisi keberlanjutan terakumulasi menjadi 43.11 persen.

Sedangkan, koalisi PDI Perjuangan plus PPP praktis menghitung suara Banteng, dengan asumsi PPP akan mampu berlayar karena rentang margin error, menjadi sekitar 20.26 persen. 

Pada sisi lain, koalisi perubahan di atas kertas memperoleh komposisi suara sebesar 29.12 persen. Jika pengelompokan koalisi ini berlanjut dalam kancah parlemen, maka dipastikan landscape panggung politik nasional berubah.

Magnet Kekuasaan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun