Mohon tunggu...
Yose Revela
Yose Revela Mohon Tunggu... Freelancer - Freelance

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992 yoserevela@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Jerman yang Stagnan

2 Desember 2022   12:55 Diperbarui: 2 Desember 2022   13:01 268
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Jerman, tersingkir dini di Qatar (DW.com)

Bicara soal Timnas Jerman, banyak orang mungkin sepakat, tim ini adalah salah satu tim paling konsisten soal prestasi. 4 gelar Piala Dunia, 3 gelar Piala Eropa, dan sejumlah penampilan di babak akhir kedua turnamen ini menjadi buktinya.

Dari performa mereka jugalah, sebutan "mental turnamen" muncul. Ciri khasnya mirip mesin diesel: lambat panas, tapi sekali panas sulit dihentikan.

Diluar masalah mental, Jerman juga punya sistem pembinaan pelatih dan pemain berkualitas. Ditambah keberadaan kompetisi Bundesliga Jerman yang konsisten berada di peringkat 4 besar koefisien UEFA, rasanya sulit meragukan kualitas Tim Panser.

Dari segi sistem permainan Jerman juga bertransformasi menjadi tim yang enak dilihat. Dari yang awalnya terpaku pada "staying power" menjadi identik dengan "gegenpressing" alias "counter pressing".

Sejarah oke, pembinaan oke, sistem permainan sudah di-upgrade, pembinaan pemain muda juga oke. Seharusnya tidak ada masalah.

Tapi, sejak empat tahun terakhir, level tinggi yang sudah mereka tampilkan justru anjlok ke titik terendah. Dimulai dari kegagalan di fase grup Piala Dunia 2018, nestapa Der Panzer juga berlanjut, saat terdepak dari babak 16 besar Euro 2020.

Menyusul kegagalan ini, pelatih Joachim Loew lalu mundur. Sebagai gantinya, DFB lalu menunjuk Hansi  Flick sebagai pengganti dengan catatan prestasi mentereng: Sixtuple Winners bersama Bayern Munich.

Di bawah komandonya, tiket lolos ke Piala Dunia 2022 memang bisa diamankan dengan relatif mulus. Mereka pun datang ke Qatar sebagai salah satu tim unggulan, dengan nama-nama muda seperti Jamal Musiala dan Kai Havertz berpadu dengan nama senior seperti Thomas Mueller dan Manuel Neuer.

Biasanya, perpaduan seperti ini akan jadi satu kekuatan menarik, karena ada pengalaman dan kecepatan di sana. Tapi, apa yang ditampilkan Thomas Mueller dkk di lapangan malah terlihat kacau.

Di laga perdana melawan Jepang, mereka memang bisa menguasai permainan secara statistik, tapi keuletan dan efektivitas Jepang mampu memaksa mereka takluk 1-2. Tak perlu banyak peluang dan menguasai bola, Jepang mampu membuat permainan agresif Jerman tak berarti.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun