Yudha Bantono
Yudha Bantono Dokter

Veterinarian, Art and architecture writer yubantono@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Travel Artikel Utama

Menikmati "Blooming and Fading" Stephan Spicher di Jepang

11 Mei 2019   15:38 Diperbarui: 16 Mei 2019   20:20 180 4 1
Menikmati "Blooming and Fading" Stephan Spicher di Jepang
Stephan Spicher, foto dokpri

Blooming and Fading Stephan Spicher
Mekar dan layu dalam pemaknaan kehidupan

Di  Jepang, hanami adalah tradisi dalam menikmati penampilan bunga Sakura yang telah berusia berabad-abad. Dengan penghormatan terhadap proses pembungaan, orang Jepang merayakan keindahan mekarnya (Blossom) bunga Sakura yang luar biasa.

Tetapi pada saat yang bersamaan mereka juga merenungkan sifat fana mekar di dalam hidupnya sendiri. Sehingga Blossom secara bersamaan adalah sebuah metafora untuk keindahan abadi dan kesementaraan serta sifat fana dari kehidupan.

Salah satu karya Blooming and Fading Stephan Spicher di Noivoi Art Gallery, dokpri
Salah satu karya Blooming and Fading Stephan Spicher di Noivoi Art Gallery, dokpri
April, sebulan yang lalu saya berkesempatan menikmati musim semi di Nagoya Jepang. April adalah bulan yang selalu dinantikan orang Jepang maupun wisatawan untuk melihat mekarnya Sakura.

Kini di awal Bulan Mei atas undangan Noivoi Art Gallery saya berkesempatan kembali mengunjungi Nagoya. Ada yang hilang dalam waktu sebulan dari mekarnya bunga sakura, karena bunga-bunga itu telah lenyap mengikuti siklus kehidupannya dari muncul, mekar, layu dan gugur.

Menghubungkan siklus mekar, layu serta gugurnya bunga Sakura saya dapat menarik atas pemaknaan pameran Stephan Spicher di Noivoi Art Gallery Nagoya kali ini. Rentetan pameran yang diberi judul "Blooming and Fading" sejatinya telah dipamerkan di beberapa negara, termasuk Indonesia di Sangkring Art Gallery Jogjakarta (Blooming 2013).

Eksplorasi berkarya Stephan di Jepang tidaklah mengherankan bila ditarik benang merah dengan perjalanan berkeseniannya yang sama di Bali sebelumnya.

Bagi siapapun yang telah mengikuti perjalanan pelukis Basel Swiss ini, maka akan memahami evolusi karyanya dari seri Eternal Line sampai Blossom. Nampaknya perjalanan Asia Stephan secara konsisten dan berkelanjutan saya kira adalah bagian dari kecintaannya, sekaligus menjadi dialog penting tentang kebudayaan barat dan timur.

Noivoi Art Gallery, dokpri
Noivoi Art Gallery, dokpri
Dalam karya terdahulu "Eternal Line" Stephan membicarakan garis abadi  yaitu sebuah garis yang melampaui batas-batas atau keluar ke ruang yang tak berbatas. Melalui garis Stephan ingin membawa publik untuk memahami sedikit lebih banyak tentang keabadian.

Selama beberapa kunjungan kerja di Asia Tenggara dan khususnya di Bali, serta setelah suatu periode pengamatan dan persepsi intensif terhadap bambu, arsitektur sawah dan struktur bunga, Stephan kian berurusan dengan garis dalam berbagai tanaman.

Hasil selanjutnya  Eternal Line dengan kebutuhan batinnya berhasil ditransformasikan kedalam bambu dan bunga mekar. Saat itu saya menyebutnya sebagai metamorfosis yang sangat menakjubkan.

Bloosom sebagai eksplorasi intelektual dan artistik Stephan telah berkembang di berbagai tingkat atau posisi bentuk. Pertama-tama Bloosom emas mulai berkembang pada latar belakang piktorial yang beratmosfer, dituangkan pada kanvas dan aluminium. Karya-karya ini pernah dipamerkan dalam dua pameran besar di Museum Ludwig, St Petersburg Rusia dan National Library Singapura.

Noivoi Art Gallery, dokpri
Noivoi Art Gallery, dokpri
Dalam suatu langkah yang berikutnya, Stephan dapat menciptakan karya-karya di mana bunga dari medium laquer di atas kertas dan kanvas yang indah menampakkan dirinya. Dan ini yang secara harafiah saya sebut karyanya ingin melepaskan diri dari latar belakang yang lepas dan lebih bebas. Sebagai akibatnya,  Stephan dengan sengaja mulai memisahkan dan mengeluarkan Blossom nya dari konteks piktorialnya sebagai obyek menuju bebas dalam bentuk yang berdiri untuk dirinya sendiri.

Begitulah sesungguhnya Stephan menghadirkan kembali Booming and Fading dalam pameran tunggalnya di Noivoi Art Gallery yang berlangsung pada 3 -19 Mei 2019, Imaji mekar dan layunya bunga memperlihatkan kesungguhannya dalam merespon hakekat kehidupan.

Ada 14 karya dihadirkan dalam medium kertas, kanvas dan aluminium. Karya-karya itu bertutur dalam narasi abstsraksi. Keseluruhan karya saya kira sangatlah penting disaat publik Jepang baru selesai menikmati mekarnya bunga Sakura.

Noivoi Art Gallery, dokpri
Noivoi Art Gallery, dokpri
Namun, dalam konteks mekar dan layu yang berarti kefanaan, ada daya pembaharuan yang telah dihadirkan Stephan. Hal ini dibuktikan dengan warna-warna cerah hadir dalam garis-garis drawingnya.

Mengacu pada karya sebelumnya Eternal Line sebagai suatu gerakan siklis yang tak berujung, segala gejala alam dapat dihubungkan dengan lingkaran kelahiran, perkembangan, kematangan, pembusukan, kematian dan hidup kembali.

Foto dok. Kaori Suzuki
Foto dok. Kaori Suzuki
Pemikiran Stephan melalui karya Blooming and Fading telah menjadi metafora bagi lingkaran kehidupan dan sekaligus sebuah objek dari kreativitas seninya. Karyanya tidak hanya indah, lebih dari itu sangat mengacu pada sebuah kehidupan dengan perubahannya secara terus-menerus.

Blossom hanya hidup selama beberapa saat saja. Musim berbunga adalah nyaris seperti sebuah snapshot dalam proses panjang pertumbuhan dan pembusukan.

Sebuah perenungan yang teramat dalam saya hadir mengunjungi pameran Stephan di musim layu dan gugurnya bunga sakura. Saat kita sedang berada di musim blossom disitulah semestinya paham bahwa musim layu dan gugur telah menunggu.

Yudha Bantono
Noivoi Art Gallery
Nagoya, Jepang 11 Mei 2019