Yose Revela
Yose Revela Buruh

YNWA. Wonosobo, 14 Juli 1992 yoserevela@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Artikel Utama

Menanti Akhir Sebuah Drama

16 April 2019   22:25 Diperbarui: 17 April 2019   08:38 271 5 5
Menanti Akhir Sebuah Drama
Ilustrasi: Tribun Jabar

Drama. Itulah kata yang kiranya tepat, untuk menggambarkan bagaimana jalannya proses politik, yang sejauh ini sudah kita jalani bersama sebagai sebuah bangsa, dengan pemilu serentak, Rabu, (17/4) sebagai klimaksnya. Jika membaca judul di atas, mungkin sebagian dari kita akan menganggap, judul tulisan ini terkesan "lebay" atau berlebihan.

Tapi, kata "drama" menjadi satu kesimpulan sederhana dari saya, terkait proses berdemokrasi yang sejauh ini berjalan. Karena, proses berdemokrasi ini terbukti mampu menyentuh berbagai aspek kehidupan.

Mulai dari dunia politik nasional sampai urusan pertemanan secara personal, baik di dunia maya maupun nyata. Bahkan, ada juga yang sampai membawa-bawa unsur SARA, yang sebenarnya tak layak untuk dilibatkan.

Rasa khas sebuah drama pun terasa begitu kental, karena ada begitu banyak kejadian sederhana dan hoaks yang didramatisasi, dan langsung menjadi viral di media sosial, akibat hebatnya efek reaksi berantai sebagian warganet kita. Seperti diketahui, sebagian warganet kita masih  gemar bersikap reaktif, bahkan terhadap informasi yang jelas-jelas tidak benar.

Alhasil, akhir-akhir ini kita tentu banyak melihat (dan merasakan) betapa riuhnya suasana jelang pemilu, karena ada begitu banyak drama yang mengiringinya.

Andai drama-drama ini dijadikan sinetron, pasti akan mencapai puluhan ribu episode. Boleh dibilang, pada pemilu kali ini, "demokrasi" berubah sejenak menjadi "dramakrasi", karena ada begitu banyak drama di dalamnya.

Sayangnya, keriuhan ini justru membuat Pemilu kali ini terasa agak kurang berbobot. Karena, alih-alih riuh beradu program, Pemilu kali ini lebih banyak diwarnai dengan hoaks atau pemelintiran fakta, yang diikuti oleh klarifikasi, bantahan, atau permintaan maaf dari pihak terkait.

Padahal, rakyat berhak (dan harus) tahu, program-program kerja apa saja yang akan dijalankan para kandidat, andai mereka terpilih.

Dari sinilah kita semua akan mengetahui, apa saja yang nantinya akan dikerjakan sang pemimpin terpilih. Tapi, semua kegaduhan yang ada sukses membuat satu hal penting dari pemilu terabaikan, bahkan cenderung terlupakan.

Di sinilah, nilai minus pemilu kali ini tampak. Boleh dibilang, pemilu kali ini secara ironis kehilangan salah satu fungsi pentingnya, karena hal-hal yang sejatinya tak penting justru sangat diperhatikan. Andai kita semua bisa berkepala dingin sejak awal, Pemilu kali ini pasti akan sangat berkualitas.

Parahnya, panggung drama raksasa berjudul "Pemilu 2019" ini juga terbukti sukses membuat polarisasi di masyarakat. Akibat perbedaan pendapat, atau perbedaan figur capres jagoan yang didukung, ada banyak hubungan pertemanan atau kekeluargaan yang putus, atau minimal renggang. Alhasil, pemilu kali ini secara ironis "sukses" mengingkari salah satu fungsi dasarnya, yakni sebagai (salah satu) alat pemersatu bangsa.

Melihat banyaknya drama dan ironi yang menyertainya, terlihat jelas bahwa pemilu kali ini mampu menciptakan daya rusak cukup kuat secara sosial.

Siapapun yang terpilih, nantinya ia akan punya tugas cukup berat untuk bisa segera memulihkan kembali segala kerusakan sosial yang ada.

Tapi, ia tetap harus melibatkan seluruh elemen bangsa untuk mewujudkannya. Karena, sehebat apapun seorang pemimpin, ia tak akan bisa mengerjakan semua sendirian.

Selebihnya, mari kita bersiap melihat betapa banyaknya rasa canggung yang akan muncul, dan mewarnai negeri ini untuk sementara. Khususnya, setelah drama pemilu kali ini berakhir.

Tentunya, kita semua berharap, setelah drama ini selesai, situasi dapat segera kembali kondusif seperti semula. Yang terpilih tak jumawa, dan yang tak terpilih mau legawa. Karena, dalam demokrasi, rakyatlah sang pemenang sejati.