Mohon tunggu...
Yose Revela
Yose Revela Mohon Tunggu... Content Writer

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992 yoserevela@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Mana Ekspresinya?

27 September 2020   20:25 Diperbarui: 27 September 2020   20:29 27 6 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mana Ekspresinya?
Ilustrasi (Imgflip.com)

Judul di atas, adalah pertanyaan yang biasa terlontar, dari mulut seorang sutradara, khususnya jika ada adegan yang penjiwaannya kurang. Tapi, ini juga bisa menjadi pertanyaan aplikatif dalam menulis.

Bagi saya pribadi, pertanyaan ini adalah salah satu kunci, tiap kali membuat tulisan. Tujuannya, jelas bukan untuk lucu-lucuan, tapi menemukan di mana letak ekspresi dalam sebuah tulisan.

Lebih spesifiknya, di mana posisi diri kita, dalam tulisan tersebut. Khususnya, jika tulisan itu menjadi tempat kita menuangkan segala isi hati dan pikiran.

Setiap orang pasti punya cara masing-masing untuk menemukan posisi dirinya dalam tiap tulisan yang dibuat. Sebenarnya, ini bukan hanya sebatas soal perkara teknis, tapi juga soal manfaat menulis dari segi psikologis.

Secara psikologis, menulis bisa jadi media terapi depresi, yang ternyata memang disarankan secara klinis. Kebetulan, manfaat ini saya temukan,  dari penuturan teman lama yang pernah menjalani terapi depresi, dan pengalaman pribadi.

Secara spesifik, saran untuk menjaga kebiasaan, kalau tidak boleh disebut hobi menulis ini, datang dari seorang psikolog, yang pernah saya kunjungi beberapa waktu lalu, dengan sedikit ceritanya saya tuangkan di sini.

Saran ini datang, karena saya sering kesulitan mengekspresikan emosi secara maksimal, akibat kelainan syaraf motorik bawaan yang saya punya sejak lahir.

Alhasil, setiap kali ingin marah, saya kerap menyisakan banyak emosi yang harusnya dikeluarkan. Masalah ini juga sering membuat pikiran dan tubuh saya kadang tidak sinkron, seperti yang sering saya alami semasa sekolah dan kuliah dulu.

Misalnya, saat pikiran sudah selesai memproses soal nomor lima, tangan baru selesai mengerjakan soal nomor empat. Di sini, kadang saya merasa jengkel dengan diri sendiri.

Tapi, rasa jengkel itu pelan-pelan hilang, berkat kebiasaan menulis, terutama jika tulisan tersebut cenderung ekspresif. Ternyata, menulis, khususnya "expressive writing" memang bisa membantu emosi tetap stabil.

Dari sini, saya jadi makin menyadari, menulis memang punya manfaat besar. Bukan hanya untuk memuaskan keinginan pribadi, tapi juga untuk berbagi dengan sesama.

Tapi, untuk membuat manfaat itu jadi nyata, kita perlu memastikan, ada ekspresi diri kita di sana, yang akan menentukan seperti apa wajah tulisan tersebut.

Ini penting, supaya kita bisa membangun ciri khas, yang menjadi penanda keaslian sebuah tulisan. Setiap kata dalam sebuah tulisan memang bisa diplagiat mentah-mentah, tapi tidak dengan ciri khas tulisan dan karakter penulisnya.

VIDEO PILIHAN