Yudhi Hertanto
Yudhi Hertanto karyawan swasta

Ketua Yayasan Berkala Widya Husada-www.akperberkala.ac.id

Selanjutnya

Tutup

Sosial Pilihan

Atribusi dalam Stigma pada Komunikasi Teroris

16 Mei 2018   17:21 Diperbarui: 16 Mei 2018   17:34 279 0 0

Mengkhawatirkan! Geliat teroris melalui tindakan terornya, semakin memunculkan ketakutan publik. Tidak berhenti disitu, kini sikap waspada menuju kecurigaan semakin ditunjukan. Problemnya, stigma yang direpresentasikan melalui wajah teroris, memukul semua pihak tanpa terkecuali.

Lalu ramai, sikap tidak bersahabat, ditunjukkan kepada para wanita yang menggunakan cadar. Tidak hanya itu, celana cingkrang diatas mata kaki, berbaju gamis, berjenggot panjang apalagi bila berdahi hitam dengan peci putih haji, adalah simbol-simbol yang identik pada para teroris.

Bila tidak dihentikan, stereotype seperti ini akan semakin menguatkan prasangka publik. Teror adalah sisi gelap yang tidak menempatkan agama sebagai yang utama. Kepercayaan berlebihan kepada kemampuan diri sendiri untuk menyebarkan kengerian, melebihi kepercayaan pada Illahi.

Tapi biarkan itu menjadi urusan sang teroris. Kini stigma telah dilekatkan, lantas para pemilik tanda alias simbol-simbol yang identik tersebut, ikut menanggung "getah" akibat ulah teroris. Sesuatu yang sungguh tidak adil, dan jelas tidak sepantasnya diterima.

Dalam ilmu komunikasi, kita engenal istilah atribusi sebagai bentuk dari upaya parapihak yang berkomunikasi untuk dapat mempersepsikan pihak lain berdasarkan latar pengalaman subyektif yang dimilikinya, tentu tidak salah, tetapi juga bisa jadi tidak tepat.

Paparan informasi berulang tentang ciri-ciri teroris, teramat meresahkan, terutama bagi mereka yang tentu saja bukan teroris. Simbol-simbol milik para teroris, sesungguhnya adalah bentuk penyelewengan dari pemaknaan Islam dan iman.

Pada terori atribusi, kita kerap melihat pihak lain dari faktor internal maupun faktor eksternal yang melingkupinya. Tetapi sifat dasarnya, kita dalam ke-AKU-an yang egois selalu menempatkan orang lain sebagai memiliki muatan pesan negatif.

Maka kemudian konstruksi dari seseorang dengan perlekatan identitas yang simbol-simbolnya serupa dengan teroris, lantas diasumsikan sebagai kelompok teroris. Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Generalisasi seperti ini, tentu tidak tepat, apalagi bila kemudian stereotype itu lantas ditindaklanjuti dengan cara-cara yang tidak menyenangkan.

Problem dari kemungkinan reproduksi citra teroris, dengan perlekatan aksesoris simbolik teroris, tentu merugikan kelompok muslim yang tengah bergairah dalam ketaatan kepada agamanya. Bahwa kemudian ada bahagian kecil yang menyempal dan menyimpang, itu adalah anomali serta tidak dapat ditoleransi bahkan atas nama agama dan kemanusiaan.

Cara terbaik untuk mendeskripsikan teroris bukan pada aksesorisnya, melainkan pemahaman yang ada didalam isi kepalanya. Hal tersebut lebih substansial, untuk dapat menakar apakah seseorang itu teroris atau bukan. Bila aksesoris kesantunan dan ketaatan tersebut, dipakai secara serampangan oleh teroris, kemudian terdegradasi dalam makna, tentu sungguh menyedihkan.

Perlu terdapat upaya untuk menjelaskan ke publik secara sistematik, terkait ideologi terorisme dan identifikasi atas kewaspadaan yang tepat serta benar tentang teroris, diluar aspek simbol ornament maupun aksesoris semata.

Meski hampir sebagian besar mempersetujui, bahwa terorisme tidak bersangkut paut dengan agama tertentu, tetapi bahasa yang tersirat memberi gambaran apa yang tersurat secara lugas. Tatapan sinis dan tajam penuh kecurigaan itu sungguh melelahkan. Semoga berlalu.